15 - Lanjut

2225 Kata
  Aku sudah  jadi anak semester akhir sekarang, mulai mikir sih kedepannya ini akan seperti apa. Sekitar setahun yang lalu sih aku pernah mengirim demo dan beberapa proposal ke beberapa universitas di luar negeri, iseng-iseng kali aja dapet beasiswa buat lanjutin kuliah. Tapi sampai sekarang ga ada respon. Aku yang sekarang dibuat pusing sama tugas kuliah, malah makin pusing kalo kepikiran masa depan. Asli aku masih belum ada pikiran. “Kenapa ga dimakan, Yaang? Gak enak apa udah  kenyang?” Tanya Anida, kami sekarang lagi ada di kantin. Kebetulan aku ada kelas kosong, jadi bisa nyempetin makan bareng. Akhir-akhir ini aku sibuk, dia juga sibuk. “Gak apa-apa ko, aku nanti malem balik ya?” Kataku. “Gak mau besok aja?” Tanyanya. Gak enak sih sebenernya, aku kasian sama Anida yang sendirian terus di rumah, pengen nemenin, tapi aku juga kangen sama keluargaku. “Malem ini deh, gak apa-apa?” Tanyaku. “Iya gak apa-apa, tapi abisin makanannya.” Katanya dan aku mengangguk. Mulai menyuap kembali makanan yang ada di piringku. Aku baru sadar kalo aku makannya lama banget kali ini, Anida aja udah  kosong piringnya. Setelah selesai makan, aku mengantar Andia pulang ke rumahnya. “Mampir dulu ga?” Tanyanya. “Boleh deh, bentar aja tapi ya? Kalo telat dikit kena macet aku di jalan.” Kataku. “Iya gak apa-apa, aku tadi pagi bikin nutrijell, kamu mau?” Tanyanya. “Mauu!” Seruku, asli pacaran sama Anida kayanya aku gendutan deh. Makan mulu. Kami turun dari mobil, masuk ke pekarangan rumahnya yang luas, lalu seperti biasa, aku duduk menunggu di ruang tamu. Jujur, aku udah  sering kesini tapi gak pernah sekalipun ketemu orang tuanya, ga ngerti sesibuk apa mereka sampai gak pernah ada di rumah. Padahal sebelumnya menurutku Ayah adalah orang paling sibuk sedunia, ternyata ada yang lebih parah. “Nih, rasa leci.” Kata Anida memberikan mangkuk plastik yang udah  ada jelly beku di dalamnya. “Makasih.” Kataku, ia duduk di sampingku sambil mengangguk. “Gak apa-apa kan aku tinggal?” Tanyaku. “Iya gak apa-apa, kan senin udah  ketemu lagi.” Katanya. Aku mengangguk, mulai menyuap jelly buatan Anida ini. Yaa enak, manisnya pas kalo menurutku dan ga terlalu padet. Pas lah konsistensi liquid-nya. Eh liquid bukan sihh? Entar deh aku tanya Mama yang paham jenis-jenis cairan hahaha! “Sepi banget Da? ART kamu pada ke mana?” Tanyaku sambil menyuapkan sepotong jelly padanya. “Hudah  puwaang.” Jawabnya sambil mengunyah. Dia lucu kalo gitu, asli. “Kunyah dulu Nid, baru ngomong.” Kataku dan dia tersenyum. Bergantian, sekali suap untukku sekali kusuapi Anida, begitu terus sampai jelly-nya habis. “Pulang banget nih abis makan?” Tanyanya. “Terus mau apa?” Tanyaku. Anida tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya padaku. Selanjutnya bibirnya udah  menempel di bibirku, aku mencecap bibirnya, rasa leci masih menempel di bibirnya, langsung saja aku melumatnya, seperti biasa saat kita berciuman. Anida menarik diri terlebih dahulu, meninggalkan aku dengan perasaan yang ingin lebih. Aku normal, aku punya hormon testosteron di dalam tubuhku. Tapi lagi-lagi kutahan, aku gak mau berakhir seperti Gega. Aku selalu inget omongan dia yang bilang 'pikir ribuan kali sebelum mau ngelakuin hal yang sifatnya permanen' yaak aku selalu terngiang-ngiang kalimat itu saat sifat yang amat sangat manusiawi itu menjajah tubuhku. “Aku balik ya?” Kataku, daripada diterusin terus gabaik, mending pulang. “Yaudah , hati-hati ya? Kabarin kalo udah sampai Bogor.” Katanya dan aku mengangguk. Anida mengantarku sampai depan. Aku naik ke mobilku, menurunkan kacanya agar masih melihat wajahnya yang manis itu. “Sini deh.” Kataku memintanya mendekat. Anida mendekat kepadaku, ia berdiri persis di balik pintu. Kurengkuh wajahnya dengan kedua tanganku yang terulur dari jendela. Aku mengecup keningnya sekali, lalu turun ke hidungnya, ku kecup juga hidungnya sekali. Lalu terakhir bibirnya, ku kecup bibir pink itu dua kali. Yaa, gacukup kalo cuma sekali. “I love you, stay safe!” Kataku. “I know, kamu sana yang hati-hati.” Katanya. “Kunci rumahnya, kamu sendirian gitu. Orang rumah kamu punya kunci kan?” Tanyaku dan ia mengangguk. “Yaudah , aku pergi langsung kunci yaa rumahnya? Jangan denger lagu kenceng-kenceng, nanti ga kedengeran kalo ada yang masuk.” “Siap Pa Boss! Udah  sana hati-hati.” Aku tersenyum padanya, mengecup bibirnya sekali lagi, baru memundurkan mobilku. “Kabarin!” Serunya sambil melambai. Aku mengangguk lalu menjalankan mobilku, siap menerjang kemacetan ibu kota. ** Aku mengambil ponselku ketika memasuki gerbang Bogor Raya, menelfon Anida, ia langsung menjawabnya di nada tunggu pertama. “Udah sampai?” Tanyanya. “Baru masuk komplek, kamu masih sendiri di rumah?” “Masih, tadi Papa nelfon katanya masih ada kerjaan maleman baru pulang.” “Malemannya kapan? Ini udah  malem Nid, kamu gak apa-apa?” Tanyaku. Agak khawatir juga karena biasanya kalo orang tuanya gak pulang Anida biasa menginap di paviliunku. Biar lebih aman gitu. “Gak apa-apa Yaang, aku udah  biasa kok, dari dulu.” Jawabnya. “Kamu udah  biasa, aku engga. Kamu yang sendirian aku yang takut.” “Dont, I'm okay.” Katanya. “Aku sampai nih di rumah, bentar yaa buka gerbang dulu, nanti aku telfon lagi.” Kataku saat aku udah  sampai di depan rumah. “Yeah, bye. I love you Aga.” “Yeah me too, Nid.” Lalu aku mematikan sambungan telepon, segera turun untuk membika pagar rumah. Setelah menutup pagar lagi, aku masuk lewat pintu samping. Ini udah  pukul 9 malam, tapi lampu ruang keluarga bawah masih menyala. “Hello!” Seruku. Ya ampun kangen banget, padahal minggu lalu aku pulang loh. “Ga-ga-ga!” Seru Tata dalam gendongan Adam, tangannya terulur padaku. “Kakak belum cuci tangan sayang, nanti Ka Aga gendong yaa.” Kataku sambil tersenyum padanya, entah dia mengerti atau tidak. “Ko gak bilang mau pulang Kak?” Tanya Mama. “Pengen aja.” Kataku. Aku menghampiri Mama, mengecup punggung tangannya dan bergantian setelah itu mencium tangan Ayah. “Cuci muka sana Kak, abis itu turun kesini.” Kata Ayah. Aku mengangguk. Segera aku berlari ke atas, ke kamarku, bergegas untuk membersihkan diri dari debu-debu ibu kota yang menjadi satu dengan kulit ari. Aku kembali turun, semuanya masih kumpul dengan TV menyala meskipun volumenya kecil sekali. “Sini!” Aku mengelurkan tanganku ke Tata. “Ga-ga-ga!” Seru Tata sambil menepuk-nepuk pipiku. “Nana tidur Ma?” Tanyaku sambil duduk di sebelah Ayah. “Iyaa kak, Nana sama Tata lagi gak enak badan nih, abis imunisasi. Tata rewel belum mau tidur, tau kali kamu mau pulang jadi belum bobo.” Jawab Mama. Yaa, bisa kurasakan tubuh Tata agak sedikit hangat. Aku mengubah posisi gendonganku, jadi menimang anak kecil yang baru berumur setahun lebih sedikit ini. “Nah tuh Tata merem, keep doing that Kak.” Kata Adam. Aku mengayunkan tanganku pelan ke kiri dan kanan. “Kangen dia kayanya sama Kakaknya, mangkanya mau tidur pas kamu gendong.” Kata Ayah. “Terus kalo kakak ga pulang gimana?” Tanyaku dengan suara seperti bisikan. “Ayah susulin ke Jakarta, cuma buat ngelonin Tata.” Jawab Ayah, aku tertawa pelan mendengar itu. “Iye, biar Kakak ga ngelonin Ka Nida mulu.” Ceplos Adam. What the hell? Kayanya keluargaku ga ada yang tau kalo Nida suka nginep di paviliun. Adam kacau juga. “Kamu jangan bikin Kakak terinspirasi buat ngelakuin itu Dam.” Sahut Ayah. Sedikit lega karena Ayah menganggapnya becanda. Bukan betulan seperti yang terjadi sebenarnya. Huhhh! “Ayah besok kosong ga?” Tanyaku. “Iyaa, kenapa?” Tanya Ayah. “Gak apa-apa.” Aku kembali menimang Tata, ia sepertinya udah  cukup pulas tidurnya. “Ma? Taro jangan nih?” Tanyaku. Mama mengangguk, pelan-pelan aku berdiri. Lalu naik ke lantai dua, Mama ikut bersamaku. Mama membukakan pintu kamarnya, lalu aku menuju box bayi ukuran jumbo untuk Tata dan Nana. “Kak? Jangan macem-macem ya?” Kata Mama saat aku meletakkan Tata. “Maksudnya?” Tanyaku. “Kamu ngerti maksud Mama, kamu udah  gede. Boleh pacaran, boleh nakal, tapi tau batesan ya Nak?” Kata Mama. Aku mengangguk, mengerti apa maksudnya. “Mama percaya kamu bakal bijak sama diri kamu sendiri.” Kata Mama, kami berjalan keluar kamar. “Iya Ma, Aga tau batesan kok.” Kataku. “Mama tau kamu kok, Mama percaya sama kamu.” Kata Mama, kami berjalan turun ke bawah, Mama merangkul pundakku sambil sesekali mengusap rambutku. “Tenang Ma, Aga gak bakal macem-macem kok.” Kataku dan Mama mengangguk. “I trust you Son.” “Thank you.” Kami udah  kembali, melihat Adam dan Ayah lagi main kartu remi. “Main apaan ini?” Tanya Mama. “Poker Ma.” Jawab Ayah. Busetdah, apa banget Ayah sama Adam main poker 2an. Kalo mau duaan mah mending maen catur. “Ngajarin anaknya main kartu, kamu gimana sih?” Omel Mama pada Ayah. “Dari pada diajarin sama orang hayo? Apalagi satpam komplek. Mending main sama aku, biar Adam jago.” “Iya, Ma.” Sahut Adam. “Udah  pada tidur gih, ayok.” Seru Mama. “Belum jam 11 Ma, besok kan libur.” Sahut Adam. Udah lah, gak bakal menang kadang lawan Adam. Ini anak jago debat banget. Ga ngerti lagi lah. Kalopun bisa menang lawan Adam, kebanyakan kami mengalah karena menyerah dengan gagasan gila yang ada di kepalanya. “Ma ada cemilan ga?” Tanyaku, iyaa aku udah  laper lagi. “Di kulkas ada brownies tuh, dingin tapi gak apa-apa?” Jawab Mama. Aku hanya mengangguk lalu berjalan ke kulkas. Gak apa-apa lah, yang penting bisa dicemil. ** Pagi ini aku terbangun berada di sofa. Ga di kostan, ga di rumah. Tetep yee tidur di sofa. Saat aku bangkit, aku melihat Adam juga tidur di sofa di seberangku. Di meja tengan bekas uno dan keripik masih tergeletak di meja. Aku bangkit dari sofa, sedikit berlari menuju kamarku. Kuambil ponselku yang semalam kuletakan di atas kasur saat telah selesai menelfon Anida, mengecek notifikasi, tidak ada notifikasi apa-apa, ku telefon Anida. Setelah memastikan kalau Anida baik-baik saja, aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pagi ini suasana dapur ramai seperti yang selalu ku ingat. Tata dan Nana udah  duduk di highchair mereka, Adam berdiri sambil godain mereka, Ayah di samping lagi berenang dan Mama sibuk masak. Aku menghampiri Mama, berniat membantu Mama masak. “Eh Kak? Udah  mandi?” Tanya Mama saat aku berdiri di sampingnya. Aku mengangguk. “Sini Ma, Aga yang bikin pancake-nya aja.” “Serius bisa?” Tanya Mama, aku mengangguk yakin. Aku udah  sering bantuin Anida masak, tau lah dikit-dikit gimana caranya masak. Jadi yaa gini doang sih kecil. Aku menuang adonan ke dalam pan, menyebarkannya supaya tipisnya rata, menunggu sebentar sampai permukaan bawah kering, baru ku balik agar kedua sisi sama keringnya. “Belajar masak di mana kamu?” Tanga Mama. “Sama Nida Ma.” Jawabku. “Kali-kali ajak kesini kak cewenya,” “Kan dulu pernah Ma.” “Dulu kan belum jadi pacar, sekarang kan udah . Main-main bilang dia di Bogor, jangan cuma jakarta mulu.” Kata Mama. Aku mengangguk. Sesiangan, aku mengisi waktu luang dengan melukis, gambar Tata sama Nana yang lagi asik main di matras mereka. Aku ga di samping kolam kali ini gambarnya. “Mama mana Kak?” Tanya Ayah, ikut gabung dengan Tata dan Nana di matras. “Katanya keluar sebentar, sama Adam.” Jawabku. Ayah hanya mengangguk. “Ayah, kakak mau tanya dong.” Kataku. “Ya nanya aja Kak.” Aku berfikir sejenak, kemudian mengutarakan semua yang berkecamuk di kepalaku akhir-akhir ini. “Kalo Kakak lulus, jadi apa ya?” Tanyaku. “Ya jadi seniman, kamu maunya jadi apaan Kak?” “Ada beberapa orchestra yang minta kakak main bareng, gabung gitu setelah liat video demo aku di yutup.” Jelasku. “Indonesia?” Tanya Ayah. “Dua Indonesia, satu Singapore.” Jawabku. “Terserah kamu Kak. Kalo kamu mau kuliah lagi juga gak apa-apa ayah sih.” Aku pengen kuliah lagi, tapi gak mau bayar. Maunya beasiswa, biar ayah gak usah cape-cape keluar duit. “Liat nanti deh yaa Yah? Gak apa-apa kan?” “Ya gak apa-apa. Terserah kamu, malah kalo ayah saranin beres kuliah nganggur dulu setahun, atau 6 bulan deh, biar ilangin tuh semua jenuh perkuliahan. Dulu Ayah pengen kaya gitu tapi gak bisa,” Aku mengangguk. Aku masih belum tahu, serius gak tahu aku harus seperti apa nanti dan bagaimana. Cari kerja buat gabung di orchestra sih iya gampang, enak ketemu banyak orang, enak juga di bayar. Tapi aku merasa kalau itu bukan diriku. Aku pengin ngelakuin hal lain gitu, bukan cuma melakukan kegiatan yang itu-itu terus. “Yaudah  deh Yah, nanti kakak pikirin lagi.” Kataku. “Iya Kak, santai aja. Masih muda juga sih, banyakin piknik hehehe.” Aku menyudah i kegiatan melukisku. Gambar Tata dan Nana memang belum selesai, nanti aja lah ku selesaiin. Aku bergabung dengan Ayah main bersama Tata dan Nana. Sedang asik bermain, ponselku bergetar. Anida calling... “Hallo?” Aku langsung menjawab panggilannya. “Ini Bhagas ya?” Aku agak kaget mendengar suara orang lain. “Ya, kenapa? Ini siapa?” Tanyaku. “Saya perawat rumah sakit RS PI, Mbak ini kecelakaan ,sekarang ada di UGD, emergency calls-nya nomor Mas Bhagas ini.” Jelasnya. Jantungku langsung berdetak gak karuan. Anida kenapa? Dia ke mana emang sampai kecelakaan segala. “Mas Bhagas?” “Eh iya Mbak, saya ke sana sekarang. Ditemenin dulu yaaa.” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN