STC - 4

998 Kata
Aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang, dengan susah payah aku berusaha turun dari ranjang sambil menahan sakit di pangkal paha. Sudah kali ketiga Mas Athar melakukannya tapi aku masih merasa sakit, apa mungkin karena tak ada pemanasan sama sekali? Selain itu, Mas Athar menyentuhku hanya untuk memberikan benihnya, bukan untuk memadu kasih. Ketika ingin ke kamar mandi, aku dikejutkan dengan kehadiran Mas Athar yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Mas bermalam di sini?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku. Tadi malam Mas Athar memang tidak langsung pergi seperti sebelumnya tapi dia juga tidak memelukku seperti harapanku. Setelah selesai melayaninya, aku langsung memunggunginya dan tak bergerak sama sekali hingga jatuh tertidur. Alih-alih menjawab pertanyaanku, Mas Athar justru melewatiku. Dia mengambil sejadah, menghamparkannya lalu melaksanakan salat tanpa mengajakku. Ah, aku memang belum mandi tapi tidak bisakah dia menawarkan diri untuk menungguku? Bukankah sudah seharusnya seorang suami mengajak istrinya salat berjemaah? Sambil menggelengkan kepala guna mengusir pikiran yang dipenuhi harapan, aku segera ke kamar mandi. Namun, aku penasaran, mengapa Mas Athar tak pulang pada istri pertamanya? ***** "Pagi, Nyonya." Ita menyapa dengan senyum ramahnya seperti biasa. "Mau dibuatkan teh atau kopi?" "Nggak usah, Ta," tolakku. "Oh ya, kalian masak apa? Aku bantu ya." "Jangan, Nya. Nanti Nyonya kena pisau, kena minyak panas, bahaya!" Aku meringis mendengar apa yang Ita katakan. Selalu seperti ini, mereka memperlakukanku bak tuan putri yang tak boleh kotor, lelah apalagi terluka. Padahal sebelumnya aku adalah gadis pejuang yang tak takut pada apa pun demi bertahan hidup. Bahkan aku tak takut menjadi istri kedua demi uang sebesar 200 juta untuk menyelamatkan hidup Bu Fatma. "Oh ya, Mama sama Papa sudah bangun?" tanyaku karena tadi tak melihat ayah mertuaku, padahal biasanya pagi-pagi seperti ini dia akan minum teh sambil membaca koran di halaman depan. "Loh, Nyonya besar sama Tuan pergi keluar kota, Nya. Tadi habis subuh karena pesawatnya jam setengah tujuh." Aku terkejut mendengar sekaligus sedih mendengar jawaban Ita. Mama dan Papa tidak memberi tahuku apa pun padahal aku juga anggota keluarga dan tinggal bersama mereka, itu mengingatkanku pada Mas Athar. Pria itu juga tak pernah memberi tahu apa pun padaku, bahkan aku tahu dari Mama kalau beberapa hari ini dia pergi keluar kota. Aku kembali ke kamar dengan tak semangat, entah mengapa aku merasa hampa saat tahu mertuaku pergi keluar kota. "Ganti bajumu!" "Hah?" Aku mengangkat alis mendengar titah tegas Mas Athar yang kehadirannya hampir tak kusadari. Saking seringnya tiada, aku sampai lupa bahwa sekarang dia ada di sini. "Cepat!" Dia kembali memerintah dengan nada yang lebih tegas membuat nyaliku menciut. "Memangnya mau ke mana, Mas?" tanyaku sembari bergegas mencari baju ganti. "Dokter." "Mas Athar sakit?" Aku menatapnya dengan cemas tapi pria itu justru membalasnya dengan tatapan dingin menusuk. Aku segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian meski tak tahu apa alasannya mengajakku ke dokter. "Nggak sarapan dulu, Mas?" tanyaku yang kini sudah siap.Bukannya menjawab pertanyaanku, Mas Athar menyambar ponsel, dompet dan kunci mobilnya dari atas nakas lalu berlalu keluar dari kamar. "Apa susahnya jawab pertanyaanku. Dasar suami es balok." Aku menggerutu seraya mengambil tas dan ponsel. Aku setengah berlari mengejar Mas Athar yang sudah masuk ke mobil. Masih penasaran dan ingin bertanya akan pergi ke dokter mana dan kenapa, tetapi melihat raut wajahnya yang seperti es balok memaksaku menelan rasa penasaran itu sendirian. "Mas Athar sakit atau mau menjenguk orang sakit?" tanyaku ketika mobil berhenti di depan rumah sakit. Seperti orang bisu, Mas Athar menghiraukan pertanyaanku. Alhasil, aku hanya bisa mengekorinya berjalan di lorong rumah sakit. "Tuan Athar, selamat datang." Seorang suster menyambut kedatangan kami. "dr. Erma sudah menunggu, mari." Aku terkejut mendengar nama dr. Erma disebut karena dia adalah dokter yang memeriksa kesuburanku sebelum menikah dengan Mas Athar dan katanya dia sahabat ibu mertuaku. Yeah, aku melakukan pemeriksaan secara keseluruhan sebelum dinikahi oleh pria ini, memastikan aku tak mandul, sehat secara jasmani dan rohani. Aku sangat disiapkan untuk mengandung benihnya. "Kita bertemu lagi, Zyana." dr. Erma mengulurkan tangannya padaku yang kusambut diiringi senyum ramah. "Jadi, apa ada tanda-tanda kehamilan?" tanyanya yang membuatku melongo. "Tidak, makanya aku bawa dia ke sini," ujar Mas Athar dengan suara beratnya. Aku hanya bisa tersenyum getir mengetahui Mas Athar membawaku ke sini hanya untuk itu. "Kami melakukannya baru tiga kali, Dok!" seruku dengan tegas menahan malu. "Dalam dua minggu ini." Aku menambahkan sambil membuang muka. Mana mungkin aku bisa hamil dalam waktu dua minggu? dr. Erma tak bersuara begitu juga Mas Athar. Suasana ruangan menjadi hening dan bagiku ini terasa mencekam. "Bisa lakukan pemeriksaan lagi?" Aku langsung menoleh mendengar apa yang Mas Athar minta. "Aku harus memastikan sekali lagi dia bisa hamil atau tidak." "Mas?" desisku. "Baru tiga kali itu pun dalam dua minggu dan kamu mau dia hamil sekarang?" dr. Erma terkekeh seakan mengejek Mas Athar. "Ada yang hamil padahal baru sekali melakukannya," tandas Mas Athar yang justru membuatku kesal. "Benar, apalagi kalau yang melakukannya pasangan sebelum menikah. Sekali tembak langsung jadi." Entah hanya perasaanku atau tidak, tapi kulihat dr. Erma seperti kesal juga pada Mas Athar. "Begini saja, lakukan tiga sampai empat kali dalam seminggu terutama saat masa subur. Jangan lupa konsumsi makanan yang sehat, bergizi dan pastikan kalian tidak stres. Lakukan setidaknya dalam dua atau tiga bulan setelah itu silakan kembali ke sini jika belum hamil." "Tante_" "Athar!" dr. Erma menyela. "Pulang sekarang, habiskan waktu bersama Zyana atau pergilah berbulan madu." Mas Athar mengembuskan napas berat. "Setidaknya berikan vitamin supaya dia lebih subur dan cepat hamil," pintanya. Dia ... dia ... dia. Jika diingat-ingat lagi, Mas Athar hampir tak pernah menyebutkan namaku seolah dia alergi pada namaku. "Lakukan yang kusarankan tadi!" tegas dr. Erma. Mas Athar berdecak kesal sembari beranjak dari tempat duduknya, ia melenggang pergi begitu saja tanpa memedulikanku atau dr. Erma. "Kami permisi, Dok," ucapku seraya mengurai senyum kikuk. "Kamu yang sabar ya, Zy." dr. Erma menggenggam tanganku. "Kadang-kadang Athar menyebalkan tapi sebenarnya dia baik kok, Tante kenal dia dari bayi." Aku tersenyum simpul menanggapi ucapannya, tetapi senyumku musnah ketika Mas Athar berseru dari luar ruangan. “Mau menginap di sana, huh?” ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN