.
.
Indah sekali memang, ketika ilmu dan akhlak bersanding bersama, dan tidak berdiri sendiri-sendiri.
.
.
***
Gigi Riko menggigit kentang goreng, dan setengah bagiannya jatuh ke piring. Bola matanya membulat sempurna.
“Stop. Aku mulai takut liat mukamu,” kata Rodja yang mendadak berhenti mengaduk milk shake coklat.
Riko buru-buru menelan sisa makanan di rongga mulutnya. “SERIUS PAPAMU NGOMONG GITU? SERIUS??” tanya Riko tak percaya.
“Sepuluhrius,” jawab Rodja dengan tatapan menerawang. Tangannya kembali mengaduk sedotan.
Riko diam ternganga sesaat. “PAPAMU KEREEEN!!” puji Riko dengan ekspresi kagum.
“Maksudmu?” tanya Rodja heran. Reaksi Riko selalu beda dengan orang normal. Komentar papanya keren setelah dia menceritakan perjodohan itu?
“Papamu rela mengikuti saran dari seorang ustad, meski tahu saran itu mungkin akan membuat Papamu dipandang sebelah mata oleh masyarakat, demi KAMU seorang!” seru Riko mengacungkan jari ke arah temannya.
“Kurang keren apa, coba? Papamu sayang banget sama kamu, Ja,” imbuh Riko nyengir sembari mengunyah kentang goreng.
Rodja menatap Riko takjub. Dia setengah berharap Riko akan berada di pihaknya dan turut menolak rencana perjodohan itu. Tapi sepertinya dia berharap pada manusia yang salah.
“Oh ya. Kok tumben kamu gak makan siang bareng Laura dan geng Ray?” tanya Riko.
“Itu salah satu permintaan Papaku, supaya sementara aku jaga jarak sama Laura,” jawab Rodja lesu. Dia celingukan melihat Laura tengah makan siang bersama tiga perempuan yang sepertinya anak cheerleader.
Sementara di meja lain, Rodja melihat Toni dan Andre makan tanpa Ray.
“Tumben Ray gak ada,” komentar Rodja.
“Kamu gak tahu?” tanya Riko heran.
“Apa ya?”
“Ray izin sekolah seminggu. Dia ke Kalimantan. Ayahnya menikah lagi."
Rodja berhenti makan. “Aku belum tahu," ujar Rodja terkejut. Mengingat dia lebih sering berinteraksi dengan Ray, sungguh ajaib rasanya mendengar berita penting ini justru dari Riko.
Riko meninggikan alisnya. “Nah. Sekarang kamu tahu. Selamat.”
“Kamu tahu dari siapa?” tanya Rodja penasaran.
“Dari siapa lagi? Geng Go S*it!” Mereka senyum-senyum sambil melirik ke arah geng yang dimaksud, seperti biasa masih konsisten nongkrong di dekat gerobak mi pangsit.
“Muka Annisa kayak gimana, Ja?” tanya Riko tiba-tiba.
“Yah ... lumayan. Cantik, lah. Imut," jawab Rodja dengan gaya seolah dia juri kontes kecantikan remaja.
“Oh ya? Kamu punya fotonya?” sahut Riko antusias.
“Ada di rumah. Kenapa?”
“Bawa dong fotonya, Ja. Aku 'kan juga mau lihat.”
“Ya ntar dibawain,” kata Rodja enteng, seolah Riko ingin meminjam majalah atau buku novel.
Keduanya kembali sibuk mengunyah makanan.
“Terus, Laura gimana?" tanya Riko hati-hati.
“Aku udah ngomong sama Laura. Dia bilang mau nunggu tiga bulan. Tiga bulan gak lama, 'kan? Emangnya bisa ada kejadian apa dalam tiga bulan?” kata Rodja yakin.
Tanpa Rodja tahu, bahwa tiga bulan ke depan akan ada banyak hal yang terjadi. Sangat banyak.
***
Sore ini bukan sore yang biasanya bagi Rodja. Sebentar lagi, dia akan bertemu dua orang yang belum pernah ditemuinya. Ustadz Yahya dan Annisa.
Rodja duduk di ruang tengah, menyalakan televisi dengan suara kecil. Dia sudah rapi dengan baju koko dan celana panjang putih. Rambutnya agak basah setelah keramas, dan tubuhnya menguarkan aroma kayu manis dari sabun mandi.
“Assalamualaikum.” Suara laki-laki di luar terdengar setelah ketukan pintu dua kali.
Rodja segera mematikan televisi dan memakai peci putihnya. “Wa alaikum salam,” sahut Rodja, setengah berlari ke arah pintu.
Pintu perlahan terbuka. Senja memerah berpendar dari belakang sosok lelaki berpakaian serba hitam dan berpeci abu-abu, berparas tampan dan bermata teduh. Alis tebalnya memberi kesan ketegasan. Untuk sesaat, Rodja terpana.
“Rodja?” kata beliau tersenyum, lebih terdengar seperti menyadarkan lamunan, ketimbang memastikan yang membuka pintu adalah benar yang bernama Rodja.
“Oh ... maaf. Silakan masuk, Pak Ustadz.” Rodja membuka pintu lebih lebar. Ustadz Yahya memasuki ruangan, meninggalkan jejak wangi campuran kasturi dan aroma rempah yang maskulin.
Pria itu berjalan perlahan tanpa menoleh kanan - kiri. Jika tanpa peci, penampilan beliau dengan tas selempangnya lebih nampak seperti mahasiswa atau pekerja lepas, alih-alih ustadz.
“Silakan duduk, Pak Ustadz,” ucap Rodja dengan tangan terarah pada sofa ruang tamu.
Ustadz Yahya duduk di sofa, dengan tangan kanan di dalam kantung baju. Tas kulit diletakkan di sampingnya.
“Sebentar ya, Pak Ustadz. Saya ke belakang dulu, mau minta Bibi untuk nyiapin minuman,” ucap Rodja hendak menuju dapur.
“Itu nanti saja, Rodja. Kita tunggu Annisa datang dulu,” kata Ustadz Yahya.
“Baik, Pak Ustadz," sahut Rodja sopan.
“Mungkin Annisa kena macet di jalan,” tebak Ustadz Yahya. Pria itu menepuk dudukan sofa dua kali. “Duduklah di sini. Kita ngobrol sebentar, sambil menunggu dia datang," ujar beliau dengan senyum ramah.
Rodja manut dan duduk di samping beliau. Perasaannya campur aduk, antara tegang dan malu. Tegang karena duduk di samping orang alim ulama, dan malu karena papanya sudah menceritakan maksiat yang dilakukannya bersama pacarnya beberapa hari yang lalu.
“Kamu gak berubah. Sudah berapa lama ya? Rasa-rasanya hampir 2 tahun,” ucap Ustadz Yahya, mengejutkan Rodja.
“P-Pak Ustadz masih ingat saya?” tanya Rodja.
Ustadz Yahya tertawa. “Alhamdulilah Allah yang buat saya masih ingat kamu. Waktu Papamu kasih lihat fotomu, saya sudah tahu. Kamu adalah qori yang membuka acara maulid di SMA-mu. Waktu itu saya mengisi ceramah di sana. Seingat saya, kamu membacakan surat Al-Ahzab 38-43.”
Rodja ternganga. "K-Kok Pak Ustadz masih ingat sampai ke ayat yang saya baca?"
Lawan bicaranya tersenyum. Senyum yang enak dilihat, menyejukkan jiwa. "Allah menganugerahkan qari itu dengan suara yang sangat indah, masyaallah."
Rodja tertunduk malu.
Pintu diketuk. Terdengar suara perempuan setelahnya. “Assalamualaikum.”
“Wa 'alaikum salam,” sahut Rodja dan Ustadz Yahya bersamaan.
"Itu mungkin Annisa," tebak Ustadz Yahya.
Rodja bergegas ke pintu. Pintu terbuka. Kedua remaja itu nampak malu-malu. Biar bagaimana, keduanya sama-sama tahu tengah berusaha dijodohkan. Dan keduanya sudah saling melihat foto masing-masing. Namun melihat foto dan melihat langsung, sungguh terasa bedanya.
Annisa terlihat lebih cantik dari fotonya. Dia terlihat anggun dengan gamis terusan krem muda bermotif bunga kecil, dan hijab coklat muda polos. Rodja mengingatkan dirinya bahwa dia sudah punya pacar. Secara fisik, Laura tetap lebih cantik darinya, batin Rodja.
“Rodja?” Annisa menyebut nama Rodja seolah pernah mengenalnya.
Rodja mengangguk. “Iya. Aku Rodja.” Rodja menyebut namanya seraya menyodorkan tangan.
“M-Maaf. Aku salamannya dari jauh gak apa-apa, ya?” kata Annisa dengan tangan bersedekap.
Rodja segera membalas salam itu dengan cara yang sama. “Maaf, aku lupa,” ujar Rodja dengan wajah memerah menahan malu. Kok bodoh sekali dia? Hendak bersalaman dengan putri seorang ustadz?
“Gak apa-apa,” kata Annisa tersenyum.
Rodja mempersilakan Annisa masuk. Wangi bunga yang lembut, membuat Rodja harus mengingatkan dirinya sekali lagi bahwa ini hanya perjodohan bohong-bohongan yang harus dilaluinya begitu saja selama tiga bulan. Bohong-bohongan. Anggap saja akting, kata Rodja pada dirinya.
“Permisi,” kata Annisa saat masuk ke ruang tamu. Dia bersedekap dengan kepala tertunduk hormat pada Ustadz Yahya sebelum duduk. Rodja kembali duduk di samping Ustadz Yahya.
"Kalian sudah saling kenal sebelumnya?” tanya Ustadz Yahya menatap mereka berdua bergantian.
“Belum, Pak Ustadz. Ini pertama kali kami ketemu,” jawab Rodja langsung. Sementara Annisa diam saja menundukkan pandangan.
“Baiklah. Kita bisa mulai?” tanya Ustadz Yahya.
Keduanya mengangguk. Ustadz Yahya memimpin do'a dan membaca Al Fatihah, lalu selawat Nabi.
“Rodja, apa Papamu sudah pernah jelaskan kalau kita akan ngaji setengah jam, dan sisa waktunya untuk kalian berdua saling kenal?” tanya Ustadz Yahya memastikan.
"Sudah, Pak Ustadz,” jawab Rodja sambil membatin, apa kiranya yang nanti mau dibicarakan dengan Annisa?
“Baiklah. Kita mulai dengan kajian kitab Al-Hikam oleh Syeikh Ibnu Atha'illah al-Iskandari,” kata beliau memulai sesi pengajian, sambil membuka kitab dari tasnya.
Keduanya mengangguk. Rodja meraih buku dan pulpen yang sudah disiapkannya di meja. Annisa mengeluarkan alat tulis dari tas mungilnya.
“Hari ini kita akan membahas mengenai pentingnya kita tidak mengandalkan amal. Kenapa? Karena mengandalkan amal dapat berujung pada sifat ujub atau merasa dirinya hebat, cenderung merendahkan orang lain, merasa dirinya ahli surga, dan orang selain dirinya adalah ahli neraka.
Mengandalkan amal juga dapat menyebabkan diri mudah berputus asa dengan pengampunan Allah jika kita terjerumus kepada maksiat. Dan dosa dari putus asa, adalah lebih besar ketimbang dosa dari maksiat itu sendiri,” jelas Ustadz Yahya membacakan syarah dari kitab.
Rodja menundukkan kepala. Membahas dosa dan maksiat, membuatnya bercermin. Seringkali dia sudah tahu padahal, bahwa sesuatu itu salah, namun tetap dikerjakan.
“Dalam akidah ahlul sunnah wal jama'ah al-Asy'ariyah, kita diwajibkan mengenal Tuhan terlebih dahulu, dan bukan mensyirikkan atau menuduh orang lain syirik.”
Rodja dan Annisa mengangguk sambil mencatat.
“Untuk bisa mengenal Allah, kita wajib mempelajari sifat-sifat Allah. Sifat Allah ada banyak, tapi dalam akidah Al-Asy'ariyah, ada 20 sifat Allah yang wajib dipahami, karena ke-20 sifat ini berpotensi menimbulkan perdebatan, dan dikhawatirkan bisa salah dipahami. Dan hari ini kita akan membahas salah satu sifat Allah, yaitu wujud (ada).
Adalah naluri setiap manusia, untuk mencari Tuhan. Bahkan kepercayaan animisme dan dinamisme hadir karena kerinduan mereka terhadap Tuhan.
Kaum Muktazilah meyakini bahwa akal manusia cukup untuk mencari kebenaran. Keyakinan ini mirip dengan para filsuf.
Sementara akidah Asy'ariyah meyakini perlu ada dua dalil, yaitu dalil akal dan dalil wahyu. Kita percaya bahwa akal manusia saja tidak cukup untuk dapat menemukan kebenaran.
Secara sederhana, jika kita melihat jejak kaki, kita akan meyakini bahwa sebelumnya ada seseorang yang melangkah dan meninggalkan jejaknya.
Dengan logika yang sama, jika kita melihat matahari, bintang, bulan, kita meyakini bahwa ada yang menciptakan itu semua.”
Ustadz Yahya mengeluarkan sebuah pulpen dari tasnya. “Menurut kalian, apa pulpen ini ada yang membuatnya?” tanya beliau.
“Iya, Pak Ustadz,” jawab keduanya mengiyakan.
“Bagaimana kalian bisa tahu? Kalian tidak melihat pada waktu pulpen ini dibuat," tanya beliau lagi.
“Hanya dengan logika,” sahut Rodja.
“Persis. Common sense. Kita tidak pernah melihat saat pulpen ini dibuat, tapi kita meyakini pulpen ini dibuat oleh seseorang. Seandainya ada orang yang berkata pada kalian : Kehebatan dari pulpen ini adalah, pulpen ini ada dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya. Apa kalian akan percaya?” tanya Ustadz Yahya.
Keduanya menggeleng pertanda tak percaya.
“Kalau kalian melihat sebuah bangunan megah yang indah, dengan tiang-tiang tinggi, jendela-jendela besar, genteng yang bergelombang, pertanyaan apa yang terlintas pertama kali?” kata beliau lebih ke arah menguji ketimbang bertanya.
“Aku akan penasaran siapa arsiteknya? Siapa yang membangunnya?” jawab Annisa.
“Lalu kalau ada orang yang bilang : Bangunan ini adalah bangunan yang ajaib, karena tak ada yang membuatnya. Banjir besar telah membentuk dinding dan tiang-tiang, angin telah membuat lubang-lubang jendela, dan hujan telah membentuk genteng-genteng bergelombang. Apa kalian akan percaya?” tanya Ustadz Yahya.
"Enggak," jawab keduanya serempak.
“Itulah mengapa, percaya tidak mesti dengan panca indera. Paham?"
"Paham, Pak Ustadz," sahut keduanya.
“Kita kembali lagi ke pembahasan 'mengandalkan amal'. Ciri mengandalkan amal adalah lemah harapan kepada Allah, dan mudah merendahkan orang lain. Setan mempengaruhi manusia melalui beberapa jalan, diantaranya menghalangi manusia dari beribadah. Melalui riya atau pamer, sehingga beribadah bukan karena Allah, tapi karena ingin dilihat manusia. Melalui ujub, merasa hebat, bangga dengan amal dan merasa yakin dirinya akan masuk surga.
Padahal amal tidak menghantar ke surga, tapi rahmat Allah-lah yang menghantarkan ke surga. Amal semestinya dilakukan dengan kesadaran bahwa diri kita adalah seorang hamba. Bukan karena untuk mendapat imbalan surga.
Lalu terkadang muncul pertanyaan : Kalau amal saya tidak memasukkan saya ke surga, lalu buat apa saya beribadah? Ini adalah pertanyaan orang yang lemah imannya. Orang yang imannya kuat, akan beribadah semata karena dia seorang hamba Tuhan.
Orang yang merasa pasti masuk surga karena amalnya, mendekati syirik. Karena dia merasa ketaatannya berasal dari dirinya sendiri. Sehingga jika dia terjerumus ke dalam maksiat, cenderung untuk mudah putus asa, putus harapan kepada Allah.
Kalau kita melakukan kemaksiatan, jangan melihat diri kita hina, tapi lihatlah Allah Yang Maha Pengampun. Karena rahmat Allah melampaui kemarahan-Nya.”
Rodja menelan saliva. Kalimat itu terdengar sangat indah dan teresap langsung ke dalam kalbunya. Matanya nyaris berkaca-kaca.
“Rodja,” panggil Ustadz Yahya, membuat yang dipanggil berusaha meredam emosinya.
"Iya, Pak Ustadz?" sahut Rodja.
“Kamu mau membacakan beberapa ayat Al-Qur'an?” tanya beliau tersenyum.
“Ayat? Oh ... pengajiannya sudah selesai, Pak Ustadz?” tanya Rodja. Dia belum pernah merasakan mengkaji kitab seindah dan sejelas ini sebelumnya. Setengah jam berlalu dan nyaris tak terasa.
“Iya. Untuk hari ini, materinya sudah cukup."
“Ayat Al-Qur'an yang mana, Pak Ustadz?” tanya Rodja membuka lembaran Al-Qur'an di meja.
“Terserah kamu. kamu pilih dua atau tiga ayat saja," kata beliau.
Ustadz Yahya menatap Annisa. “Annisa, apa kamu tahu Rodja seorang qari?” tanyanya dengan senyum penuh arti.
Muka Annisa merah merona. "O-Oh? Iya. Abi cerita," jawab Annisa gugup.
Rodja berhenti membalik lembar al-Quran. “Ar-Ra'd 26-28?” tanya Rodja pada Pak Ustadz.
“Ya, silakan,” sahut beliau.
Rodja mulai membaca dengan tartil Syeikh Mishary Rashid al Afasy, seorang qari kenamaan dari Arab, yang cara membaca al-Qur'an nya telah dia ikuti sejak kecil.
اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ ۗوَفَرِحُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا مَتَاعٌ
Allāhu yabsuṭur-rizqa limay yasyā`u wa yaqdir, wa fariḥụ bil-ḥayātid-dun-yā, wa mal-ḥayātud-dun-yā fil-ākhirati illā matā'
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَآ اُنْزِلَ عَلَيْهِ اٰيَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖۗ قُلْ اِنَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ اَنَابَۖ
wa yaqụlullażīna kafarụ lau lā unzila 'alaihi āyatum mir rabbih, qul innallāha yuḍillu may yasyā`u wa yahdī ilaihi man anāb
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
Allażīna āmanụ wa taṭma`innu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma`innul-qulụb
Suara Rodja terdengar dalam dan bening. Warna suaranya berbeda dari Syeikh Mishary, tapi dia mampu mengikuti cara murottal khas Syeikh Mishary.
“Shadaqallahul ‘Adzhiim.” (Benarlah apa yang difirmankan Allah Yang Maha Agung)
Rodja menegakkan kepala setelah usai membacakan ayat ke-28. Ekspresi wajah Annisa menarik perhatiannya. Kelopak matanya terbuka melebar, sorotnya nampak berkilauan, mengingatkan Rodja pada suatu peristiwa entah apa.
“Subhanallah. Indah sekali bukan, Annisa?” komentar Ustadz Yahya.
"I-Iya. Indah sekali," respon Annisa sembari menundukkan pandangan, merasa malu kepergok menatap ke arah Rodja dengan ekspresi kagum.
“Rodja, kamu mengerti arti dari ayat yang kamu baca?” tanya Ustadz Yahya.
"Qur'an terjemahannya ...,” kata Rodja berusaha mengambil Al-Qur'an terjemahan di bawah Al-Qur'an yang baru dia baca.
“Tidak usah, Rodja. Nanti saja kamu baca terjemahannya. Kamu hafal Juz Amma?”
“Belum semua,” jawab Rodja jujur. Mestinya dia menghafalnya, tapi dia terlalu sibuk bermain, sepertinya.
“Kamu bisa mulai mempelajari arti per kata dari surat-surat di Juz Amma, itu akan membantu memperkaya perbendaharaan kata, supaya kamu bisa lebih paham arti bacaan Qur'an tanpa harus sering membuka terjemahan,” kata Ustadz Yahya memberi tips.
Rodja mengangguk. Dia paham kenapa Ustadz Yahya sengaja tidak bertanya pada Annisa. Annisa adalah anak seorang ustadz seniornya. Kemungkinan besar, Annisa sudah sejak lama hafal Juz Amma. Rodja berpikir, Ustadz Yahya mungkin tidak ingin membuat Rodja terlihat 'timpang' ilmu agamanya dibanding Annisa. Beliau berusaha menjaga harga dirinya, di depan Annisa yang sedang berusaha dijodohkan dengannya. Rodja merasa takjub. Indah sekali memang, ketika ilmu dan akhlak bersanding bersama, dan tidak berdiri sendiri-sendiri.
"Saya permisi ke dapur dulu ya, Pak Ustadz. Mau siapin minum," kata Rodja. Sebenarnya, mestinya Bibi sudah kembali dari warung dan menghidangkan teh atau kopi untuk mereka. Tapi karena setelah sesi ngaji belum nampak batang hidung Bibi, sebagai tuan rumah, dia merasa bertanggung jawab.
“Kamu perlu bantuan?” tanya Annisa. Agaknya dia khawatir, karena anak laki-laki umumnya tidak biasa melayani tamu.
“Gak usah, kamu duduk saja,” kata Rodja tersenyum, lalu menuju dapur.
Tinggal lah Ustadz Yahya dan Annisa di ruang tamu.
“Kamu kenal Rodja sebelumnya, 'kan?” tanya Ustadz Yahya memecah keheningan.
Muka Annisa merah padam bagai tertangkap basah. Gadis itu diam salah tingkah, sementara Ustadz Yahya tersenyum penuh arti, seolah baru saja mengetahui rahasia yang kemungkinan akan menjadikan tiga bulan ke depan ini diwarnai dengan banyak hal menarik.
.
.
***