bc

THE LAST AWAKENER

book_age12+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
BE
reincarnation/transmigration
HE
time-travel
system
friends to lovers
arrogant
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
mystery
loser
campus
mythology
pack
small town
magical world
high-tech world
another world
childhood crush
superpower
rebirth/reborn
naive
like
intro-logo
Uraian

Reinh, seorang pemuda yang dihantui sumpah kelam dari masa lalu dan lari ke dalam dunia game MMORPG "Tale's of Aurora" sebagai Luminere sang Penyihir Agung, tiba-tiba terbangun di Tierias-dunia yang dulu hanya dikenalnya sebagai permainan, kini menjadi kenyataan yang brutal dan penuh misteri. Tanpa antarmuka game, namun dengan kemampuan sihir yang masih melekat, ia harus bertahan hidup, beradaptasi, dan mencari tahu mengapa ia menjadi "Sang Awakener Terakhir."

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog: Sumpah di Bawah Hujan
Tiga tahun silam. Langit sore itu seolah ikut berduka, mencurahkan tangisnya tanpa jeda. Hujan mengguyur taman kota dengan intensitas yang mengisyaratkan perpisahan. Setiap tetesnya menjadi saksi bisu di atas bangku kayu yang dingin, tempat Reinh dan Yui terduduk untuk kali terakhir. Bahu mereka nyaris tak bersentuhan, sebuah jarak yang menyiksa setelah keintiman yang pernah terjalin begitu erat. Ironisnya, hujan yang sama, yang dulu kerap menjadi melodi romantis bagi bisikan cinta mereka, kini menjelma menjadi elegi perpisahan yang getir dan menusuk kalbu. Pertemuan terakhir itu sejatinya dimulai beberapa jam lebih awal, di sebuah kafe yang aroma kopi dan roti panggangnya begitu akrab. Kafe berdinding bata ekspos dengan lampu-lampu gantung temaram itu biasanya menjadi panggung tawa dan kebahagiaan mereka, tempat mimpi-mimpi mereka dirajut bersama secangkir cokelat panas atau es Americano kesukaan Reinh. Namun, hari itu, udara terasa berat, sarat akan partikel-partikel kecemasan yang tak terucap. Yui tiba lebih dulu. Ia memilih meja sudut favorit mereka, jemari lentiknya mengetuk pelan cangkir teh hangat yang masih utuh. Rambut hitam legamnya yang panjang dan lurus, berponi membingkai wajah ovalnya, tampak sedikit lembap oleh gerimis yang turun di luar. Di usianya yang ke-22, sorot matanya memancarkan kedewasaan yang dipaksakan oleh keadaan. Sebuah dress biru pastel sederhana, dilapisi jaket jeans biru pudar yang sedikit kebesaran, seolah menjadi perisai dari dingin dan kegelisahan. Wajahnya, yang biasanya secerah mentari pagi, kini menyimpan kekhawatiran mendalam yang gagal disembunyikan oleh sapuan tipis lip gloss. Reinh menyusul tak lama kemudian. Dua puluh tahun usianya, dengan postur menjulang 180 sentimeter. Rambut hitamnya yang dipotong model undercut rapi tampak kontras dengan kegelisahan yang terpancar dari sorot mata tajamnya. Kemeja hitam lengan panjang yang digulung hingga siku memperlihatkan lengannya yang kokoh, dipadukan dengan celana jeans biru tua yang warnanya mulai memudar. Langkahnya menuju meja terasa berat, senyum tipis yang coba ia ukir tak pernah sampai ke matanya. Dengan suara lembut yang bergetar, Yui memulai, "Reinh, kita sudah banyak melewati suka dan duka. Aku tahu… pertemuan dengan orang tuaku beberapa minggu lalu tidak berjalan seperti yang kita harapkan." Ia menatap langsung ke mata Reinh, mencari seberkas harapan. Reinh hanya mampu mengangguk pelan, hatinya serasa terhantam batu. Bayangan pertemuan itu masih teramat jelas; setiap kata penolakan, setiap tatapan tak setuju dari orang tua Yui, terutama sang Ayah, terpatri kuat. Ucapan Ayah Yui, dingin dan tegas, terasa bak belati yang mengoyak harga dirinya. 'Kau belum cukup mapan untuk putriku,' atau 'Latar belakang keluarga kita terlalu berbeda,' adalah sebagian frasa yang terus berdengung. Yui melanjutkan, suaranya semakin bergetar, tangannya terulur menyentuh punggung tangan Reinh yang dingin di atas meja. Matanya yang indah, biasanya penuh binar jenaka, kini memancarkan harap yang memilukan. "Tapi aku mencintaimu, Reinh. Sangat. Aku ingin kita bisa melalui ini bersama. Kita pasti bisa, kan?" Reinh ingin sekali membalas tatapan itu dengan keyakinan serupa, meneriakkan bahwa cintanya akan mengalahkan segalanya. Namun, kata-kata Ayah Yui kembali menghantam, meruntuhkan benteng kepercayaan dirinya. Keraguan merayap, dingin dan melumpuhkan. "Aku juga mencintaimu, Yui. Lebih dari yang kau tahu," jawabnya lirih, serak. "Tapi pertemuan itu… sangat menyakitkan. Aku belum bisa melupakan apa yang Ayahmu katakan." Yui menarik napas panjang, menahan air mata yang mulai menggenang. "Reinh, aku punya ide," katanya, mencoba menyuntikkan optimisme. "Bagaimana jika… kita pergi? Pergi dari kota ini, meninggalkan semua masalah. Kita bisa memulai hidup baru, di tempat baru, di mana kita bisa bersama tanpa tekanan, tanpa penghakiman." Reinh terdiam, menatap kosong jendela kafe yang berembun. Usulan Yui terdengar seperti mimpi indah, pelarian yang menggiurkan. Namun, bayangan wajah ibunya yang selalu mendukung, dan rasa tanggung jawab yang diajarkan ayahnya, menahannya. Di satu sisi, keinginan bersama Yui membakar hatinya. Di sisi lain, ia terikat oleh kewajiban dan harapan. "Yui, aku mengerti. Siapa yang tak ingin bahagia dengan orang yang dicintai? Tapi aku tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja. Aku harus menghargai orang tuaku, juga orang tuamu. Bagaimanapun, mereka hanya ingin yang terbaik, meski cara mereka mungkin keliru." Mata Yui kini benar-benar basah. Setetes air mata akhirnya luruh. "Reinh, aku tidak bisa hidup tanpamu. Kumohon, pasti ada jalan lain," isaknya tertahan. Reinh menggeleng pelan, perasaannya berkecamuk antara cinta, rasa bersalah, dan kewajiban. "Yui, aku tidak bisa. Aku tidak bisa lari. Aku harus tetap di sini, menghormati keputusan mereka. Aku tidak bisa egois." Frustrasi mulai mewarnai wajah Yui. Pipinya memerah, bibirnya bergetar. Suaranya meninggi, menarik perhatian pengunjung lain. "Reinh! Apa kau lebih peduli pada pikiran orang tua kita daripada kita? Perasaan kita? Apa kau tidak lihat betapa aku mencintaimu dan ingin bersamamu, melewati badai apapun?" Pertengkaran tak terhindarkan. Suara mereka yang tadinya tertahan kini meninggi, saling bersahutan, meluapkan emosi yang terpendam. Kafe yang nyaman itu kini menjadi arena perdebatan sengit. Reinh berteriak, lebih karena frustrasi pada dirinya sendiri, "Aku mencintaimu, Yui, sungguh! Tapi aku juga mencintai keluargaku! Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku!" Yui menangis tersedu, hatinya terluka, kecewa, marah. "Lalu, apa gunanya semua ini, Reinh? Apa gunanya cinta ini jika kita tidak bisa memperjuangkannya?" tanyanya parau. Pertengkaran berlanjut, kata-kata tajam terlontar. Akhirnya, Reinh berdiri tiba-tiba, kursi berderit nyaring. Ia merasa tak berdaya, lelah, hancur. "Aku tidak tahu, Yui. Aku benar-benar tidak tahu," ucapnya nyaris berbisik, sebelum berbalik dan melangkah keluar, meninggalkan Yui dalam isak tangisnya. Dengan hati remuk, Reinh melangkah ke dalam hujan deras yang seolah ikut merasakan kepedihannya. Yui, setelah terpaku sesaat, menatap kepergian Reinh dengan air mata yang mengalir deras. Hatinya hancur berkeping-keping. Di luar, Reinh berjalan tanpa arah, membiarkan hujan mengguyur tubuhnya. Kemeja hitamnya basah kuyup, namun ia tak peduli. Dinginnya air hujan tak sedingin kehampaan yang merayapi hatinya. Tak lama, Yui menyusul, berlari keluar kafe tanpa memedulikan tatapan orang. Hujan deras mengaburkan pandangannya, gaunnya basah dan berat. Ia harus bicara dengan Reinh sekali lagi. "Reinh!" teriaknya, suara serak nyaris tenggelam oleh gemuruh hujan. "Reinh, tunggu!" Reinh berhenti di bawah lampu jalan yang berkedip. Ia berbalik, wajahnya basah oleh hujan dan mungkin juga air mata yang coba ia sembunyikan. Ia melihat Yui beberapa meter di belakangnya, air mata bercampur hujan membasahi wajah pucatnya. Hatinya tersayat. Namun, ia terlalu lelah, terlalu putus asa. "Yui, kenapa kamu mengejarku?" tanyanya serak. "Tidak ada gunanya." Yui mendekat, terhuyung, napasnya terengah. "Aku tidak bisa… membiarkan semuanya berakhir seperti ini. Aku mencintaimu. Kita tidak boleh menyerah," katanya, bergetar hebat. Reinh menggeleng, tatapannya kosong. "Mungkin… kita memang tidak bisa bersama, Yui. Mungkin ini takdir." Yui membantah putus asa, mencengkeram lengan jaket Reinh. "Kenapa kau bicara begitu? Jangan katakan itu! Selalu ada jalan keluar!" Suara Reinh dingin dan datar, "Tidak ada jalan keluar, Yui. Orang tua kita tidak akan pernah merestui. Kita hanya akan menyakiti semua orang jika terus memaksa." Yui menatap tak percaya, matanya membelalak. Sakit hati luar biasa menjalari dadanya. "Kamu… menyerah begitu saja? Setelah semua yang kita lalui? Kamu tidak mau memperjuangkan cinta kita lagi?" Reinh terdiam, tak mampu menjawab. Setiap kata terasa beban. Ia merasa kalah, hancur, pengecut. Ia hanya bisa menunduk. Melihat diamnya Reinh, Yui melepaskan cengkeramannya. Air mata terus mengalir, namun kini ada sorot kekecewaan dan kemarahan yang membara. Dengan suara bergetar namun tegas, penuh kepedihan, ia mengangkat dagunya, menatap Reinh dengan intensitas menakutkan. "Dengarkan sumpaku ini, Reinh, biarlah setiap gemuruh petir menjadi saksi dan setiap tetes hujan dingin ini terukir abadi dalam jiwamu! Kau memilih untuk mematahkan hatiku dan membiarkan cinta kita tenggelam dalam badai ini. Maka, mulai saat ini, kebahagiaan yang kau cari akan menjadi bayangan semu, selalu terlihat namun tak pernah bisa kau genggam. Setiap kali kau mencoba membangun asa, ingatlah wajahku yang basah air mata ini, dan rasakan bagaimana harapanmu hancur berkeping-keping, seperti hatiku sekarang. Kau akan berjalan di dunia ini, Reinh, namun jiwamu akan selamanya terikat pada malam ini, pada penyesalan yang akan menggerogotimu dari dalam. Kebahagiaan sejati? Ia akan menjadi dongeng yang takkan pernah kau alami. Kau akan hidup dalam kehampaan, selamanya merindukan kehangatan yang telah kau buang, dan di setiap kesendirianmu, kau akan mendengar sumpahku ini bergema: tanpaku, kedamaian sejati takkan pernah menjadi milikmu." Kata-kata itu, sumpah itu, menghantam Reinh laksana palu godam. Setiap suku katanya terukir dalam di benaknya. Ia tahu Yui tidak main-main. Ada keyakinan absolut dalam setiap katanya, seolah ia telah melihat masa depan mereka. Reinh hanya bisa menatap nanar saat Yui berbalik dengan gerakan patah, lalu berjalan pergi, sosoknya perlahan menghilang ditelan derasnya hujan dan kabut tipis yang mulai terbentuk. Reinh terpaku di persimpangan jalan yang sepi, di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda. Tubuhnya berat, kakinya seolah terpaku. Hatinya hampa, kosong, seolah sebagian dirinya ikut pergi bersama Yui. Ia menyadari, dengan kepedihan menyesakkan, bahwa ia telah membuat keputusan yang mungkin takkan pernah bisa ia perbaiki. Dan perasaan itu, bersama sumpah Yui yang menggema, akan menghantuinya setiap kali ia mengingat malam kelam itu. Sumpah Yui. Sebuah kutukan yang ia pikul sendiri. Waktu terus bergulir. Tiga tahun kemudian, Reinh, kini 23 tahun, menjalani hari-harinya dalam labirin kehampaan yang menggerogoti jiwa. Penampilannya berubah drastis. Rambut hitamnya yang dulu rapi kini tumbuh acak-acakan, tak tersisir, mencerminkan kekacauan batinnya. Janggut tipis dan kumis tak teratur menghiasi wajahnya yang dulu bersih, menambah kesan kuyu dan lebih tua dari usianya. Bahunya tampak lebih membungkuk, seolah memikul beban tak kasat mata. Pakaiannya sederhana, seringkali hanya kaos hitam V-neck lusuh dan celana jeans belel. Ia menjadi penyendiri, membangun dinding tinggi di sekitar hatinya. Jarang berbicara kecuali terpaksa, itupun sebatas formalitas. Pekerjaannya sebagai guru sekolah dasar di pinggiran kota terasa hambar. Ia mengajar tanpa gairah, sering melamun di tengah kelas, tatapannya kosong menerawang ke luar jendela, tenggelam dalam kenangan pahit tentang Yui, hujan, dan sumpah itu. Murid-murid kelas tiga yang polos sering menatapnya bingung dan sedikit takut ketika Pak Guru Reinh tiba-tiba berhenti menjelaskan perkalian dan menatap kosong pohon mangga di halaman sekolah. Mimpi perpisahan di bawah hujan terus menghantuinya setiap malam, seperti kaset rusak yang memutar adegan sama berulang-ulang. Dalam mimpinya, Yui selalu berdiri di tengah badai, wajahnya basah air mata dan hujan, bibirnya mengucapkan sumpah yang sama, kata demi kata. Setiap terbangun dengan keringat dingin dan jantung berdebar, Reinh merasa semakin terikat oleh sumpah itu, rantai tak terlihat yang melilit jiwanya, menghalanginya bergerak maju, merasakan secercah kebahagiaan. Di tengah kesepian dan kehampaan, Reinh menemukan satu-satunya pelarian: dunia maya Tale's of Aurora. Di dunia game MMORPG fantasi itu, Reinh adalah Luminere. Bukan Reinh guru SD yang pendiam dan muram, melainkan penyihir hebat berstatus "Awakening"—pencapaian langka melampaui level 90, level maksimal pemain biasa. Status "Awakener" dalam lore game dikaitkan dengan takdir besar, kemampuan membuka potensi tersembunyi, dan interaksi dengan entitas kuno. Meski Reinh lebih fokus pada peningkatan kekuatan daripada mendalami mitologi, status itu memberinya aura kekuatan tak terbantahkan. Sebagai Luminere, ia pemimpin guild yang disegani, bahkan ditakuti. Ia menguasai sihir elemental—api, es, petir—dan sihir dukungan. Kekuatannya tak tertandingi di servernya. Dia adalah pahlawan di Tale's of Aurora, dihormati dan dikagumi. Di balik layar monitor, dalam avatar Luminere berjubah sihir berkilauan, Reinh bisa menjadi seseorang yang berbeda: kuat, berkuasa, percaya diri. Bebas dari rasa sakit, penyesalan, dan bayang-bayang sumpah. Setiap quest selesai, setiap monster bos kalah, memberinya kepuasan sesaat, ilusi kontrol. Namun, bahkan di puncak kejayaan virtualnya, ambisi Reinh menembus batas ke level 91, yang dirumorkan membuka gameplay dan storyline baru, hanya berujung pada kelelahan fisik dan mental. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di depan komputer, berjam-jam tanpa henti, dari pulang mengajar hingga larut malam, bahkan fajar. Makan tak teratur, tidur hanya beberapa jam. Pekerjaannya terabaikan, interaksi sosial nihil, kesehatan terancam. Lingkaran hitam di bawah matanya semakin kentara, tubuhnya semakin kurus. Kehidupan nyatanya memudar, digantikan dunia game yang terasa semakin nyata. Malam itu, di kamarnya yang remang-remang, diterangi cahaya monitor dan lampu meja kecil, jari-jarinya gemetar karena lelah dan kafein, matanya perih karena terlalu lama menatap layar, Reinh akhirnya menyerah pada kantuk. Kepalanya terkulai di atas meja, di samping keyboard dan mouse. Ia tak sadar, dalam tidurnya yang gelisah, perjalanannya kali ini akan membawanya ke tempat yang jauh lebih nyata, berbahaya, dan penuh misteri. Sebuah dunia di mana sumpahnya mungkin menemukan jalannya untuk menjadi kenyataan, di mana ia akan dipaksa menghadapi masa lalunya, dan mencari tahu apakah ia benar-benar terkutuk untuk tidak pernah menemukan kebahagiaan sejati, ataukah masih ada harapan untuk penebusan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.1K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.8K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook