.
.
Apa pandangan orang lain begitu penting, lebih dari pandangan Tuhan dan Rasul-Nya?
.
.
***
Suasana makan malam hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok garpu dengan piring. Pasca Joni memergoki Rodja berduaan dengan pacarnya di kamar, Joni tidak pernah pulang ke rumah di atas pukul delapan malam. Mereka jadi rutin makan malam bersama, tapi sepanjang prosesi makan, Joni diam saja, dan Rodja tidak berani memulai percakapan. Papanya mungkin masih marah, tebak Rodja, dan dia maklum karenanya.
Usai makan, Joni meneguk air putih dan mengusap bibir dengan serbet.
“Papa mau ke ruang kerja. Kalau kamu sudah selesai makan, segera ke ruang kerja Papa. Ada yang ingin Papa bicarakan,” kata Joni terdengar tegas.
“Iya, Pa,” sahut Rodja mengangguk.
Setelah selesai makan, Rodja menaiki tangga sambil menebak-nebak yang akan dibicarakan Papanya. Jantungnya berdebar kencang. Entah kenapa, perasaannya tidak enak.
Pintu kerja Joni adalah pintu geser kaca dengan frame kayu kotak-kotak. Rodja mengetuknya dua kali.
“Masuk,” sahut Joni dari dalam ruangan.
Rodja menggeser pintu, memasuki ruangan dan menutup pintu kembali. Ruangan itu bergaya klasik. Satu-satunya ruangan di rumah yang materialnya serba kayu. Lantai, dinding, rak buku, furnitur semuanya terbuat dari kayu. Papanya sedang duduk di meja dengan jemari disatukan.
Wajah Joni nampak tegang, dan Rodja tentu saja menyadarinya, hingga ketegangan itu terasa menular.
“Duduk,” kata Joni singkat.
Rodja manut duduk di sebuah kursi kayu ukiran.
“Rodja, Papa akan membicarakan sesuatu yang tidak biasa. Kamu mungkin akan terkejut, tapi Papa harap kamu mau mendengar penjelasan Papa sampai selesai.”
Kalimat pembuka dari papanya, membuat Rodja mengernyitkan dahi. Memangnya, seaneh apa hal yang akan disampaikan papanya?
Joni mulai bicara, dan setelah sepuluh menit berlalu ...
“APAAAA??? NIKAHH??” jerit Rodja syok tingkat tinggi.
Jantung Joni hampir copot rasanya ketika mendadak Rodja mendorong kursi dan berdiri.
“Tunggu dulu. Tunggu dulu, Rodja. Seperti yang Papa bilang tadi, pembicaraan ini bukan pembicaraan normal kita yang biasanya. Makanya, tolong dengarkan dulu sampai selesai," pinta Joni yang ikut berdiri dan memberi isyarat dengan tangan agar putranya tenang.
“Aku masih muda, Pa! Aku bahkan belum dua puluh tahun! Papa yakin Papa sehat?” teriak Rodja membabi buta.
Inilah sebabnya Joni memilih ruang kerjanya sebagai tempat untuk membicarakan hal ini. Karena ruang kerjanya adalah yang paling kedap suara ketimbang di ruangan lain.
"Duduk!!" titah Joni mengalahkan volume suara putranya.
Rodja seketika diam dan manut duduk. Papanya jarang memerintah. Jika itu sudah terjadi, artinya harus dituruti.
Joni menatap putanya yang meski pandangannya tertunduk, namun bola matanya liar gelisah, seolah Joni akan menjerumuskannya ke hal yang sangat mengerikan.
Ingatannya melayang ke dua hari yang lalu, saat dia berpamitan dengan Ustadz Yahya.
“Bersiap-siaplah, Pak. Dari semua anak remaja 'bermasalah' yang kami bantu di sini, kami selalu menawarkan pernikahan sebagai salah satu solusi, dan meskipun sedikit yang akhirnya benar-benar menikah, awalnya semua reaksi mereka sama : MENOLAK!”
Joni menghela napas berat. Dia memaklumi reaksi Rodja sebenarnya. Dirinya sendiri, dulu sekiranya bukan karena mantan istrinya mengandung Rodja, mungkin dia tidak akan mau menikahi wanita itu. Dia seperti kebanyakan remaja, saat itu menganggap pacaran hanyalah untuk bersenang-senang. Rodja juga kemungkinan memacari gadis binal itu semata karena fisik, tidak lebih.
“Rodja, dengar. Masa lalu Papa, sangat sangat Papa sesali. Jika Papa membiarkan hal yang sama terjadi padamu, berarti Papa adalah orang tua yang sangat sangat bodoh.
Hening. Tentu saja Rodja paham maksudnya. Awalnya Rodja hanya diberitahu bahwa mamanya sudah meninggal. Tapi kemudian dari percakapan sanak saudara di acara keluarga besar, Rodja jadi tahu bahwa mamanya pergi meninggalkannya dalam keadaan kecanduan, dan bahwa dirinya sebenarnya adalah anak yang tidak diharapkan kelahirannya. Anak haram, demikian masyarakat biasa menyebutnya.
Masih jelas di ingatan Rodja, sepulang dari acara keluarga itu, Rodja kecil bertanya pada papanya, "benarkah yang mereka bilang, Pa? Mama bukan meninggal, tapi pergi ninggalin aku? Papa dan Mama sebenarnya gak mau aku lahir?"
Papanya tersentak kala itu. Sambil menangis terisak, Joni merangkul erat putranya.
"Maafin Papa, Rodja. Maafin Mama juga. Yang jelas, sekarang Papa sayang sama kamu, Nak. Sayang sekali. Insyaallah kita akan baik-baik saja tanpa Mamamu. Papa akan usahakan semua yang terbaik untukmu."
Rodja membalas rangkulan papanya. Mereka saling menguatkan. Rodja sadar, di antara semua orang, yang paling peduli dan cinta padanya, adalah papanya.
Joni membuka laci, mengambil selembar foto dan meletakkannya di meja.
“Ambil dan lihatlah,” kata Joni.
Rodja mengambilnya. Foto itu memperlihatkan seorang gadis berwajah manis dengan bibir tipis melengkung, mata kucing dengan sorot penuh keramahan, hidung mungil dan kulit cerah, mengenakan hijab berwarna merah muda pastel.
“Gimana? Kamu suka yang kamu lihat? Yah ... memang dia tidak secantik pacarmu, tapi dia lumayan, 'kan?” Joni bertanya dengan cengiran.
“Memang fisik bukan segalanya, tapi sebelum tahap perkenalan lebih jauh, tetap penting bagi untuk menyukai yang akan menjadi calon istrimu,” tambah Joni.
Rodja menggelengkan kepala. “Woo ... hoo. Sebentar, Pa. Calon istri? Apa ini gak terlalu cepat?”
“Sebelumnya, Papa perlu tegaskan bahwa ini bukan paksaan. Sama sekali tak ada pemaksaan, oke? Papa hanya ingin menunjukkan kamu pilihan selain pacarmu. Perempuan di foto ini bernama Annisa. Dia adalah anak seorang ustadz kenalan teman Papa. Lalu, Papa minta kamu mengikuti satu jam pengajian tiap hari oleh Ustadz Yahya. Akan ada Annisa juga di dalam pengajian itu. Pengajiannya hanya setengah jam. Di sisa waktunya, kamu dan Annisa bisa ngobrol supaya kalian bisa saling mengenal,” jelas Joni.
“Ustadz Yahya yang pernah ceramah di acara maulid sekolahku?” tanya Rodja.
“Oh? Kamu sudah pernah ketemu?” Joni terkejut bercampur senang.
“Iya kalau benar yang itu Ustadz Yahya yang Papa maksud. Annisa anaknya Ustadz Yahya?” Rodja bertanya heran.
Joni menggeleng. “Bukan. Annisa adalah anak temannya yang juga seorang ustadz.”
Rodja menyipitkan mata. Merasa tidak pantas dirinya dipasangkan dengan putri seorang ustadz.
“Saran perjodohan ini datang dari Ustadz Yahya,” kata Joni.
“Perjodohan ini idenya Ustadz Yahya? Kok bisa?” tanya Rodja terkejut.
Hening sesaat, sebelum Joni menjawab, "Papa cerita tentang kamu dan pacarmu itu, pada beliau.”
Rodja menepuk keningnya, memejamkan mata. "Pa! Kenapa cerita sama orang luar? Aku malu! Itu 'kan aib keluarga!" protesnya nyaris dengan suara melengking.
“Papa gak tahu harus menumpahkan beban ini ke mana! Kamu pikir insiden waktu itu di kamarmu bukan hal yang mengerikan buat Papa? Dan Papa gak bisa diam aja, membiarkan kejadian itu bagai angin lalu. Makanya Papa pergi ke masjid, dan imam masjid itu kasih nomor kontak beliau," jelas Joni merunut kronologisnya.
“Ustadz Yahya adalah pewaris pondok pesantren yang sering menangani anak-anak muda dengan permasalahan semacam ini, jadi Papa pergi berdiskusi dengannya,” tambah Joni.
Rodja menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir mengapa Papanya bertindak sampai sejauh ini, menemui ulama dan membahas kasus kehidupannya.
“Awalnya Papa juga sama seperti kamu, cenderung menolak ide ini, tapi setelah mendengar penjelasan dari Ustadz Yahya, Papa mulai berpikir ini bukan ide yang buruk. Sebenarnya nikah muda banyak berlangsung di desa, dan terasa biasa saja di sana. Tidak digembar-gemborkan. Meski di kota juga sekarang mulai banyak pernikahan muda di usia 18-20 tahun. Mereka tetap kuliah dan bekerja, ada yang wirausaha. Mereka hidup normal. Pernikahan tidak menjadi beban untuk mereka,” kata Joni sambil mengangkat bahu.
"Tapi Pa, apa yang akan dikatakan teman-temanku nanti kalau mereka tahu aku nikah muda?” tanya Rodja masih dengan nada protes.
Joni menggeser posisi duduk mendekat ke putranya. “Kamu malu? Papa juga sempat mikir begitu awalnya. Tapi ... mereka hanyalah orang lain. Dan kamu adalah segala yang Papa punya. Kalau Papa membiarkanmu terjerumus pada dosa zina, apa yang akan terjadi pada kita nanti di akhirat? Papa ingin kita selamat. Apa pandangan orang lain begitu penting, lebih dari pandangan Tuhan dan Rasul-Nya?” Suara Joni bergetar di akhir kalimat, dan Rodja menyadari mata Papanya yang mulai berkaca-kaca.
Rodja menghela napas berat. "Aku ngerti, Pa. Tapi pernikahan adalah komitmen yang serius, dan aku masih terlalu muda."
Joni berdiri dan berjalan menghampiri Rodja. “Seperti yang Papa katakan tadi, Papa tidak akan memaksamu. Kamu hanya perlu mengikuti pengajian Ustadz Yahya bersama Annisa dan berkenalan dengannya. Tiga bulan lagi kamu akan lulus. Selama tiga bulan itu, Papa minta kamu menjaga jarak dengan pacarmu. Setelah tiga bulan, kamu bisa memutuskan sendiri. Kalau kamu tetap menolak, maka kita batalkan rencana pernikahan ini, oke?” kata Joni seraya mencengkeram pundak putra tunggalnya.
Rodja menatap mata Papanya lekat. “Tiga bulan? tanya Rodja memastikan.
“Iya. Tiga bulan,” jawab Joni mantap.
Hening beberapa detik, sebelum Rodja menjawab, “Oke, Pa.”
Joni memeluk Rodja dengan mata membasah. Rodja membalas rangkulan papanya, sambil melirik foto Annisa di meja.
Ada perasaan aneh saat melihat foto itu pertama kali. Seperti dia pernah melihat wajahnya sebelumnya. Mungkin hanya perasaannya saja.
***
Siang itu di jam istirahat, Rodja dan Laura ada di atap gedung A. Rodja sengaja memilih tempat pertemuan itu karena ...
“APPAA??? KAMU SERIUS, RODJAA!!??” teriak Laura sekencang-kencangnya.
Rodja memejamkan mata sedikit. Suara desingan angin terdengar cukup kencang padahal, tapi pekikan Laura lebih nyaring.
“T-Tenang dulu, Laura,” pinta Rodja dengan isyarat tangan, berusaha menenangkan pacarnya.
Laura justru berteriak lebih keras. “Tenang gimana maksudmu, Ja?? Tunggu dulu ... apa ini artinya kamu mau putus??”
Rodja menggeleng. “Bukan. Bukan. Seperti yang aku bilang tadi, kita cuma jaga jarak tiga bulan. Itu aja. Setelah tiga bulan, semuanya bakal normal lagi kayak biasanya.”
Laura menatap Rodja tak percaya. “Jadi maksudmu, aku harus merelakan pacarku berkenalan dengan perempuan lain selama tiga bulan, dan kalau sesudahnya pacarku cocok dengannya, dia akan menikahi perempuan itu, BEGITU ??” bentak Laura hingga urat lehernya nampak.
“Jangan kuatir, Laura. Selama tiga bulan, gak akan ada kontak fisik sama Annisa. Dia anak seorang ustadz, dan dia berhijab. Kamu jangan bayangin --”
“OH … Annisa? Namanya Annisa? Kamu tahu, Rodja, aku rasa --” Kalimat Laura terpotong dan gadis itu menepuk dahinya sendiri.
Laura mengatur napas dan melanjutkan bicaranya, “Menurutku, Papamu sangat kolot! Yang kita lakukan waktu itu adalah hal biasa! Kebanyakan pasangan melakukan 'itu' jika saling mencintai!! Papamu bereaksi berlebihan!”
Alis Rodja berkerut. “Aku paham kamu marah, tapi jangan hina Papaku. Papaku melakukan ini karena dia peduli padaku. Itu aja. Tidak bisakah aku minta pengertianmu? Ini cuma tiga bulan. Bukan selamanya,” kata Rodja berusaha menyentuh pergelangan tangan Laura.
Laura menepis tangan Rodja, membalik tubuhnya dan berjalan menjauh. Dia melambaikan tangan tanpa menoleh. “Semoga sukses dengan pernikahanmu, Rodja,” ucapnya sinis.
Rodja merasa berat melihat sosok Laura meninggalkannya. Setelah akhirnya dia pikir telah menemukan gadis yang paling sempurna untuk jadi pasangannya.
Rodja mengejar dan menarik Laura mereka berhadapan. “Please, Laura. Aku gak mau kehilangan kamu. Tunggu aku tiga bulan, ya?” pinta Rodja lembut.
Laura menatap bola mata Rodja yang sorotnya menampakkan kesungguhan. “Oke. Tiga bulan,” jawab Laura mengalah. Rodja tersenyum sumringah.
***