STC 20

1121 Kata

Jika aku bisa melakukannya dengan kelembutan, maka akan memberikan kenikmatan yang terkira untuk kami berdua, lantas mengapa aku harus menyakiti ciptaan Tuhan yang sangat indah ini? Mengapa aku harus membuatnya menangis ketika sentuhan suami seharusnya membuat seorang istri melambung ke angkasa. Dia begitu mungil, rapuh dan lemah. Bukankah aku harus memperlakukannya sebaik mungkin agar dia tak terluka? Wajah Zyana memerah ketika aku menggendongnya ala pengantin baru tanpa memutus tatapan kami. Untuk pertama kalinya aku merasa sangat dekat dengan istri keduaku, begitu dekat hingga aku merasa kami akan menyatu seperti raga dan jiwa yang tak bisa terpisahkan. Kurebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang kami dengan sangat hati-hati, memastikan dia tidak akan terluka karena perlakuan kasarku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN