4. Ayo, Kita Menikah!

1001 Kata
“Hik.” Utami terkejut mulutnya terbuka saat mendengar penuturan Baskara sampai membuat wanita itu cegukan. Baskara memberikan botol air minum yang berada di meja kerja Utami dan menyuruh wanita itu untuk segera meminumnya. Utami memukul dadanya pelan agar cegukan yang ia alami segera hilang. Matanya mengerjap beberapa kali menatap pria yang baru saja mengatakan akan menikahinya?! “Keruangan Saya sekarang, Saya bakal jelasin semuanya ke kamu.” Lanjut Baskara yang meninggalkan Utami begitu saja dengan keterkejutannya. “Utami..” Baskara kembali memanggil Utami lantaran wanita itu tak kunjung bergerak dari duduknya. Utami segera sadar dari lamunannya dan menyusul Baskara masuk kedalam ruangan pria itu. Saat ini dua manusia yang sama-sama didesak oleh kedua orang tua mereka untuk segera menikah ini sedang duduk berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Baskara tahu ini adalah hal tergila yang pernah pria itu lakukan, menikahi wanita yang tak pernah dia cintai, terlebih wanita itu adalah sekretarisnya sendiri pula! Baskara menghembuskan nafasnya kasar. Ditatapnya Utami yang masih terlihat syok atas ajakannya untuk menikahi wanita itu. “Kita sama-sama harus menikah karena desakan orang tua kita. Kenapa kita tidak menikah saja? Saya bisa menyelamatkan kamu, begitu juga sebaliknya. Jadi, ayo kita menikah.” Utami memang terdesak. Tapi apa harus sampai menikah dengan atasannya sendiri? Ralat bukan hanya sekedar atasan biasa tapi juga pemilik perusahaan tempatnya bekerja! Lagi pula keluarga Baskara termasuk salah satu keluarga konglomerat di negeri ini, apa kata mereka kalau sampai tahu wanita yang akan dinikahi oleh anaknya hanya seorang sekretaris biasa. “Pak, pernikahan bukan suatu hal yang bisa dimainkan loh. Lagi pula keluarga, Bapak, nggak mungkin bisa nerima saya, Pak. Saya nggak mau kawin cerai.” “Yang bilang saya akan mempermainkan pernikahan siapa? Saya juga nggak mau menduda sampai dua kali, Utami!” Baskara mendengus kasar, pria itu memijat pangkal hidungnya yang mulai terasa nyeri. “Soal keluarga saya, Kamu nggak perlu khawatir. Mereka akan setuju aja sama pilihan saya, toh mereka juga yang sudah mendesak saya. Sekarang saya tanya, Kamu gimana?” Lanjut Baskara. Utami masih sulit untuk mencerna segala ucapan yang keluar dari mulut laki-laki di hadapannya ini. Selama ini mereka selalu bersikap profesional hanya sebatas atasan dan sekretaris. Menikah? Utami dan Baskara bahkan tak saling mencintai! Utami menatap manik indah milik Baskara. Tak pernah ia bayangkan akan diajak menikah oleh CEOnya sendiri. “Tapi kita tidak saling mencintai, Pak? Rumah tangga yang sudah di dasari cinta saja masih bisa berakhir bagaimana yang tak ada cinta di dalamnya.” Ucap Utami pelan. Baskara membalas tatapan Utami dalam. Dulu waktu awal-awal Utami bekerja dengannya, Baskara sempat mengagumi sosok sekretarisnya itu. Cantik, pintar, mandiri, bahkan wanita itu tidak serta merta bersikap seenaknya meski sudah mengenal dan bekerja cukup lama bersama Baskara. “Satu hal yang bisa saya janjikan sama kamu, Utami. Tidak akan ada perceraian di pernikahan kita. Soal cinta, saya nggak bisa menjanjikan hal itu. Tapi saya akan berusaha jadi suami yang bertanggung jawab buat, Kamu.” Jawab Baskara tegas. “Kalau saya yang jatuh cinta sama Bapak, bagaimana?” Tanya Utami. Baskara cukup terkejut mendengar pertanyaan yang diberikan Utami kepadanya. Pria itu sedikit berdehem sebelum menjawabnya. “Itu hak, Kamu. Saya tidak akan melarang.” Utami mengenduskan nafasnya kasar, menganggukkan kepalanya mantap. “Baiklah! Ayo, kita menikah!” *** Menikah saja tidak ada dalam bayangan Utami, apalagi menikah dengan CEOnya sendiri. Wanita itu terlalu sibuk dengan dunianya sampai melupakan hal penting lainnya seperti kisah percintaannya begitu. Bahkan Utami sudah melupakan bagaimana rasanya bertemu dengan seorang pria selain Papa dan atasan di tempatnya bekerja tentunya, ia bahkan lupa bagaimana rasanya jatuh cinta dan merindukan seseorang yang spesial. Utami menghembuskan nafasnya kasar. Saat ini wanita itu sudah terbaring diatas tempat tidurnya yang empuk. “Apa ini keputusan yang tepat ya?” Tanya Utami pada dirinya sendiri. Wanita itu kembali mengingat percakapan antara dirinya bersama Baskara tadi siang. Baskara mengatakan akan menjumpai orang tua Utami dalam dua hari lagi sebelum pria itu membawa keluarganya untuk melamar Utami secara resmi. Utami sempat menolak karena merasa terlalu cepat, namun Baskara tetaplah Baskara jika sudah berkehendak maka hal itu harus dilakukan sesuai kemauannya. “Semakin cepat, semakin bagus, Utami.” Ucap Baskara siang itu. Lamunan Utami tersadarkan oleh bunyi notifikasi dari ponsel genggamnya. Terlihat ada pesan masuk dari pria yang baru saja hadir di dalam pikiran Utami. Pak Baskara CEO “Orang tua kamu sukanya calon menantu yang seperti apa, Utami?” Bibir Utami melengkung hebat karena membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Baskara. Wanita itu sampai menggigit bibirnya sendiri agar menahan senyumannya yang semakin merekah. “Calon menantu banget nih sekarang.” Cicit Utami pelan. Utami semakin dikagetkan dengan panggilan masuk yang datang dari Baskara saat dirinya masih memikirkan apa yang ingin ia balas pesan dari Baskara tersebut. Tak ingin bosnya menunggu lama Utami langsung menekan tombol hijau di layar ponsel genggamnya. Mereka berdua membicarakan bagaimana Baskara harus bersikap di depan kedua orang tua Utami. Sampai pada kekhawatiran Baskara mengenai statusnya sebagai duda. “Saya duda, Utami. Bagaimana dengan kedua orang tua, Kamu?” “Tidak masalah, Bapak bukan duda kriminal. Bapak, tidak menganiaya mantan istri makanya sampai berceraikan?” Tanya Utami santai. Baskara mendengus kasar dari sebalik ponsel. “Saya bukan pria yang kasar terhadap wanita, Utami!” Utami menganggukkan kepalanya kendati pria yang berada di seberang sana tidak melihatnya. Percakapan itu berlanjut sampai beberapa menit kemudian. Setelah menyelesaikan panggilan teleponnya bersama Baskara. Utami berniat untuk memberitahukan kepada Danu bahwa ada seseorang yang ingin berjumpa dengan pria setengah baya tersebut. “Pa, hm ada yang mau ketemu dan ngobrol sama, Papa.” Danu mengerutkan dahinya tak mengerti. “Siapa? Calon suami kamu, Utami?” Tanya Laras yang lebih mengerti kemana arah bicara sang anak. Mendadak Utami grogi saat ditanya sang Mama tentang calon suami yang ingin bertemu dengan kedua orang tuanya. Wanita itu memonyongkan bibirnya. “Hm! Bisa dibilang begitu.” Jawab Utami salah tingkah langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya dengan keheranan melihat tingkah anak mereka. “Kapan?” Teriak Danu saat melihat Utami akan memasuki kamarnya. “Tunggu saja!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN