6. Tak Setuju

1070 Kata
Sedari tadi Rivka tiada henti mendumel, bagaimana ia tidak mendumel jika sejak beberapa menit yang lalu ia menjadi fotografer dadakan. Ada beberapa gadis berseragam SMA yang menghentikan langkahnya ketika melihat keberadaan Rendy, ternyata mereka merupakan penonton setia channel Rendy. Mereka senang dan langsung meminta foto bersama lelaki itu, sialnya anak-anak itu malah meminta Rivka untuk memotret mereka. Maka dengan ogah-ogahan pun Rivka memotret Rendy yang dirangkul dengan dua gadis SMA itu dengan malas. Yang membuat Rivka kesal adalah ketika bukannnya selesai usai mendapatkan beberapa gambar mereka malah meminta Rivka membuat video Boomerang dan mereka langsung bergaya ala-ala. Rivka sama sekali tidak peduli ya mau Rendy dekat sama siapapun itu, tetapi Rivka paling tidak suka jika ia dijadikan babu seperti ini. "Terima kasih ya, Kak," ujar salah satu dari dua gadis itu sambil mengambil alih ponselnya dari Rivka. "Iya." Setelahnya dua gadis itu pun akhirnya pergi dari hadapan mereka. Rivka tersenyum saat penjual itu mengantarkan makanannya berupa nasi uduk yang memang sudah menjadi langganannya ketika tak sempat sarapan di rumah. "Terima kasih, Pak." "Sama-sama, Neng. Adiknya nggak sekalian pesan makan?" tanya Pak Ujang. "Nggak doyan dia, Pak," ujar Rivka. Pak Ujang mengangguk kemudian kembali menuju tempatnya untuk membungkus nasi uduk yang menjadi pesanan beberapa pembeli. "Rivka makannya lahap banget," ujar Rendy saat ia kembali duduk di hadapan Rivka dan memperhatikan wanita itu yang makan dengan lahapnya. "Kenapa lo dari tadi ngeliatin gue? Mau lo?" tanya Rivka yang dibalas gelengan kepala oleh Rendy. "Nggak, nanti perut Rendy sakit kalau mau bersantan." Mendengar jawaban Rendy membuat Ribka mencibir, ia mengunyah makanannya. "Lemah amat perut lo, sakit-sakitan mulu." "Rivka 'kan tahu sendiri kalau Rendy memang nggak boleh makan sembarangan, nanti—" "Iya, tahu. Nggak usah dilanjutin, gue mau makan dengan tenang. Nggak mau gue dengerin omongan lo itu," potong Rivka cepat sebelum Rendy mengoceh panjang kali lebar. Rendy hanya cemberut, lelaki itu memilih memperhatikan Rivka yang sedang makan dengan intens. Tiba-tiba saja Rendy tersenyum, Rivka yang menyadari kalau Rendy sedari tadi menatapnya pun melirik ke arah lelaki itu. Rivka mengernyit heran ketika Rendy tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan. Rivka tidak sadar saja kalau saat ini Rendy sedang memikirkan Rivka, Rendy beruntung bisa mendapatkan sahabatnya sendiri dan menjadikannya istri. "Kenapa lo dari tadi senyum-senyum? Udah gíla ya?" tanya Rivka. "Nggak apa-apa, Rivka lanjutin aja makannya." Rendy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Beneran gíla kayaknya." Rivka yang sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan Rendy pun tak ambil pusing dengan urusan itu, wanita itu memilih melanjutkan makannya hingga akhirnya habis. "Pak, saya mau bayar. Harganya kayak biasanya 'kan?" tanya Rivka pada Pak Ujang. "Iya, Neng." "Ini ya, Pak." Rivka memberikan uang sepuluh ribu rupiah pada Pak Ujang. "Iya, makasih, Neng." "Ren, ayo balik. Apa lo mau di sini sendirian?" ujar Rivka pada Rendy yang sedari tadi tak beranjak dari duduknya ketika ia sudah selesai dengan urusan sarapannya. "Eh, jangan tinggalin Rendy, Rivka!" Rendy bergegas menyusul Rivka yang sudah keluar tenda terlebih dulu. "Kita mau ke mana sekarang?" tanya Rendy saat berhasil mensejajarkan langkahnya bersama Rivka. "Pulang lah, mau ke mana lagi?" Rendy seenaknya saja merangkul bahu Rivka membuat wanita itu yang merasa risih pun berusaha melepaskan dirinya. "Apaan sih, Ren? Jangan rangkul-rangkul gue deh." Rangkulan itu akhirnya terlepas, tetapi Rendy sepertinya tak mau selesai mencari masalah dengan Rivka karena nyatanya ia malah memeluk lengan Rivka. "Nggak mau ngajakin Rendy jalan-jalan dulu sebelum pulang?" tanya lelaki itu. "Nggak, lagian lo udah sering juga jalan-jalan. Males juga gue mau keliling-keliling, belum mandi gini." "Tapi walaupun Rivka belum mandi, Rivka tetap terlihat cantik kok," ucap Rendy jujur. "Bisa aja lo, Bambang!" Rivka melepaskan tangan Rendy kemudian memukul kepala pria itu hingga membuat Rendy mengaduh, sepertinya Rivka tak sadar kalau saat ini posisinya adalah seorang istri. Wanita itu masih menganggap kalau Rendy adalah temannya dan bukannya suaminya. "Nama Rendy itu Rendy, bukannya Bambang, Rivka. Rendy sama sekali nggak kenal Bambang itu siapa, jangan-jangan itu mantan pacarnya Rivka? Apa Rivka belum bisa lupain dia sampai-sampai Rivka nyebut nama dia di depan Rendy?" tanya Rendy. "Ampun deh lo, Ren, pusing banget gue ngomong sama lo. Antara kelewat pintar sama nggak nyambung lo ini," ujar Rivka berjalan cepat meninggalkan Rendy. "Rivka, jangan jalan cepat-cepat. Kaki Rendy sakit kalau harus kejar langkah Rivka." Dalam hati Rivka mendumel, ia tidak peduli jika Rendy sakit kaki karena salah lelaki itu yang tadinya mau ikut. Toh, ia tadi tak memaksa Rendy untuk ikut, dasar si letoy itu memang suka sekali cari masalah. Beberapa saat akhirnya mereka tiba di rumah, Rivka terkejut ketika ibu, ayah dan adiknya sudah berada di rumah. Mereka langsung menyambut Rivka dan Rendy dengan hangat, Rivka hanya memutar kedua bola matanya malas karena mamanya ini sangatlah berlebihan. Mereka tidak dari pergi lama, tetapi hanya beberapa jam saja. Namun, perlakuannya seakan mereka pergi sekian abad saja. "Kalian sudah pulang? Tadi habis jalan-jalan bersama ya?" tanya Livya. "Iya, Tante," ujar Rendy sambil tersenyum. "Loh? Kok masih panggil tante? Panggil ibu dong kayak Rivka. Kamu 'kan sekarang udah jadi suaminya Rivka, yang berarti kamu anak ibu juga," ujar Livya. "Iya, Bu." Rendy mengangguk patuh. "Duh, kamu ini lucu banget sih? Ibu sampai gemas pengen cubit pipi kamu," ujar Livya. "Cubit aja, Bu, kalau bisa sampai luka-luka," celetuk Rivka kemudian berlalu melewati ibunya untuk duduk di sebuah sofa di mana adiknya duduk sambil memainkan ponselnya. "Dasar Rivka ini, kamu jangan dengerin kata-katanya Rivka ya. Dia memang suka begitu," ujar Livya. "Iya, Bu. Rendy ngerti kok." "Ya sudah, ayo sini ikut duduk. Ada yang mau kami bahas sama kalian." Livya menuntun Rendy duduk di sofa sebelah Rivka. "Rivka, Ayah sama Ibu udah sepakat kalau kalian akan tinggal di rumah yang memang sudah Rendy beli. Mamanya Rendy juga sudah setuju, kamu jangan mengira kalau ayah dan ibu mengusir kamu dari rumah ini. Sampai kapanpun kamu tetap boleh tinggal di sini, tapi kami ingin kalian tinggal berdua agar bisa menghabiskan waktu berdua. Meskipun Ibu tahu kalau kalian sudah lama mengenal, tetapi pasti akan agak canggung saat status kalian berubah. Maka dari itu kami memutuskan hal ini, kalian akan mulai pindah setelah bulan madu." "Apa? Pindah? Bulan madu? Ibu bercanda!?" tanya Rivka terkejut. "Iya, kamu—" "Udah cukup ya Ibu sama Ayah maksa Rivka buat nikah sama Rendy. Sekarang jangan paksa Rivka pergi bukan madu dan hanya tinggal berdua aja sama Rendy, aku nggak mau?" Usai mengatakan itu, Rivka berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Merasa kesal karena orang tuanya selalu membuat keputusan tanpa bertanya padanya lebih dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN