Bayangan wajah polos Zyana yang tersipu tak bisa aku enyahkan dari benakku, bahkan segala sesuatu yang kulihat, kudengar, kualami dan kulakukan justru selalu mengingatkanku padanya. Hal ini membuatku merasa sangat bersalah pada Rania apalagi sekarang waktunya aku menghabiskan waktu bersama istri tercintaku itu, tidak seharusnya Zyana yang memenuhi pikiranku. Ketika pulang dari kantor, aku disambut oleh Rania yang sudah sangat siap di ranjang kami. Dia cantik, anggun dan seksi di saat yang bersamaan. Istriku hampir sempurna sebagai seorang wanita dewasa. Akan tetapi, entah mengapa semua yang dia suguhkan padaku tak cukup untuk memancing minatku padanya malam ini. Ah, mungkin aku hanya lelah. “Kamu pasti lelah sekali ya, Mas.” Rania menarik tanganku, membawaku ke ranjang. “Mau aku pijat

