STC - 5

1073 Kata
Tiga sampai empat kali dalam seminggu jika ingin cepat hamil, saran dr. Erma terus terngiang-terngiang dalam benakku bahkan membuatku tak bisa tidur. Bagaimana bisa aku dan Mas Athar berhubungan suami istri se-intens itu? Malam ini aku kembali sendirian dan kali ini aku merasa kesepian karena mertuaku tak ada. Di saat seperti ini aku merindukan panti, aku rindu Ibu Fatma dan anak-anak yang lain. Keesokan harinya aku bangun sedikit terlambat karena malamnya tak bisa tidur, aku sungguh tak semangat memulai hariku hingga aku mendapatkan telepon dari Ibu Fatma yang memberi tahu bahwa dokter sudah memperbolehkan dia pulang. Semangatku kembali berkobar, segera aku bersiap untuk ke rumah sakit. "Nyonya bahagia sekali kelihatannya," ucap Ita saat aku sedang sarapan. "Iya, Ta. Ibu sudah boleh keluar dari rumah sakit, habis ini aku mau ke sana," tuturku dengan semangat. "Nggak aku izinin." Semangatku langsung layu kala suara bass itu menggelegar di telingaku. Kuangkat wajahku hingga tatapanku bertemu dengan tatapan dingin Mas Athar. "Kamu lupa perjanjian sebelum menikah? Kamu tidak akan melakukan apa pun tanpa izinku." Aku menelan ludah dengan susah payah, memang benar Mas Athar pernah memintaku berjanji agar tak melakukan apa pun tanpa izinnya. Ah, tanpa perjanjian pun aku tahu seharusnya seorang istri tak boleh melakukan sesuatu tanpa izin suami. "Aku sudah lama nggak ketemu Ibu, Mas. Aku ingin melihatnya sebentar saja," bujukku tapi Mas Athar berlalu begitu saja. Aku hanya bisa mendesah lesu, hidupku bagai boneka di tangan Mas Athar sekarang. Selera makanku hilang seketika. "Bujuk aja, Nya," usul Ita setengah berbisik. Aku juga mau membujuknya tapi sepertinya Mas Athar tidak akan peduli bahkan meski aku menangis di hadapannya. "Nggak ada salahnya dicoba," rayu Ita seakan tahu apa yang tengah kupikirkan. Dia benar, tidak ada salahnya dicoba. Aku berlari kecil ke kamarku yang terletak di lantai dua, rasanya mendebarkan saat membuka pintu tapi ternyata Mas Athar sedang di kamar mandi. Aku menunggu dengan sabar hingga tak lama kemudian pria itu keluar dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. "Mas, aku .... aku minta izin untuk menjenguk Ibu, ya," pintaku penuh harap. Namun, Mas Athar hanya melirikku sekilas sebelum akhirnya dia membuka lemari dan mengambil selembar kaus dan celana boxer. Apa dia tidak akan pergi bekerja? "Aku udah lama nggak ketemu Ibu, Mas. Aku kangen banget." Tak menyerah, kucoba menyentuh hatinya dengan rengekanku. "Meskipun bukan ibu kandung, bagiku Bu Fatma tetaplah ibuku. Aku ingin tahu keadaannya. Aku juga rindu panti." Aku memelas tapi suami es balokku ini masih bergeming. Setelah berpakain, dia justru menyalakan laptopnya. Aku mengembuskan napas kasar, menyerah. Es balok ini tidak akan pernah cair meski dijemur di bawah terik matahari. Aku hendak keluar kamar sambil menghentakkan kaki. "Ayo." Pupil mataku melebar mendengar ucapannya, segera aku berbalik badan dan kulihat Mas Athar mengambil celana panjang dan jaketnya. Apa dia akan ikut? "Mas Athar mau ikut?" tanyaku. Dia hanya mengangguk dengan ekspresi wajah yang masih datar seperti papan. "Ayo!" Aku berseru dengan semangat. ****** Sesampainya di rumah sakit, aku berlari karena sangat tak sabar bertemu dengan malaikat tak bersayap-ku. Ketika sampai di ruang rawat Bu Fatma, aku dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang sangat kurindukan selama ini, malaikat tak bersayap-ku yang kedua setelah Bu Fatma. "Zizy unyil, kamu sudah besar," ujarnya sambil tersenyum lebar. "Kak Afiq." Aku langsung berhambur ke pelukan Kak Afiq, tangisku pecah karena merindukannya. "Kenapa nggak bilang kalau mau pulang?" rengekku. "Tadinya Kakak mau memberikan kejutan tapi justru Kakak yang mendapatkan kejutan." Kak Rafiq yang biasa aku panggil Kak Afiq adalah anak yatim piatu sama sepertiku, tetapi selama empat tahun ini dia kuliah di Australia setelah mendapatkan beasiswa karena kecerdasaannya. Selama beberapa bulan terakhir, kami jarang berkomunikasi karena Kak Rafiq sibuk dengan kelulusannya, penyakit Bu Fatma terpaksa kami sembunyikan darinya agar tak mengganggu konsentrasinya. "Kenapa kalian nggak jujur, hem?" "Kami hanya ingin Kak Afiq fokus kuliah dan menjadi orang sukses, kami takut Kakak cemas dan nggak bisa konsentrasi belajar." Aku mengurai pelukan darinya. "Aku kangen Kakak," rengekku. Di antara semua penghuni panti, aku paling dekat dengan Kak Rafiq karena dia yang selalu menjagaku sejak kecil. Bahkan, kata Bu Fatma yang mengajariku berjalan dan berbicara adalah Kak Rafiq. "Dan kamu menikah tanpa restu Kakak?" Seketika aku terkesiap, baru tersadar di ruangan ini ada suamiku yang kini hanya menatapku dengan tajam sambil bersandekap tangan di d**a. "Mas Athar, ini kakakku-Rafiq." "Kakak kandung?" Mas Athar bertanya dengan ujung alis terangkat, senyumnya tampak tak biasa membuatku tidak nyaman. "Bukan," jawabku dengan suara rendah. "Kami sama-sama yatim piatu." "Lalu kenapa bebas berpelukan seperti itu? Bukan mahram, kan?" Aku tak bisa berkata-kata mendengar ucapannya. Memang benar aku dan Kak Rafiq bukan mahram dan biasanya kami tak sampai berpelukan seperti tadi, tetapi aku sangat merindukannya hingga tak bisa menahan diri. "Kami tumbuh bersama sejak kecil." Kak Rafiq angkat bicara. "Jangan memandang adikku seperti itu, dia tumbuh dengan pemahaman agama yang baik." "Aku memandangnya seperti apa?" Mas Athar terdengar seperti menantang. "Kamu seperti meremehkannya," balas Kak Rafiq. "Ekhem!" Bu Fatma yang sejak tadi diam kini berdeham, mencairkan suasana. "Ibu sangat merindukan panti, apa bisa kita pulang sekarang?" tanyanya sambil menatap kami bertiga bergantian. "Ayo, Bu." Kak Rafiq membantu Bu Fatma turun dari ranjang lalu membantunya duduk di kursi roda. "Kamu mau ikut ke panti 'kan, Zy?" tanya Kak Rafiq yang ingin sekali kujawab iya dengan lantang, tetapi lirikan dingin Mas Athar membuatku tak berkutik. "Oh, harus izin suami dulu ya." Kak Rafiq berkata ketus. "Zy tumbuh besar di panti, itu adalah rumahnya dan orang-orang di sana adalah keluarganya. Bukankah suami yang baik akan mengizinkan istrinya pulang ke rumah jika rindu keluarga?" Mas Athar tak menjawab tapi raut wajahnya yang tadi tampak tegang kini sedikit melembut. "Boleh, Mas?" cicitku. Mas Athar diam. "Aku kangen panti," rayuku memelas. "Sejak menikah, aku nggak pernah ke sana." "Nanti sore pulang," ucapnya dengan datar seperti biasa tapi itu sudah lebih dari cukup untukku. "Terima kasih banyak, Mas Athar," ucapku kegirangan. "Oh ya, sebelum ke panti aku mau beli oleh-oleh dulu. Apa boleh?" Mas Athar mengangguk membuatku kembali kegirangan. "Jangan lupa kamu wanita bersuami sekarang!" tegasnya. "Jaga jarak dengan siapa pun yang bukan mahrammu." Aku hanya bisa mengangguk patuh karena perintahnya memang benar. "Kak Rafiq memang bukan saudara kandungku tapi bagiku dia adalah sosok kakak, teman bahkan ayah bagiku," tuturku, berharap Mas Athar mengerti dengan kedekatan kami. "Bu Fatma menemukanku di depan panti saat aku masih bayi, sejak saat itu juga Kak Rafiq menjagaku jadi sampai sekarang hubungan kami sangat erat." "Aku tidak penasaran dengan kisah kalian," tandasnya yang membuat hatiku mencelos. Dasar suami es batu. ???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN