Meskipun suasana hatinya dalam keadaan tidak baik-baik saja Utami tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang pekerja apalagi ia adalah sekretaris dari seorang CEO bernama Baskara Putra Pratama. Toh hidup harus tetap berjalan setelah peristiwa terbongkarnya niat jahat Hans yang membuat wanita itu cukup patah hati.
Bahkan setelah Utami menceritakan segala niat buruk Hans terhadapanya. Kedua orang tua wanita itu akan tetap melaksanakan niat mereka untuk menjodohkan Utami dengan pria lain.
“Mama, Papa tuh nggak belajar dari kejadian sebelumnya kah? Masih aja kekeh mau ngejodohin aku!” Sungut Utami dengan wajah cemberutnya.
Bahkan saat ini wajah cemberutnya tak lagi bisa ia sembunyikan, sampai-sampai kedatangan sang CEO pun tak Utami sadari karena terlalu hanyut memikirkan mencari calon suami dalam waktu satu bulan.
“Masih terlalu pagi, Utami. Itu muka sudah cemberut aja? Gajian sudah masukkan?” Seloro Baskara dengan muka datarnya.
“Oh! Selamat pagi, Pak Baskara.” Utami terkejut langsung berdiri dari duduknya dan membungkukkan badannya di depan Baskara.
“Kalau ada masalah jangan dibawa ke kantor. Nanti kalau sampai pekerjaanmu nggak beres, gajimu saya potong.” Ucap Baskara santai dan langsung memasuki ruang kerjanya sendiri.
Utami menundukkan kepalanya wanita itu meringis mendengar ancaman dari atasannya. Meskipun Baskara tak akan benar-benar melakukannya.
Suara telepon PABX berbunyi mengagetkan Utami dari lamunannya. Segera ia angkat saat itu juga.
“Kopi pagi saya, Utami.”
“Baik, Pak.”
Utami menepuk jidatnya lantaran lupa menyiapkan kopi pagi yang biasanya diminum oleh Baskara. Tanpa menunggu diperintah dua kali Utami segera melaksanakan pesanan sang bos.
***
“Kan sudah ada istrinya Dion yang jadi mantu, Mami. Kenapa mesti dari aku juga lagi, Mi.”
Baskara dikagetkan dengan kedatangan sang Mami ke kantornya. Wanita paruh baya itu mencari sang anak karena sudah dua hari ini Baskara tidak pulang ke rumahnya, pria itu pasti bermalam di apartemen pribadi miliknya. Dan sekarang lagi-lagi Baskara harus dihadapkan dengan pertanyaan yang sama kapan menikah lagi?!
“Itu beda dong, Baskara. Itu mah istrinya adik kamu, bukan istrimu! Emang kamu nggak pengen gitu nikah lagi?” Tanya Mona pada anak sulungnya.
Baskara memutar matanya malas. Menghela nafasnya kasar.
“Nggak! Mami, tau sendirikan gimana akhir dari pernikahan Baskara sebelumnya? Dan aku nggak mau mengulang hal yang sama, Mi.”
“Bisa saja nanti kamu ketemu sama perempuan yang lebih baik lagi kan, Bas. Nggak semua perempuan seperti mantan istri muloh.”
“kalau ternyata lebih buruk dari yang sebelumnya gimana? Baskara nggak mau ya, Mi. Menduda sampai dua kali! Baskara tinggal dulu mau ada meeting penting bye, Mami.” Jawab Baskara sambil mencium puncak kepala sang mami dan beranjak pergi dari ruangannya.
Mona yang mendengarkan penuturan anak sulungnya itu hanya bisa memanyunkan bibirnya. Semenjak perceraian pernikahan pertamanya 3 tahun yang lalu membuat Baskara menutup hatinya rapat-rapat dan tak ada keinginan untuk kembali membina rumah tangga.
Perpisahan dengan mantan istrinya terjadi akibat kesalahan sang mantan istri yang menurut Baskara sudah sangat fatal apalagi sampai mencelakai orang lain. Toh mantan istrinya sendiri yang menggugat cerai Baskara karena merasa malu dan tidak pantas setelah berhasil mencelakai adik iparnya hanya karena cemburu buta yang ia alami.
Lira yang cemburu buta terhadap adik iparnya lantaran merasa sang Mami yang terlalu menyayangi dan memperhatikan istri adiknya itu nekad berbuat culas dengan mencelakai Nadira hingga membuat wanita itu nyaris kehilangan anak yang sedang dikandungnya.
“Nggak lagi-lagi gue nikah, terus gagal lagi terus menduda lagi! No way deh!” Seru Baskara pelan saat telah berada di luar kantornya.
***
Utami tidak bisa menutupi rasa gelisahnya. Ini sudah lewat dua minggu dari perjanjian antara dirinya dan kedua orang tuanya. Setelah gagal menjodohkan Utami dengan Hans, Danu masih berusaha menjodohkan Utami dengan pria yang lainnya lagi. Perjodohan itu akan batal jika Utami mampu membawa calon suami pilihannya sendiri. Namun sampai saat ini Utami belum bisa menemukan sosok itu. Bagaimana bisa ia menemukan calon suami kurang dari 2 minggu lagi.
Gelagat Utami yang gelisah itu akhirnya terbaca oleh Baskara. Mereka saat ini sedang dalam perjalanan pulang menuju ke kantor setelah menyelesaikan meeting di luar kantor.
“Kamu kenapa, Utami? Saya perhatikan beberapa hari ini kamu kerjanya nggak fokus. Ada masalah?”
Utami terkejut mendengarkan pertanyaan dari atasannya itu. Wanita itu memaksakan senyumnya.
“Keliatan ya, Pak?”
Baskara menganggukkan kepalanya menatap datar ke arah Utami.
“Apa aku cerita aja ya? Masa iya masalah pribadi ceritanya ke bos sendiri sih!” Teriak Utami bimbang dalam hatinya.
“E-emang boleh cerita, Pak?” Tanya Utami ragu-ragu.
“Hm. Mungkin dengan kamu cerita bisa ketemu jalan keluarnya.”
Utami menceritakan semua masalah yang sedang dihadapinya dari niat kedua orang tuanya yang akan menjodohkan dirinya dengan seorang pria hingga gagalnya perjodohan pertama tersebut sampai pada akhir dimana Utami harus membawa calon suami pilihannya sendiri dalam waktu kurang dari 2 minggu lagi jika ingin perjodohan-perjodohan berikutnya dibatalkan.
Baskara yang mendengarkan cerita Utami mendengus kasar.
“Masalah kamu cukup rumit ya, Utami.” Ucap pria itu.
Lihat? Sekelas Baskara saja mengeluh mendengarkan ceritanya. Bagaimana Utami yang menjalankannya. Tubuh Utami melemas, wanita itu menyandarkan badannya pada kursi mobil.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di gedung kantor perusahaannya Baskara. CEO dan sekretarisnya itu mulai kembali ke tempat mereka masing-masing. Baskara kembali ke ruangannya sendiri dan Utami kembali ke meja kubilenya yang berada tepat di depan ruangan Baskara.
Utami menghempaskan bokongnya ke kursi, sudah berpuluh kali wanita itu menghela nafasnya kasar dalam sehari ini saja. Utami melipat tangan kirinya dibawah d**a dan tangan kanannya memijat pangkal hidung yang terasa nyeri.
Baskara keluar dari ruangannya dengan langkah pasti menuju meja kubikel sang sekretaris. Berhenti tepat di depan wanita yang sudah bekerja selama 7 tahun bersamanya ini.
“Saya akan menikahi kamu, Utami.”
***