Hal pertama yang kulihat saat membuka mata adalah Zyana yang menatapku penuh kecemasan, cahaya matahari yang mengintip dari celah gorden mengenai wajahnya yang mendung. “Masih pusing?” tanyanya seraya mengambil handuk kecil dari keningku. Sekarang aku sudah bersamanya membuatku sangat senang, tapi sayangnya aku terserang demam sejak kemarin, kepalaku sakit dan pusing, aku merasa kedinginan hingga menggigil tapi suhu tubuhku sangat panas dan itu membuatnya sangat cemas. “Sedikit,” jawabku dengan lemah. “Aku sudah masak bubur buat Mas Athar, makan dulu ya.” Aku menggeleng, sejak kemarin selera makanku hilang, menelan air putih saja rasanya enggan dan terasa pahit. “Mas Athar harus makan biar cepat sembuh.” Zyana membantuku agar duduk bersandar ke kepala ranjang. “Aku suapi,” ujarnya.

