"Mbak Zy ... kangen." Aku berlutut sambil merentangkan tangan saat anak-anak berlari menghampiriku, senyum sumringah yang terbit di bibir mereka seperti cahaya mentari dalam hidupku yang dipenuhi awan kelabu.
"Mbak juga kangen sekali sama kalian." Mereka semua memelukku secara bersamaan bahkan sampai aku terduduk di lantai.
"Waktu Kakak datang kalian nggak menyambut Kakak seperti ini," seru Kak Rafiq tapi anak-anak tak mengindahkannya. Kulihat Kak Rafiq hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum tipis.
"Mbak Zizy kenapa jarang sekali main ke sini?"
"Iya, Mbak. Apa Mbak Zizy sudah nggak sayang sama kita?"
"Mbak Zizy nggak kangen sama kita?"
"Mbak Zizy lupa ya sama kita karena sudah menikah?"
Aku mengangkat tangan ke udara mendengar pertanyaan anak-anak yang beruntun, tak memberiku kesempatan untuk menjawab. Mereka langsung terdiam tapi menatapku dalam-dalam, seolah tak sabar menunggu jawabanku. Ekspresi wajah mereka sangat menggemaskan membuatku tertawa kecil.
"Mbak nggak mungkin lupa sama kalian," elakku. "Mbak juga kangen sama kalian dan Mbak masih sangat sayang sama kalian. Tapi apa kalian lupa apa yang Ustadzah ajarkan? Setiap wanita yang sudah menikah memiliki tanggung jawab yang lebih besar pada keluarga barunya, nanti kalian akan mengerti saat sudah dewasa."
Anak-anak merengut tapi sesaat kemudian mereka mengangguk mengerti. "Sekarang ayo lihat apa yang Mbak bawakan untuk kalian."
Dengan semangat, mereka segera membuka plastik berisi berbagai cemilan yang kubawa. "Jangan rebutan ya!" Aku memperingatkan dengan tegas. "Jangan lupa bilang terima kasih juga sama ...." Aku melirik Mas Athar yang sejak tadi diam seperti robot. "Suami Mbak," imbuhku karena semua itu dibayarkan oleh Mas Athar.
Anak-anak langsung mengucapkan terima kasih secara serempak tapi itu tak mampu membuat Mas Athar tersenyum meski hanya berpura-pura.
"Mau aku buatkan teh, Mas?" tanyaku.
"Di mana kamarmu?"
"Mas Athar ingin ke kamar?" Mas Athar hanya menggumam. "Begini, Mas. Aku berbagi kamar dengan Mbak Yuli, kalau Mas Athar mau ke kamar aku minta izin Mbak Yuli dulu ya. Di sana ada dua ranjang, ranjang susun dan punyaku yang atas."
Mas Athar berdecak mendengar penjelasanku, membuatku kesal. "Ini panti asuhan, Mas. Kamar di sini sangat terbatas, bahkan makanan pun terkadang terbatas." Tanpa sadar aku mengomel.
"Aku tunggu di ruang tamu," ketusnya.
Aku hanya bisa tersenyum getir melihatnya pergi begitu saja. Sungguh tak berperasaan.
****
Aku membantu Mbak Yuli menyiapkan makan siang, lalu makan bersama tapi Mas Athar enggan bergabung, katanya tak lapar.
Setelah selesai makan, aku membereskan dapur sementara Mbak Yuli mencuci baju. "Jadi benar kamu jarang ke sini setelah menikah?"
Aku yang sedang mencuci piring langsung menoleh mendengar suara Kak Rafiq. "Kenapa, Zy? Apa pria itu nggak kasih izin?"
Dengan berat hati aku mengangguk. Kak Rafiq tersenyum miring, kilat matanya berbubah. "Kakak kecewa sama kamu, Zizy. Kenapa kamu harus menikah sama dia, huh?"
"Ibu pasti sudah cerita semuanya, kan?"
Aku melanjutkan aktivitasku tapi Kak Rafiq tiba-tiba menarik pundakku, memaksaku menghadapnya. "Kamu bisa menghubungi Kakak, Zy. Kakak akan lakuin apa pun untuk mendapatkan uang itu." Tatapan Kak Rafiq begitu tajam dan suaranya bergetar. Aku bisa melihat kesedihan dan kemarahan di matanya, juga kekecewaan.
"Keadaan ibu sangat mengkhawatirkan, Kak. Dokter sudah menemukan donor jantung yang cocok tapi kami nggak punya biaya untuk operasi, kalau nggak operasi secepatanya maka Ibu bisa ...." Aku tak sanggup berbicara lebih banyak, apalagi ketika teringat saat kondisi Bu Fatma yang begitu mengkawatirkan. "Aku nggak punya pilihan lain, aku mau Ibu hidup dan uang 200 juta itu nggak sedikit, Kak."
"Tapi nggak harus dengan menjual diri pada pria itu, Zyana!"
Aku terbelalak mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Kak Rafiq, kepalaku langsung berdentum seperti dihantam batu dan dadaku terasa sesak seakan gunung menghimpitku.
Menjual diri?
Apakah kata itu pantas untukku yang mengorbankan hidup demi Bu Fatma?
Aku ingin membela diri tapi lidahku kelu, napasku tercekat di tenggorokan dan air mata sudah tumpah membasahi pipi.
"Zy, bu-bukan itu maksud Kakak." Kak Rafiq mengulurkan tangan untuk menghapus air mataku tapi aku menghindar. Ucapannya bagai belati yang menyayat hati, perih sekali.
"Bukankah yang kami lakukan wajar?"
Suara bariton itu menarik perhatian kami berdua, kulihat Mas Athar melangkah masuk dengan cepat dan lebar menghampiri kami. Apa dia mendengar percakapanku dan Kak Rafiq?
"Salah satu tujuan pernikahan adalah mendapatkan keturunan, kan?" Pria bertubuh kekar ini tiba-tiba merangkul pinggangku lalu menarikku hingga menempel di tubuhnya. "Aku menikahinya untuk mendapatkan anak, apa itu salah? Dia tidak menjual diri dan aku tidak membelinya."
Tatapan Mas Athar begitu mengintimidasi tapi Kak Rafiq tak mau kalah, dia juga menatap Mas Athar seakan ingin menghabisi suamiku.
"Aku menanggung semua pengobatan Bu Fatma bukan sebagai bayaran untuk Zyana, melainkan sebagai tanda terima kasih karena sudah merestui pernikahan kami," imbuhnya.
"Restu?" Kak Rafiq berseringai dan perasaanku mulai tak nyaman, kedua pria ini seperti sedang mengibarkan bendera perang.
"Kak, sudahlah." Aku meminta dengan lembut.
"Apa pria ini memperlakukanmu dengan baik, Zy?" Tatapan nyalang Kak Rafiq membuatku tak mampu menjawab. "Atau dia hanya memperlakukanmu sebagai objek yang bisa memberinya anak?"
Aku mengerjap beberapa kali guna menahan tumpukan air mata yang hendak kembali tumpah. "Kakak tahu kamu nggak bahagia, kamu merasa tertekan menjadi istrinya. Kakak bisa melihat semua itu di matamu, Zizy."
Dugaan Kak Rafiq memang tidak meleset sedikit pun, dia sangat mengenalku jadi tak heran jika Kak Rafiq bisa menebak apa yang ada dalam hati dan pikiranku dengan begitu mudah.
"Aku akan mengganti uangmu jadi tolong ceraikan Zizy. Kembalikan dia pada kami, Tuan Athar yang terhormat!"
Aku terbelalak mendengar permintaan Kak Rafiq, aku langsung menatap Mas Athar yang sama sekali tidak bereaksi. Raut wajahnya masih datar tapi tatapan matanya ... sedikit berbeda.
"Aku berjanji akan melunasinya secepat mungkin." Kak Rafiq menambahkan.
"Kak?" desisku tapi Kak Rafiq tak menghiraukan, tatapannya lurus pada Mas Athar yang juga menatapnya.
Melihat suamiku yang masih bergeming, entah mengapa aku tiba-tiba khawatir. Apa dia akan setuju dan menceraikanku jika Kak Rafiq mengganti uang pengobatan Bu Fatma?
🍁🍁🍁
Halo semuanya.