Albern kembali masuk kerja setelah rasakan tubuhnya sudah jauh lebih fit dari sebelumnya. Jika bukan karena Stella, mungkin saja sekarang dia sudah berakhir di rumah sakit. Pagi itu sekitar pukul sembilan, Albern baru saja menyeduh kopi instan yang katanya expresso itu. Kopi yang ia harap bisa membuat matanya lebih terang selama beraktifitas hari ini. Lagi-lagi semalaman ia terkena amnesia, tak dapat sedetik pun pejamkan matanya. Rasa lelah secara fisik dan mental kini tengah menderanya. Bahkan sampai-sampai Bara menyarankan dirinya untuk temui psikiater. "Gue gak mau di cap gila!" b Begitu pekik Albern saat Lintang dan Bara berikan dia saran untuk menemui psikiater. Padahal bukan begitu maksud mereka, akan tetapi Albern terlalu sensitif. Bertemu psikiater bukan berarti seseorang itu

