STC 9

903 Kata
Makanan yang Zyana masak ternyata cukup enak, bahkan cita rasa seperti ini tak pernah aku rasakan sebelumnya. Apa dia menambahkan bumbu rahasia? "Rasanya enak banget ya, Tuan?" Aku yang hendak menambah nasi segera menarik tanganku kembali ketika mendengar suara Ita. "Saya pernah makan masakan Nyonya Zizy, enak banget rasanya, Tuan. Nagih sampai pengen nambah terus. Tapi sayangnya Nyonya Zyana dilarang masak kalau ada Nyonya besar." Aku berdeham sambil melatakkan sendok dan garpu dengan berat hati. "Bereskan!" titahku setelah meneguk air dari gelas yang juga disediakan oleh Zyana. "Oh ya. Berhenti memanggilnya Zizy, kalian harus memanggilnya Nyonya Zyana," tegasku sebelum meninggalkan meja makan. Ita tampak bingung tapi ia tak membantah atau bertanya, sudah pasti dia patuh karena semua ucapanku adalah perintah yang tak bisa dibantah. Aku benci sekali mendengar ada yang memanggil Zyana dengan panggilan Zizy karena itu mengingatkanku pada Rafiq. "Sudah selesai makannya, Mas?" Aku yang hendak kembali ke kamar berpapasan dengan Zyana di tengah tangga. "Kok cepat? Apa Mas Athar makan sedikit? Masakanku nggak enak ya, Mas?" Ada kecemasan di matanya ketika bertanya dan lagi-lagi itu terlihat lucu, menggemaskan. "Nggak," jawabku singkat. "Maaf, Mas. Nanti aku belajar masak lagi." Aku hanya bergumam lalu melewatinya, aku pikir Zyana akan mengikutiku dan bertanya makanan apa yang aku suka, tetapi nyatanya wanita itu justru menuruni tangga begitu saja. Aku hanya bisa termangu, mengapa dia begitu abai padaku? **** Seharusnya aku pulang sesuai janjiku pada Rania, tetapi entah mengapa jiwaku seperti enggan meninggalkan rumah ini. Alhasil, malam ini aku kembali bermalam bersama istri keduaku. Setelah makan malam bersama, Zyana ke kamar, membaca buku bisnis yang pasti dia ambil dari dalam lemari. Zyana tampak begitu serius, tatapannya begitu fokus. Ah, jangan-jangan dia hanya berpura-pura membaca buku karena ingin mengabaikanku. Dia tidak mengerti dunia bisnis jadi tak mungkin tertarik membaca buku seperti itu. Aku naik ke ranjang dan menarik selimut, tetapi Zyana masih fokus pada aktivitasnya sendiri. Entah mengapa suasana kamar terasa sepi dan mencekam sekarang. "Mau sampai kapan membaca buku itu?" tanyaku setelah berusaha mencari kata yang pas untuk membuka percakapan. "Sedikit lagi, Mas," jawabnya diiringi senyum hangat. Tunggu, kenapa dia cantik sekali ketika tersenyum? "Matikan lampunya, aku mau tidur," pintaku. Zyana tampak keberatan dengan permintaanku tapi dia tetap melakukannya, dia meletakkan buku dan berbaring memunggungiku. "Lakukan tiga sampai empat kali seminggu." Aku meringis ketika mengingat kembali saran Tante Erma, sebagai pria dewasa aku tahu saran itu bagus dan masuk akal, beberapa temanku yang sudah memiliki anak juga menyarankan hal yang sama padaku. Dengan sedikit ragu, aku berbalik hingga menghadap Zyana yang masih memunggungiku. Apa dia sudah tidur? Aku harus mengatakan apa untuk memulainya? Tidak perlu mengatakan apa pun, sebelumnya juga tak pernah aku berbasa-basi. Tanpa permisi, aku menarik pundak Zyana hingga istri kedua itu menghadapku, dia melotot padaku, pasti karena terkejut. "Kenapa, Mas?" tanyanya bingung. Aku sudah membuka mulut untuk menjawab tapi lidahku tiba-tiba terasa kelu, tatapanku tertuju pada netra cokelatnya. "Mas Athar?" Aku terkesiap ketika Zyana menyentuh pundakku, dadaku berdebar. "Ada apa?" ulangnya. "Kata dokter ... tiga sampai empat kali seminggu," jawabku dengan suara parau. Sial. Kenapa tiba-tiba aku jadi gugup dan kenapa juga harus jawaban itu yang keluar dari mulutku? Zyana tampak terkejut, mata bulatnya berkedip cepat beberapa kali, mungkin dia bingung mendengar jawabanku. Aku segera berusaha mengendalikan diri lalu mematikan lampu. Zyana tak kunjung bersuara bahkan ketika aku melepaskan piyamanya tanpa permisi. Dia tetap bungkam ketika aku menyatukan diriku dan dirinya. Ya, seperti ini lah seharusnya. Tidak perlu canggung, gugup atau apa pun, tugasnya adalah hamil dan melahirkan anakku. Aku fokus pada apa yang ingin kucapai malam ini tapi tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari istri yang kujamah. Aku tak menghiraukannya dan tetap berusaha fokus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Namun, suara tangis Zyana semakin menjadi bahkan dia menekan kukunya di pundakku dengan cukup keras. Tak begitu sakit karena kukunya yang pendek tapi itu tetap mengalihkan fokusku. "Sa-sakit, Mas," lirih Zyana di sela-sela isak tangisnya yang langsung membuatku mematung. "Sa-sakit sekali, Mas Athar." Ia berbisik di dadaku, aku langsung melepaskan diri darinya yang sudah berderai air mata. "Kamu cari alasan, kan?" tudingku sambil menyalakan lampu. "Ini bukan kali pertama kita, ini sudah ke empat kalinya tapi kamu masih merengek sakit? Kamu nggak mau cepat hamil atau_" "Mas?" Zyana menyela, tatapan nyalangnya terasa menusuk hatiku apalagi air mata masih mengalir di pipinya. Namun, aku meyakinkan diri itu pasti tidak sesakit yang dia tunjukkan. Zyana pasti berpura-pura. "Mau yang ke 100 kalinya pun pasti akan selalu sakit kalau caramu menyentuhku seperti itu," pungkasnya sambil menyeka air mata dengan satu tangan sementara tangan yang lain memegang selimut di dadanya. "Seperti apa?" sentakku, kesal karena Zyana telah merusak mood-ku. "Kamu menyentuhku ... kamu ...." Suara Zyana bergetar dan air mata kembali tumpah seakan takkan pernah ada habisnya. "Jangan bilang kamu ingin aku menyentuhmu seolah aku mencintaiku." Aku tersenyum sarkas. "Sudah aku bilang, aku melakukannya hanya untuk mendapatkan anak darimu jadi_" "Aku tahu kamu nggak mencintaiku!" Zyana memotong ucapanku bahkan nada bicaranya meninggi, membuatku terkesiap. "Aku juga tahu kamu nggak akan pernah bisa menyentuhku dengan cinta, tapi apa tidak bisa memberikan sedikit saja rasa sayangmu untukku? Setidaknya ketika kita di atas ranjang, Mas. Tidak perlu memperlakukanku sebagai istri yang kamu cintai tapi bisakah kamu memperlakukanku sebagai wanita? Rasanya menyakitkan sekali mendapatkan sentuhan tanpa cinta dan kamu ... kamu begitu kasar, tergesa-gesa." Aku tertegun mendengar apa yang Zyana utarakan, apalagi ketika ia berbisik pilu di akhir kalimat. Apa aku begitu kasar padanya hingga dia merasa sangat kesakitan? 🍁🍁🍁
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN