Nostalgi Samar

1714 Kata
. . Tuhan memang Maha Pengampun, tapi itu bukan berarti dia bisa melakukan hal-hal yang tidak diridai Tuhan sesuka hatinya. . . *** Ditunggu lama, Rodja tak juga muncul. Annisa mulai gelisah. “Pak Ustadz, saya mungkin sebaiknya ke dapur, ya? Mungkin Rodja perlu bantuan,” ucap Annisa permisi. Ustadz Yahya memberinya izin. Annisa melangkah ke mana tadi dilihatnya Rodja menuju. Sosok Rodja dari samping, nampak sedang menyiapkan gelas di meja dapur. “Rodja," panggil Annisa dari tirai untaian kerang menjuntai, yang menjadi batas antara area dapur dan ruang makan. Yang dipanggil menoleh. "Annisa, kenapa ke sini?" tanya Rodja. "Kamu nyiapin minuman sendirian? Kubantu, ya," kata Annisa menawarkan bantuan. "Aku kelamaan, ya? Maaf. Bibi belum pulang dari warung. Harusnya Bibi yang nyiapin," kata Rodja dengan ekspresi malu. Dia memang tidak mahir dengan hal semacam ini, melayani tamu. Ketahuan deh, dia tipe anak yang dilayani dan di rumah tidak pernah menyentuh cucian piring dan sebagainya. “Biar kubantu,” kata Annisa tersenyum saat masuk ke dapur. Dengan cepat Annisa menuang air dingin dan menambah es batu dari freezer ke dalam gelas-gelas. “Maaf. Harusnya kamu gak perlu repot,” ucap Rodja merasa bersalah. “Gak repot. Aku gak enak duduk-duduk aja, sementara kamu kerepotan di sini,” kata Annisa. Entah karena perhatiannya atau suaranya yang lembut, Rodja merasakan sensasi senang yang tak dipahaminya, Keduanya berdiri mengaduk larutan sirup dalam gelas. Bunyi dentingan sendok mengisi hening di antara mereka. Rasa nostalgia yang janggal, membuat Rodja tak tahan untuk diam saja. "Annisa --," panggilnya. "Ya?" sahut Annisa setelah tangannya berhenti mengaduk gelas. "Apa kita pernah --" Seorang wanita paruh baya tiba-tiba masuk dari pintu belakang. “ADUUHH! Mas Rodja! Maapin! Maksud Bibi teh keluar cuma sebentar! Ternyata antrian kasirnya panjaang banget!” Menyadari Rodja sedang berdua dengan perempuan yang belum pernah dilihatnya, wanita yang biasa dipanggil Rodja dengan sebutan 'Bibi' itu, merasa tidak enak. “Aduh maap. Bibi ganggu, ya?” goda wanita berambut dicepol itu. "Enggak, Bi. Saya di sini cuma mau bantuin Rodja nyiapin minum. Karena Bibi sudah datang, saya permisi ke ruang depan," ucap Annisa malu. “Makasih, Annisa," ujar Rodja sebelum gadis itu kembali ke ruang tamu. Tatapan Rodja beralih ke bibi yang sedang cengengesan. "Udah datengnya lama banget, godain saya pula!" misuh Rodja. "Itu yang dijodohin sama Mas Rodja? Wiih cantiiik, Mas! Serasi banget sama Mas Rodja!" puji bibi yang sudah mendengar perihal rencana perjodohan Rodja dari papanya Rodja. Rodja bergumam seperti mengomel. "Maaf tadi Bibi ganggu ya, Mas. Tadi padahal suasananya lagi romantis, kayak di pelem-pelem. Ihik!" ucap Bibi dengan cekikikan di akhir kalimat. Rodja berhenti mengaduk gelas. "Saya nemenin tamu dulu. Dari pada godain mulu, mending Bibi bawain minuman sama kue ke depan," kata Rodja ngeloyor pergi. "Siap, Mas Rodja!" sahut Bibi dengan hormat bendera. . . Bibi membawakan minuman dan dua toples kue. "Silakan, Ustadz, Annisa. Maaf sederhana suguhannya," ucap Rodja merendah. "Syukron," kata Ustadz dan Annisa, sebelum menggumamkan basmallah dan meneguk sirup markisa dingin. "Saya duduk di sana dulu. Supaya kalian bisa ngobrol," kata Ustadz Yahya menunjuk ke arah meja ruang makan. "Baik, Pak Ustadz. Biar saya bawakan ini." Rodja memindahkan setoples kue dan segelas sirup milik Pak Ustadz ke meja makan, lalu kembali ke ruang tamu, menemui Annisa yang nampak malu-malu. Rodja duduk selisih dua sofa dari Annisa. Sama gelisahnya. "Em ... kamu suka lagu apa?" tanya Rodja memecah hening di antara mereka. Dia segera menyesali pilihan pertanyaannya. Bagaimana semestinya cara berkenalan dengan putri seorang ustadz? Dia tidak pernah mencobanya. Bahkan dengan Laura, tidak tepat kalau dibilang dirinya yang mendekati lebih dulu. Yang terjadi adalah sebaliknya. Laura yang gencar mendekati dia. Jadi bisa dibilang, Rodja nol pengalaman dengan perempuan. “Maksudmu nasyid atau lagu religi, gitu?” Annisa balik bertanya. “Bukan. Lagu yang biasa aja. Pop atau rock?” jawab Rodja. Mulai curiga, mungkin Annisa hanya tahu musik Islami saja? “Ooh. Hm ... ada satu, sih. Tapi lagu Malaysia.” “Lagu Malaysia??” sahut Rodja terkejut. “Iya. Judulnya 'Suci Dalam Debu'. Tahu gak?” tanya Annisa antusias. Rodja bengong dengan alis bertautan. “Suci Dalam Debu? Maksudnya ... tayamum?”  *** “HA HA HA!” Riko tertawa lepas mendengar cerita Rodja tentang yang terjadi saat pertemuan pertama dengan usaha perjodohannya dengan Annisa. Rodja menelan sesuap ketoprak, menu makan siangnya, lalu meneguk teh botol. “Maksudku, lahir di zaman apa dia? Dia 'kan seumuran sama kita. Kok bisa-bisanya pengetahuan musiknya old banget gitu?” kata Rodja. Pertanyaan ritorik, tentu saja. “Tapi, sampai sekarang pun lagu Malaysia masih punya tempat di hati penggemarnya, Ja. Om-ku juga penggemar lagu-lagu Malaysia. Dia punya mp3 kumpulan lagu-lagu terkenal Malaysia zaman dulu,” jelas Riko berbagi pengalaman tentang Om-nya. “Iya, tapi Om-mu 'kan beda zaman sama kita,” kilah Rodja. “Iya sih. Yang sepantaran kita, aku belum pernah ketemu yang nge-fans sama lagu Malaysia zaman dulu,” komentar Riko mengerlingkan bola mata, mengingat-ingat. Rodja dan Riko kembali sibuk dengan makanan mereka. “Tapi menurutmu gimana Annisa, Ja? Kamu ngerasa cocok sama dia?” tanya Riko penasaran. “Hm … yah ... dia cantik, lebih cantik dari di foto malah. Dia juga sopan, lembut dan kelihatan pemalu. Dia tiba-tiba muncul di dapur pas aku ribet nyiapin minuman buat mereka, gegara Bibiku belum balik juga dari warung. Annisa bantuin aku di dapur," kata Rodja. "Ooh so sweet, ya. Kayaknya dia feminin, ya? Perempuan banget. Oh Rodja you're so lucky!" ucap Riko iri. Rodja membalasnya dengan tatapan datar. "Ingat. Perjodohan ini cuma formalitas untukku. Aku sudah punya Laura." Raut muka Riko berubah sedih. "Sayang banget deh kalau gadis baik kayak Annisa kamu lewatin gitu aja. Rugi, tahu!" Bibir Rodja mencibir. "Anyway, so far cuma selera musik Annisa aja yang aku gak paham,” lanjut Rodja menceritakan kesannya terhadap Annisa. “Oh ya. Mana fotonya? Aku mau lihat dong!” tuntut Riko semangat. Rodja meraba kantung celana. “Duh! Maaf. Aku lupa pindahin fotonya ke dompetku.” Riko manyun. “Huh. Aku jadi curiga kamu sengaja supaya aku gak lihat foto Annisa.” Rodja tertawa. “Yang bener aja? Yang mau nikah sama dia siapa? Aku nahan diri tiga bulan cuma demi Papaku aja!” Riko menghela napas kasar. “Aku sendiri gak bisa bayangin nikah sama perempuan yang baru kukenal, tapi saudaraku ada yang baru kenal dua minggu padahal, langsung tancap gas nikah, Ja!” “Oh ya? Dua minggu? Trus gimana mereka sekarang?” tanya Rodja sambil menyedot minuman dinginnya. “Mereka baik-baik saja kelihatannya. Punya dua anak dan bahagia. Tapi kalau dicari-cari yang nikah cepat terus cerai, ada aja sih kurasa. Pacaran lama juga bukan jaminan pernikahan langgeng. Itu tergantung jodoh, Ja. Kalau tali jodoh masih nyambung, ya lanjut. Kalau tali jodohnya putus, ya bubar,” kata Riko panjang lebar. "Kamu udah cocok jadi konseling pernikahan," ujar Rodja, dibalas cengiran oleh temannya. Dari sudut mata, Rodja melihat Laura yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Laura sadar pacarnya mengamati. Mereka saling tersenyum. "Duh duh lempar-lemparan senyum nih yee. Darah