STC 7

1148 Kata
ATHAR PoV Menikah lagi karena istriku tak bisa hamil? Bagiku itu adalah tindakan yang sangat egois, aku mencintai Rania apa adanya, dia sempurna bagiku meski tak bisa hamil. Namun, orang tuaku menginginkan ahli waris dari darah dagingku, mereka juga takut jika keturunannya terputus. Selama satu tahun terakhir, mereka selalu membujukku untuk menikah lagi bahkan mereka juga membicarakan hal tersebut pada Rania. Aku menganggap kedua orang tuaku sangat egois, memaksakan kehendak mereka padahal rumah tangga kami baik-baik saja dan kami bahagia . Namun, hatiku mulai goyah ketika melihat ibuku menggendong cucu Tante Erma. Aku bisa melihat pancaran kebahagiaan di matanya yang begitu terang. Ibuku bahkan tak pernah berhenti tersenyum sampai kami pulang. Dia juga memandangi foto cucu Tante Erma berkali-kali sambil memuji betapa menggemaskannya bayi itu. Sejak saat itu, aku mulai merenungkan kembali permintaannya tapi tetap saja begitu sulit menerima. Aku dan Rania saling mencintai dan aku tahu tak ada istri yang mau dimadu apa pun alasannya, aku tak ingin menyakiti wanita yang paling kucinta. Lalu suatu hari, aku tak sengaja bertemu Tante Erma di restaurant dan kami mengobrol. Tante Erma mengatakan ibuku sangat menyayangi Rania dan tak mau jika menantunya itu sakit hati karena dimadu, tetapi mendapatkan keturunan juga hal yang sangat penting. Ibu dan ayahku sama-sama anak tunggal, sama seperti aku. Mereka sangat takut tak ada yang meneruskan garis keturunan sedangkan Rania sudah tak mungkin hamil meski dengan cara bayi tabung. Tante Erma juga memintaku mengingat-ingat kembali apakah kedua orang tuaku adalah orang tua yang egois atau tidak. Jawabannya tidak, mereka tidak pernah memaksakan kehendak dalam hal apa pun sejak aku masih kecil. Ketika teman-temanku dituntut mendapatkan nilai sempurna dikelas agar orang tuanya bangga, kedua orang tuaku justru tak peduli dengan nilai karena bagi mereka yang penting aku mau belajar, nyaman di tempatku belajar dan menikamati masa-masa menjadi pelajar. Ketika kuliah, beberapa temanku mengambil jurusan atas pilihan orang tua mereka tapi orang tuaku membebaskan pilihanku. Teman-temanku ada yang terpaksa menyembunyikan hobi dan mengubur cita-cita mereka demi hidup sesuai tuntutan orang tua, tetapi orang tuaku mendukung hobi dan cita-citaku tanpa tututan apa pun selama aku bahagia dan sehat. Menikah lagi agar memiliki anak adalah permintaan pertama mereka dalam hidupku dan mungkin akan menjadi permintaan terakhir. Aku pun mulai membicarakan hal tersebut pada Rania, aku tak memaksanya mengizinkanku menikah lagi tapi di saat yang bersamaan aku berusaha membuatnya mengerti bahwa menikah lagi akan menjadi bentuk bakti pada orang tua yang sudah memberikan segalanya padaku. Rania marah, dia bahkan meminta cerai dariku karena tak mau dimadu. Tentu saja aku tak mungkin menceraikan wanita yang kucintai apalagi pernikahan kami sudah enam tahun berjalan. Dengan berat hati, aku memilih Rania dan mengenyampingkan keinginan orang tuaku. Namun, beberapa hari kemudian Rania mengizinkanku menikah lagi dengan tiga syarat. Yang pertama, dia ingin tetap diutamakan dan tentu aku memang akan selalu mengutamakannya. Lalu yang kedua, dia tak mau tinggal bersama madunya dan aku pun tak mungkin menempatkan mereka di bawah satu atap. Dan yang ketiga, dia ingin aku menceraikan istri keduaku nanti setelah mendapatkan anak, Rania berjanji akan merawat anak itu dengan baik sebagai ibunya. Permintaan terakhirnya terasa sedikit berat tapi aku menyetujuinya, toh aku juga tak menginginkan kehadiran wanita lain dalam hidupku. Cinta dan hidupku hanya untuk Rania seorang. Namun, aku merahasiakan syarat yang Rania berikan dari kedua orang tuaku. Ketika aku memberi tahu bahwa aku siap menikah lagi dan Rania setuju dimadu, kedua orang tuaku membawaku ke panti asuhan karena di sanalah calon istri keduaku. Awalnya aku bingung, sebab aku pikir mereka akan menjodohkanku dengan anak teman atau kolega mereka. Akan tetapi, aku justru dijodohkan dengan gadis yatim piatu yang usianya 15 tahun dibawahku dan alasan dia mau menjadi istri keduaku demi sejumlah uang untuk pengobatan pengasuh panti. Aku terkejut dan ingin menolak, gadis ini terpaksa menikah denganku dan aku tak yakin dia akan menjadi istri yang baik apalagi usianya masih 20 tahun. Akan tetapi, mama meyakinkan bahwa gadis ini adalah gadis terbaik yang pernah dia temui. Ketika gadis itu datang menemui kami, kecantikannya menghipnotisku. Aku bahkan yakin tak pernah melihat seorang gadis yang memiliki kecantikan seperti dirinya. Gamis syar'i berwarna putih membalut tubuhnya dengan sempurna tanpa memperlihatkan lekukannya, hijab panjang yang menjuntai menambah kesan anggun nan menakjubkan. "Zyana Jasmine." Dia memperkenalkan diri dengan suara yang begitu lembut, mata indahnya selalu menatap ke bawah, menghindari tatapanku padahal aku sangat ingin bersitatap dengannya. Namun, di detik selanjutnya aku teringat akan istri tercintaku-Rania. Aku segera mengubur kekaguman pada Zyana, tak peduli meski dia secantik bidadari nyatanya dia takkan mampu menggantikan posisi Rania di hati dan hidupku. Kami hanya menikah siri dan aku berencana mencarikannya rumah tapi Mama memaksa ingin Zyana tinggal dengannya, aku pun pasrah saja. Aku pikir setelah akad semua masalah beres, semua bebanku terangkat tapi nyatanya justru beban itu semakin berat. Aku belum siap memberikan ragaku pada wanita lain tapi Mama yang selalu membicarakan bayi membuatku merasa seperti membawa gunung di pundak. Aku berusaha melaksanakan kewajibanku sebagai suami, tetapi setiap kali melihat Zyana aku justru teringat pada Rania. Aku marah padanya setiap kali kedua orang tua membicarakan cucu, aku yakin Zyana mengadu bahwa aku belum menyentuhnya meski pernikahan kami sudah berjalan selama satu minggu. Akhirnya, malam itu aku menyentuhnya dengan perasaan dan pikiran yang kacau. Zyana menangis tapi aku tak peduli, hatiku dipenuhi rasa bersalah pada Rania sehingga aku langsung pergi setelah selesai melakukan hubungan suami istri dengan Zyana. Namun, aku justru tak sanggup menatap mata Rania sehingga malam itu aku tidur di kantor. Di malam berikutnya, aku kembali melakukan hubungan suami istri dengan Zyana meski dia sempat menolak bahkan kembali menangis. Mau bagaimana lagi, aku ingin dia cepat hamil agar aku bisa segera menceraikannya lalu hidup bahagaia bersama dengan Rania seperti dulu. Aku pergi keluar kota selama beberapa hari bersama Rania, mengajaknya liburan untuk menebus rasa bersalahku. Aku mengutarakan cintaku padanya dengan segala cara, berharap bisa mengusir rasa sedih Rania karena aku telah mendua. Rania begitu tegar, dia mengatakan ikhlas dan akan bersabar karena semua ini juga demi kesempurnaan hidup kami. Bahkan, Rania menyemangatiku supaya cepat menghamili Zyana. Oleh sebab itu, aku kembali pada Zyana dan melakukan hubungan lagi dengannya setelah liburan bersama Rania. Benar kata Rania, aku harus segera membuatnya hamil karena hanya dengan begitu hidupku dan Rania akan sempurna. Semakin cepat dia memiliki anak semakin cepat juga aku bisa menceraikannya. Namun, kenapa hatiku panas dan perih ketika Rafiq memintaku menceraikan Zyana? "Kenapa diam?" Aku tersentak mendengar suara berat pria yang mengaku-ngaku sebagai kakak Zyana ini. "Kamu bisa mencari wanita lain untuk dinikahi dan memiliki anak, jadi kembalikan Zizy-ku." Tanganku terkepal mendengar kata Zizy-ku yang terucap dari mulutnya, darahku mendidih dan dadaku bergemuruh. "Sekarang dia istriku!" Aku semakin mengeratkan rangkulan di pinggangnya, bahkan aku kembali menariknya hingga Zyana benar-benar menempel padaku. "Dia milikku!" aku menegaskan sambil menggertakkan gigi. Berani sekali pria ini mengatakan istriku adalah Zizy-nya, padahal dia tidak ada hubungan darah dengan Zy. “Aku tidak akan pernah menceraikannya meski kamu mengembalikan uangku sejuta kali lipat, camkan itu!” 🍁🍁🍁
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN