Solusi?

1644 Kata
. . "Kalau Annisa bersedia menemui Rodja lebih dari sekali, itu artinya dia merasa cocok dengan Rodja." . . *** Joni masih nampak terkejut dengan pertanyaan Ustadz Yahya barusan. "Apa Rodja tertarik untuk menikah muda?” tanya Ustadz tadi, sontak membuat Joni syok. “Ehm ... anu, Ustadz. Rodja masih berusia 18 tahun,” kata Joni dengan cengiran. "Delapan belas tahun usia yang insyaallah sudah cukup matang bagi seorang pria untuk menikah,” sahut beliau santai. “Eh ... iya, secara fisik memang sudah bisa, tapi --” ujar Joni dengan muka galau. Ustadz Yahya tersenyum melihat keraguan yang demikian di raut wajah tamunya. “Ini hanya saran saja. Hanya jika Rodja berminat. Bukan sesuatu yang dipaksakan, tentunya,” tegas beliau. Tangan Joni menyentuh bagian belakang kepalanya, salah tingkah. “Ah ... entahlah, Ustadz. Saya memikirkan, apa kata orang-orang nanti kalau Rodja menikah di usia yang bahkan belum 20 tahun?” Ustadz Yahya tersenyum geli, seolah sudah terbiasa mendengar komentar Joni barusan. “Pak Joni, saya bukan ahli statistik, tapi katakanlah dari jutaan siswa SMA saat ini, kira-kira menurut Bapak, ada berapa persen yang terjerumus dalam pergaulan bebas, atau hubungan seksual pra nikah?” tanya Ustadz Yahya. Joni terlihat bimbang. “Entahlah. Mungkin sekitar ... 15 atau 20 persen?” tebak Joni tak berdasar. “Kita sama-sama tidak tahu persis. Katakanlah 20 persen seperti dugaan Bapak. Dua puluh persen itu bisa siapa saja. Anak tetangga, anak saudara dan tidak mustahil ... anak kita sendiri.” Tubuh Joni bergidik membayangkan kemungkinan itu. “Na'udzubillah. Tentunya tak ada satupun dari kita yang mengharapkan itu terjadi. Semoga Allah menolong kita semua,” imbuh Ustadz Yahya. Joni mengangguk, mengaminkan dalam hati. “Berapa pun presentasenya, kita jangan melihatnya semata angka. Mereka adalah anak-anak manusia yang kemungkinan besar kurang dari segi ilmu agama. Meski saya tidak menampik, pengetahuan agama secara tekstual, bukan jaminan seseorang akan terhindar dari maksiat. Zaman sekarang ini, orang bisa saja dengan entengnya menyalahkan orang tua. Tapi faktornya ada banyak seperti yang saya sebutkan tadi. Teknologi dan media mempercepat tersebarnya pengaruh negatif. Sulit untuk mem-filter teman-teman bergaul mereka. Di satu sisi, orang tua ingin memberi kepercayaan dan kebebasan pada anak, tapi di sisi lain, ... yah, Pak Joni pasti paham maksud saya,” jelas Ustadz Yahya mengendikkan bahu. “Meski sepintas banyak juga anak-anak di luar sana yang kelihatannya 'tidak bermasalah', tapi kita tidak tahu pasti. Apa mereka sungguh 'tidak bermasalah', atau 'tidak ketahuan bermasalah'? Selama belum terjadi yang kita khawatirkan, mari kita usahakan tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan. Pernikahan adalah salah satu alternatif solusi yang saya tawarkan pada anak Bapak, Rodja. Coba bicarakan hal ini baik-baik pada Rodja. Sekali lagi, ini hanya saran, dan sama sekali tak ada paksaan. Seandainya Rodja berminat, kita bisa mulai dengan mengenalkan Rodja pada ...,” Ustadz Yahya memejam sejenak, berusaha mengingat. “Ah! Kebetulan! Oh tentu saja ini bukan kebetulan,” ujar Ustadz Yahya tersenyum bersemangat, berdiri dan berjalan ke arah meja kerjanya. “Beberapa hari lalu, saya baru berbincang dengan seorang teman, beliau seorang Ustadz yang lebih senior dari saya. Beliau sedang mencari jodoh untuk anak perempuannya yang paling bungsu. Namanya Annisa. Dia sudah coba dijodohkan dengan beberapa pemuda, tapi belum ada yang dirasa cocok,” kata Ustadz Yahya seraya menarik sebuah laci dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Dia kembali berjalan ke sofa, duduk dan menyerahkan selembar foto pada Joni. “Ini dia anaknya,” ucap Ustadz Yahya antusias. Joni menatap foto itu. Gadis cantik bernama Annisa itu berkulit cerah, berkerudung pink pastel dengan senyum yang sangat manis. “Dengan fisik sepertinya, saya rasa Annisa tidak akan kesulitan dalam mencari pasangan. Menurut Ayahnya, kenapa dia tidak cocok dengan beberapa lelaki yang coba dijodohkan dengannya?” tanya Joni heran. “Beliau bilang, dari banyak foto pemuda yang ditunjukkan, Annisa hanya memilih sedikit yang ingin ditemuinya, itu pun hanya satu kali pertemuan, lalu berikutnya dia bilang kurang berminat. Annisa hanya mengajukan satu kriteria untuk calon yang bersedia dia temui,” jawab Ustadz Yahya. "Apa kriterianya?" tanya Joni penasaran. Lawan bicaranya tersenyum sebelum menjawab, "calonnya haruslah seorang qori. Pas, 'kan?" ujar Ustadz nyengir tipis. "Nanti kalau Annisa bersedia menemui Rodja lebih dari sekali, itu artinya dia merasa cocok dengan Rodja," tambah beliau. Joni terdiam dengan alis berkerut, pertanda ia mulai mempertimbangkan saran Ustadz Yahya. Setelah pemaparan panjang dan melihat foto Annisa, ide menikah muda sebagai solusi untuk Rodja, mulai terdengar seperti ide yang bagus. “Jadi, bagaimana? Tidak ada salahnya, 'kan? Siapa tahu Rodja secara fisik dan mental sebenarnya sudah siap untuk menjadi seorang suami. Kalau iya, kenapa harus ditunda? Toh kalau mereka jadi menikah, Annisa dan Rodja tetap bisa melanjutkan kuliah kalau mereka mau. Atau Rodja bisa langsung membantu bisnis pak Joni, atau keduanya bersamaan,” tawar Ustadz Yahya dengan alis ditinggikan. “Ustadz sudah menikah?” tanya Joni tiba-tiba. Ustadz Yahya tersenyum memperlihatkan cincin kawinnya. “Waktu itu usia saya 23 tahun. Kondisi orang berbeda-beda, Pak Joni. Ada yang usia 30-an baru menikah, dan tidak terjerumus dalam maksiat zina.” Joni mengeratkan jemarinya. “Lalu, dari pengalaman Ustadz, apa yang terjadi dengan pasangan-pasangan yang menikah muda? Apa mereka bahagia?” “Kalau yang Bapak maksud adalah mantan anak didik saya, sejauh ini alhamdulillah belum pernah ada kasus perceraian. Tapi di luar, saya pernah lihat ada yang akhirnya bercerai. Macam-macam alasannya. Kita juga tidak jarang melihat, orang yang berpacaran lama -- 3 tahun, 6 tahun, 9 tahun, lalu akhirnya menikah -- ternyata setelah menikah, mereka tidak bahagia lalu bercerai. Kita tidak pernah tahu. Jodoh di tangan Tuhan.” Hening. Joni agaknya berpikir keras. “Pak Joni, saya bisa saja memberi pengajian pada Rodja satu jam setiap hari, seperti yang dilakukan oleh guru ngajinya selama ini. Tapi kata 'pernikahan' atau 'perjodohan' akan memberikan efek lebih besar pada Rodja. Bisa saja kemudian Rodja melihat Annisa sebagai calon pasangan yang lebih baik ketimbang pacarnya. Atau jangan-jangan, Pak Joni terpikir ingin menikahkan Rodja dengan pacarnya?” tanya Ustadz dengan mata menyelidik. Joni menyipitkan mata, ngeri membayangkan peristiwa naas siang itu di kamar Rodja. Di mata Joni, Laura terlihat sangat binal dan liar. Sangat cantik, tapi pacar Rodja itu mengingatkan Joni pada Erika, Mamanya Rodja. Tubuhnya bergidik. “Tidak, tidak tidak,” sahut Joni menggeleng cepat. Ustadz Yahya tersenyum geli melihat reaksi Joni. “Jika Rodja menolak rencana perjodohan, maka saya akan tetap coba dengan pengajian satu jam sehari, walau rasanya itu kurang, tapi saya akan tetap mengusahakannya. Setidaknya, ini adalah salah satu ikhtiar kita, agar Rodja tidak menjadi salah satu dari angka statistik yang kita bahas