mudaa, darahnya para remaaja." Riko melantunkan syair lagu Bang Haji Rhoma Irama, disusul tatapan tajam Rodja. Riko mungkin keseringan dengerin kumpulan tembang Om-nya, jadi selera musiknya ikutan old. Jangan-jangan malah bakal cocok sama Annisa, batin Rodja. Rodja tertunduk menatap minuman tehnya. Ucapan Riko tadi tentang tali jodoh, membuatnya berpikir. Apa dia berjodoh dengan Laura? Dia bahkan tidak pernah memikirkannya. Yang dia tahu, dia menginginkan Laura. Apa itu artinya mereka berjodoh, atau hanya sebatas tanda bahwa Rodja berhasrat dengannya? “Ehem! Udah jangan dipikirin terus, Ja,” goda Riko menyadarkan Rodja dari lamunannya. “Oh ya. Aku lupa kalau harus ke ruang guru,” ujar Rodja bergegas menyudahi makan siangnya. “He? Mau ngapain?” tanya Riko heran. “Mau ketemu guru kesenian.” “Guru kesenian? Buat apa, ya?” “Oh. Aku belum pernah cerita? Saking gak suka nyanyi dan nari, tiap ada tes yang melibatkan dua hal itu, aku auto-skip. Sebagai ganti, aku milih ujian alat musik atau tes tertulis. Nah hari ini jadwalku ujian tertulis kesenian,” jelas Rodja melirik jam tangan. “Segitunya, Ja?” seru Riko terkejut. “Yup. Segitunya," jawab Rodja nyengir kuda, sebelum terburu-buru berlari ke arah ruang guru. Tanpa ia tahu, sesuatu yang tak diduga akan mengganjal jalannya. *** Koridor yang disusuri Rodja agak sepi, karena mayoritas anak-anak masih di kantin atau masjid. Dia hampir tiba di ujung koridor samping taman, ketika tiba-tiba lengannya ditarik seseorang ke balik dinding. Punggung Rodja terempas ke dinding. “Laura?” seru Rodja terkejut, saat menyadari yang 'menculik'nya paksa adalah pacarnya. Laura menempelkan jari telunjuk ke bibirnya. “Ssst. Jangan berisik, sayang,” bisik Laura. Tanpa jeda, gadis itu menghimpit tubuh Rodja tanpa jarak dan memagut bibir pacarnya. “Aku kangen, sayang. Kamu gak kangen sama aku?” ujar Laura lirih saat keduanya mengatur napas yang memburu. Rodja menatap wajah cantik pacarnya. Memang terasa ada yang hilang setelah Rodja menjaga jarak dengan Laura, tapi dia juga heran bagaimana dirinya bisa menjalani hari seolah itu hal yang biasa? 'Tersiksa' bukan kata yang tepat untuk menggambarkan perpisahan sementara mereka, tapi jika Laura mengungkap rindu hingga meluapkannya dengan cara ini, Rodja merasa harus membalasnya dengan cara serupa. Begitukah mestinya? tanya Rodja pada dirinya sendiri. “Aku juga kangen,” jawab Rodja dusta. Bibir keduanya kembali saling pagut dan tangan Rodja mulai melingkari pinggang Laura. Ini jelas pelanggaran terhadap perjanjian Rodja dengan papanya, Rodja sadar itu. Kemudian sesuatu yang tak biasa, terjadi. Bayangan sekilas muncul dalam benak Rodja. Hanya sekian detik, namun cukup jelas hingga menggetarkan jiwanya. “Kalau kita melakukan kemaksiatan, jangan melihat diri kita hina, tapi lihatlah Allah Yang Maha Pengampun. Karena rahmat Allah melampaui kemarahan-Nya.” Suara Ustadz Yahya terdengar sangat jelas seolah sedang bicara padanya detik itu juga. Rodja mencengkram pundak Laura dan menariknya menjauh, membuat gadis itu terkejut. “Maaf. Aku --” Rodja menutup bibirnya, gusar. ”Aku harus ke kantor guru. Maaf Laura. Lain kali kita ketemu lagi, oke?” Rodja berjalan cepat tanpa melihat ke belakang. Laura masih berdiri diam di tempatnya. Berusaha memahami apa yang terjadi barusan. Dia merasa seperti baru saja ditolak. Rodja mengusap bibir. Merasa kotor, ia melipir ke toilet dan berkumur. Terlintas di pikirannya untuk wudu, dan akhirnya Rodja benar-benar melakukannya. Pemahaman itu sampai padanya, meski tidak utuh. Tuhan memang Maha Pengampun, tapi itu bukan berarti dia bisa melakukan hal-hal yang tidak diridai Tuhan sesuka hatinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN