Sebenarnya, aku tidak terlalu menganggap serius ucapan Ken malam itu. Karena aku kira dia hanya bercanda saja seperti biasanya. Lagi pula, saat itu aku dalam kondisi yang memang tidak mau memikirkan sebuah hubungan serius lagi. Aku masih trauma dengan pernikahan sebelumnya. Aku masih ingin sendiri dan memfokuskan diri pada apa yang lebih penting saat itu. Anakku yang paling utama. Karena dia adalah satu-satunya hal yang berharga yang masih aku miliki. Nomor duanya ialah perusahaan Papi, yang masih harus ku coba selamatkan. Jadi, aku hanya menganggap ucapan Ken itu seperti angin lalu. Atau ... sebut saja hanya sebagai penghibur dan penyemangat. Lebih dari itu, aku sendiri sadar siapa aku? Sekarang aku janda beranak satu. Tentu saja, statusku itu membuatku insecure jika harus mendampingi se