tadi,” ucap Ustadz Yahya tegas. Dahi Joni berkerut. Dia meletakkan foto Annisa di meja, menatapnya baik-baik. “Baiklah. Saya akan coba bicarakan ini pada Rodja. Apa yang harus saya siapkan, jika Rodja setuju dengan rencana perjodohan ini?” Ustadz Yahya nampak senang mendengarnya. Mereka berbincang serius selama kurang lebih setengah jam, ketika kemudian terdengar suara azan salat Ashar. Mereka berjalan ke masjid pondok. Masjid telah ramai dengan para santri. Setelah wudu, mereka berdiri di baris pertama, di belakang imam. Ustadz Yahya merogoh isi kantung kanan bajunya, mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di ujung sajadah. Joni akhirnya tahu benda apa itu. Sebuah tasbih. *** Riko sebenarnya sudah curiga ada sesuatu yang gawat yang ingin disampaikan Rodja, sejak pesan chat Rodja diterimanya Senin pagi ini. Entah ada angin apa, mendadak hari ini Rodja ngotot makan bareng Riko di warung nasi campur di luar sekolah. Dan akhirnya pertanyaannya terjawab sudah. “APA, JA? KAMU DAN LAURA ... ANU ... ITU ... HAHH??” jerit Riko syok. “SSSSHHHH!! Pelankan suaramu!!” bisik Rodja menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Riko menutup mulut dan matanya melotot sempurna. Dia tidak menyangka hal semacam itu bisa terjadi pada Rodja. Rodja menutup muka. “Uh ... aku menyesal melakukan itu! Syukurlah waktu itu Papaku mendadak pulang cepat. Kalau tidak …” Rodja mengusap-usap tangannya berkali-kali ke wajah. Riko menghela napas. “Itu sebabnya kamu gak mau makan di kantin? Kamu gak mau ketemu Laura? Apa rencanamu? Putus sama dia?” Rodja meletakkan dagunya di ujung meja. “Aku belum siap ketemu dia. Gak tahu harus bersikap gimana di depannya. Tapi aku gak mikir putus, sih. Maksudku, sayang kalau aku harus putus dengan perempuan secantik dia, setelah sekian lama aku menunggu sosok pacar idaman seperti Laura, dan akhirnya kesampaian juga, tapi … uh ... ,” ucap Rodja menenggelamkan wajah di meja. Riko hampir tertawa melihatnya. Rodja bersikap seperti ini cuma di depan Riko. Kalau ada anak-anak yang lain, seperti biasanya dia akan kembali dengan gaya sok cool-nya. “Rodja ... Rodja. Sebuah kesalahan membiarkan dia masuk ke dalam kamarmu,” komentar Riko sambil lanjut makan. Rodja menegakkan posisi duduknya. “Terus, kalau kamu jadi aku, dan pacarmu bilang mau masuk ke kamarmu, kamu bakal jawab apa?” “Em ... aku akan bilang kamarku sedang di renovasi,” jawab Riko ngasal sambil nyengir. Rodja memicingkan mata. “Aku serius, Ko!” ujar Rodja kesal. “Oke oke. Mestinya kamu bilang aja, 'maaf kamu gak bisa masuk ke kamarku. Peraturan dari Papaku'. Titik. Biar aja dia mikir kamu 'anak Papa'.” Rodja heran mendengar jawaban Riko yang begitu tegas. “Kamu pernah ngalamin ini sebelumnya?” Riko berhenti makan dan terlihat sewot. “Ya ENGGAK lah! Belum ada satupun perempuan yang minta masuk ke kamarku!” seru Riko jengkel. Rodja kembali membenamkan wajahnya lemas di meja. “Terus Papamu gimana?” tanya Riko penasaran. “Aku dihukum. Gak boleh bawa mobil sendiri. Tadi aku ke sekolah diantar Mang Pardi. Nanti aku pulang dijemput,” keluh Rodja melengos. “Cuma itu?” tanya Riko lagi. “Maksudmu?” sahut Rodja. Riko mengangkat bahunya. “Gak apa-apa. Cuma agak kaget. Kupikir hukumanmu akan lebih berat.” Rodja tercenung. Dia juga sebenarnya merasa hukuman itu terlalu ringan. Padahal dia sudah menyiapkan mental untuk sesuatu seperti 'Rodja, kamu harus segera putus dengan dia! Harus!!' Alis Rodja berkerut, curiga. Mungkinkah papanya sedang menyiapkan hukuman lain yang lebih berat untuknya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN