STC 10

1254 Kata
ZYANA PoV Tidak tahu dari mana datangnya keberanian itu hingga aku bisa mengutarakan rasa sakitku pada Mas Athar, tapi rasanya begitu melegakan meski aku mendapatkan berbagai tudingan dari suamiku, bahkan dia menudingku berpura-pura sakit karena ini sudah ke empat kalinya berhubungan. Dasar pria. Masa tidak bisa membedakan sakit karena pertama kali melakukannya dengan sakit karena disentuh secara grasa-grusu? Aku pikir Mas Athar akan pergi meninggalkanku seperti biasa tapi dia justru kembali berbaring di ranjang setelah memakai celananya, sisa malam itu kami habiskan dengan sama-sama terdiam dan saling memunggungi. Aku juga memakai pakaianku kembali tapi tak bisa tidur meski sudah dicoba berkali-kali. Sejujurnya, aku malu sekaligus merasa bersalah karena menghentikan Mas Athar begitu saja tanpa menuntaskan hasratnya. Tapi mau bagaimana lagi, perlawanan itu terjadi begitu saja. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi tapi aku masih tak kunjung bisa tidur, kulihat Mas Athar sudah terlelap dan itu membuatku sedikit lega. Aku beranjak dari ranjang, lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelahnya, aku melaksanakan salat malam berharap bisa mendapatkan ketenangan. "Ya Rabb ...." Kutadahkan tanganku. "Berikan aku kekuatan dan keikhlasn menjalani kehidupan ini, berikan aku hati yang tabah menerima takdir-Mu yang tak aku inginkan. Berikan aku hati yang luas menerima ketentuan-Mu yang jauh dari harapan dan jadikan aku hamba-Mu yang selalu taat serta berserah diri pada-Mu dalam segala situasi." "Wahai pemilik hati, jiwa dan ragaku, tidak ada yang terjadi padaku kecuali atas izin-Mu dan pernikahan ini juga terjadi karena kehendak-Mu. Ya Rabb, dengan segenap jiwaku aku memohon kepada-Mu, tolong lunakkanlah hati suamiku untukku. Seperti Engkau yang memiliki hatiku sepenuhnya, Engkau juga memiliki hatinya sepenuhnya. Tolong, sahaya kecil-Mu yang lemah dan tak berdaya ini memohon dengan sangat pada-Mu. Bukalah pintu hatinya untukku." "Aamiin." Setelah melaksanakan salat, aku kembali ke ranjang, kutatap wajah suamiku yang memang sangat menawan. Tak mungkin ada wanita yang tak mengagumi ketampanannya, selain itu Mas Athar juga sangat mapan, sekarang dia menjadi CEO di anak perusahaan ayah mertuaku. Aku juga dengar dia selalu mendapatkan nilai sempurna di masa sekolah, sungguh pria yang hampir sempurna. "Maafkan aku, Mas," ucapku dengan tulus sembari membenarkan selimutnya. Aku mendekatkan wajahku ke wajah tampan suamiku, ada dorongan tak biasa dalam jiwa, ingin mengecupnya dengan lembut tapi tak berani. Dengan berat hati aku mengubur keinginan yang sebenarnya sangat wajar ini. "Ingat, Zyana. Kamu hanya wanita yang akan melahirkan anaknya jadi jangan pakai hati, dia bahkan akan menceraikanmu setelah kamu memberikan anak nanti." Aku memperingatkan diriku sendiri dengan tegas. ****** "Loh, banyak sekali masaknya, Ta?" tanyaku bingung karena meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai macam menu. "Biasa, Nya. Kalau ada Nyonya besar maka meja makan wajib penuh dengan makanana, nanti yang kenyang juga kita-kita yang bekerja." Aku langsung tertawa mendengar apa Ita ucapkan hingga aku menyadari sesuatu. "Kamu bilang Nyonya besar? Maksudnya Mama sudah pulang?" "Iya, sekitar setengah jam yang lalu. Sekarang lagi di kamar." Entah mengapa aku begitu senang dan bersemangat mendengar kabar ini. Aku ingin ke kamar Mama tapi langkahku terhenti saat berpapasan dengan Mas Athar. Aku merasa canggung ketika bersitatap dengannya, teringat kembali dengan kejadian tadi malam. "Mau ke kamar Mama?" tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan kepala. Mas Athar tak bertanya lagi sehingga aku langsung bergegas menemui ibu mertuaku. "Mama?" panggilku sambil mengetuk pintu. "Masuk, Sayang." Mendengar suara lembut itu aku langsung membuka pintu. Mama langsung menyambutku dengan senyum tak biasa, bahkan sorot matanya membuatku merasa curiga. "Apa aku mengganggu?" cicitku. "Aku nggak tahu Mama mau pulang pagi ini, tadi Pas Ita bilang aku sangat senang dan langsung ke sini." "Jadi begini kelakuan kalian kalau mama dan papa pergi, eh?" Mama mengedipkan mata tapi bukan padaku, otomatis aku menoleh dan mendapati Mas Athar yang bersender di daun pintu, satu tangannya dia masukkan ke dalam celana. Dia terlihat sangat tampan dan berkharisma. "Ita sudah cerita," kata Mama yang langsung membuatku kembali menatapnya. "Katanya dua malami ini kalian selalu bersama bahkan pergi ke panti asuhan. Apa kalian merasa bebas karena papa dan mama pergi? Ah, kalau tahu begini lebih baik Mama pulang minggu depan aja, biar kalian bebas." Aku kehilangan kata-kata mendengar celotehan panjang lebar ibu mertua, apalagi tatapannya yang penuh arti membuatku tersipu. "Papa nggak ikut pulang, Ma?" tanya Mas Athar yang justru membuat ibu mertuaku terkekeh. "Papamu masih ada pekerjaan, Mama terpaksa pulang duluan karena ada meeting dengan direktur dari PT Mega Jaya." "Kapan?" Ibu mertuaku melirik arlojinya. "Setengah jam lagi jadi Mama harus pergi sekarang." "Mama nggak sarapan dulu?" tanyaku, cemas karena Mama baru datang masa sudah pergi lagi. "Kata Ita, Mama yang nyuruh masak sebanyak itu." "Mama akan terlambat kalau masih sarapan di rumah, Sayang. Itu buat kalian aja." "Mau aku bawakan bekal, Ma?" Aku menawarkan secara spontan karena biasanya aku membawakan Bu Fatma bekal jika dia tidak sempat makan. "Maksudku_" "Boleh, nanti Mama makan di mobil." Aku terkejut mendengar jawaban Mama tapi itu juga membuatku senang, segera aku berlari ke bawah untuk menyiapkan bekal. "Serius Nyonya besar mau bawa bekal, Nya?" tanya Ita dengan ekspresi bingung. "Aku takut Mama lupa untuk makan karena sibuk, jadi aku tawarkan untuk bawa bekal dan beliau mau," tuturku. "Wah, sepertinya Nyonya Zizy-eh, Nyonya Zyana sudah jadi kesayangan Nyonya besar, sampai-ampai Nyonya besar mau dibawain bekal." Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Ita, kutawarkan bekal bukan untuk mengambil hati ibu mertuaku atau menjadi kesayangannya, aku hanya tak mau dia sampai melewatkan sarapan. "Kenapa kamu nggak manggil Nyonya Zizy lagi, Ta?" tanyaku saat menyadari tadi Ita meralat panggilan untukku. Bukannya menjawab pertanyaanku, Ita justru celingukan kanan kiri. "Kenapa, Ta?" Aku mengerutkan dahi. "Tuan Athar memerintahkan kami agar memanggilmu Nyonya Zyana, tidak boleh Nyonya Zizy." Kedua alisku semakin berkerut hingga menyatu, kenapa Mas Athar tak mau ada yang memanggilku Zizy? "Sudah siap, Sayang?" Mama datang bersama Mas Athar yang masih memasang muka seperti es balok, datar dan dingin. "Sudah, Ma." Aku memasakkan kotak bekal ke dalam tas. "Jangan lupa di makan biar nggak sakit ya, Ma. Menunya lengkap kok, ada sayuran dan buah juga." "Terima kasih banyak, Zizy." Mama memelukku yang langsung kubalas dengan senang hati. Walaupun dia hanya ibu mertuaku, tetapi dia selalu memperlakukanku dengan sangat baik hingga aku dapat merasakan kasih sayang seorang ibu. "Mama pergi dulu, baik-baik kalian berdua di rumah, ya!" serunya. Aku mengantar Mama sampai ke mobil bahkan tak beranjak dari tempatku sampai mobil tak terlihat lagi. "Mau sampai kapan di sini?" Aku tersentak ketiba merasakan sentuhan Mas Athar di pundakku diiringi suara beratnya yang memenuhi indera pendengaranku. "Mas Athar mau berangkat kerja juga?" tanyaku meski sudah tahu dia pasti akan berangkat bekerja, Mas Athar sudah sangat rapi dan tampan dengan setelan jas-nya. "Ayo ke kamar." "Eh?" Mas Athar menyeretku ke kamar, dia tak menjawab ketika aku bertanya ada apa. Sesampainya di kamar, Mas Athar mengunci pintu membuatku gugup. Apa lagi yang suami es balok-ku ini inginkan? "Mas, a-ada apa?" Aku berusaha tetap tenang meski seluruh tubuhku gemetar apalagi Mas Athar menatapku seperti pemburu yang sangat siap melepaskan anak panah untuk melumpuhkan buruannya. Aku melangkah mundur ketika Mas Athar melangkah maju, dia mengintimdasiku dengan tatapan tajamnya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya mengacaukan pikiran dan perasaanku. Aku terduduk di tepi ranjang, tak bisa lagi menghindar. Mas Athar menunduk, mengikis jarak yang ada, hembusan napas hangatnya menerpa wajahku membuat tubuhku panas dingin. "Mas?" bisikku dengan suara tecekat sambil meremas seprei guna meningakahi perasaanku yang campur aduk. "Ma-mau apa?" "Ayo lakukan lagi." "Huh?" Pupil mataku melebar. "Apa?" Tanpa menjawab, Mas Athar memegang kedua pundakku lalu mendorongku hingga berbarik di ranjang. Tunggu, jangan bilang dia mau .... "Aku akan mengontrol diri, aku nggak akan menyakitimu lagi." "Ma-maksudnya?" "Ayo b******a, Zyana. Ayo buat bayi sekali lagi." “HUH?!” 🍁🍁🍁
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN