STC 8

930 Kata
Seharusnya kami pulang di sore hari tapi mood-ku sudah rusak karena Rafiq, alhasil aku mengajak Zyana pulang setelah dia selesai membereskan dapur. Anak-anak panti tampak sedih ketika Zyana berpamitan bahkan ada yang sampai menangis, aku jadi penasaran sebaik apa Zyana merawat mereka sampai anak-anak itu begitu lengket seperti pada ibunya sendiri. "Kalau ada apa-apa segera hubungi Kakak, ya." Aku tersenyum sinis mendengar apa yang Rafiq katakan pada Zyana, apa dia pikir aku akan membuat Zyana dalam bahaya? "Kakak juga minta maaf soal yang tadi, kamu tahu Kakak sangat mencintaimu dan peduli padamu, kan?" Oh Tuhan, aku merasa terjebak di tengah bara api yang berkobar mendengar Rafiq mengatakan cinta pada Zyana. Sungguh tak tahu malu. Apa jangan-jangan mereka ada hubungan spesial? "Kakak cuma ingin kamu mendapatkan pria yang layak, yang bisa membuat kamu bahagia dan menjadikanmu ratu dalam hidupnya, bukan selir." Rafiq berujar sambil melirikku dengan tajam seakan ingin menghabisiku. Apa dia pikir aku tak layak untuk Zyana? Memangnya apa yang kurang dariku? Aku tampan dan sukses, aku bisa menjamin kehidupan Zyana hingga anak cucu kami nanti. "Aku ngerti, Kak." Zyana menjawab sambil mengurai senyum membuat dadaku semakin bergemuruh karena dia tidak pernah tersenyum seperti itu padaku selama ini. "Ayo!" Aku setengah membentak tanpa sadar. "Apa selalu begitu caramu berbicara pada Zizy, huh?" Rafiq langsung menegurku. "Membentaknya." Aku sudah membuka mulut untuk membela diri tapi Zyana mendahuluiku. "Sudahlah, Kak." Dia menyentuh lengan Rafiq membuatku tambah kesal saja. "Kutunggu di mobil," ketusku yang sudah tak mampu lagi menahan amarah di d**a. Tapi kenapa aku jadi marah begini? ***** Sepanjang perjalanan ke rumah, tak ada yang bersuara di antara kami hingga menghadirkan suasana yang sepi dan mencekam. Sesekali aku meliriknya yang membuang pandangan keluar. "Ekhem!" Aku berdeham guna menarik perhatiannya tapi usahaku sia-sia, Zyana bahkan enggan melirikku. Apa dia marah? Bukankah yang seharusnya marah adalah aku? Aku berusaha kembali fokus menyetir tapi tak bisa, entah mengapa aku selalu mencuri pandang pada Zyana seolah ada sesuatu yang menarikku untuk menatapnya. "Apa yang kamu lihat?" tanyaku ketika menyadari Zyana menatap sesuatu bahkan sampai menoleh. "Kucing." Jawabannya membuatku mengerutkan dahi. "Kalau saja kucingku nggak mati, mungkin sekarang sudah sebesar itu. Aku juga nggak akan kesepian di rumah." Jadi Zyana merasa kesepian di rumah? Tak heran, kedua orang tuaku sama-sama sibuk setiap hari dan para pelayan pasti sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Zyana yang terbiasa dengan keramaian di panti pasti merasa sangat kesepian di rumah orang tuaku. "Percuma punya kucing karena di rumah nggak boleh ada hewan peliharaan," ujarku. "Iya, aku tahu." Zyana menghela napas berat. "Tadinya aku mau membeli kucing tapi ternyata Mama alergi bulu kucing." Aku tak lagi membalas ucapannya dan Zyana pun kembali bungkam hingga kami sampai di rumah. Zyana langsung keluar dari mobil tanpa basa-basi, sementara aku tetap di mobil karena mendapatkan telepon dari Rania. "Kenapa, Sayang?" tanyaku selembut mungkin. "Kamu nggak ke kantor, Mas? Aku lagi di kantor kamu neh tapi kata Layla kamu belum datang." Oh Tuhan, aku sampai lupa menghubungi Rania seharian ini. "Mas, kok diam aja? Kamu di mana sih?" "A-aku ... aku lagi di rumah Mama, Sayang," sahutku tergugu. "Mama sama papa keluar kota, kan? Kamu ....." Rania menggantung ucapannya membuatku menunggu dengan cemas. "Kamu sengaja mendatangi Zyana, ya?" "Sayang, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau aku harus memastikan Zyana cepat hamil? Jadi aku pikir_" "Kamu nggak lagi jatuh cinta sama dia 'kan, Mas?" Aku terhenyak mendengar pertanyaan yang Rania ajukan, detak jantungku tiba-tiba berpacu lebih cepat dari biasanya. "Ingat, Mas Athar, kamu menikahinya hanya untuk mendapatkan anak dan kamu nggak boleh jatuh cinta sama dia. Kamu nggak boleh mengkhianati aku." "Itu nggak akan terjadi, Sayang," tegasku. "Percaya sama aku, semua yang aku lakukan pada akhirnya hanya untuk kita. Oke? Sekarang aku memang bersama Zyana tapi yang ada dalam hati dan pikiranku adalah kamu, Rania." "Jadi kapan kamu akan pulang?" "Habis ini aku akan pulang, aku sudah sangat merindukanmu." "Aku juga merindukanmu, Mas Athar. Satu malam tanpa pelukanmu membuatku tersiksa." Aku mengulum senyum mendengar apa yang Rania ungkapkan. "Aku merasakan hal yang sama, Sayang." "Ya sudah, aku tunggu ya, Mas. Malam ini aku akan memberikan sesuatu yang indah buat kamu." "Aku pasti akan menyukainya," ujarku yakin. Selama ini, tak ada satu pun yang tak aku suka dari Rania, segala hal tentangnya begitu indah di mataku. Setelah selesai berbicara dengan Rania, aku segera masuk ke rumah. Niatku hanya ingin mengambil laptop lalu setelah itu pulang pada pelukan istri pertamaku. Ketika masuk kamar, aku mendapati istri keduaku yang baru keluar dari kamar mandi tanpa hijab, rambut panjangnya terurai dengan indah sedangkan wajahnya masih basah. Aku memang sudah sering melihat Zyana tanpa penutup kepala tapi entah mengapa pesonanya seperti tak pernah pudar, masih sama seperti saat pertama kali aku melihatnya. "Mas Athar belum makan sejak tadi, mau aku masakin, Mas?" "Nggak usah. Aku mau pulang." Aku segera mengambil laptop di atas meja. "Baiklah." Aku termangu mendengar jawabannya. Dia mengizinkanku pergi begitu saja? Kenapa Zyana tak pernah mencoba menahanku? Sebenarnya dia menganggapku sebagai suami apa tidak, sih? Aku meletakkan kembali laptopku dengan kasar. "Aku lapar," ucapku padahal sama sekali tak merasa lapar. "Katanya mau pulang, Mas?" Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar. "Kamu mengusirku?" Aku bersandekap tangan di d**a, kulemparkan tatapan tajam padanya. "Suami lapar bukannya dimasakin malah diintrogasi." "Bukan maksudku begitu, Mas. Aku hanya_" "Kalau nggak mau masakin bilang aja, banyak alasan." "Mau, Mas Athar. Tunggu sebentar ya," sahutnya dengan raut wajah yang tampak panik. Zyana langsung melangkah cepat bahkan setengah berlari dari kamar, entah mengapa itu terlihat lucu apalagi ketika mengingat ekspresi wajahnya tadi. Gadis itu_ah, bukan. Wanita ... dia telah menjadi wanita sekarang dan dia adalah wanitaku. 🍁🍁🍁
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN