Mendengar desah halus itu, Frank tersenyum simpul. “Kenapa? Kau tidak bisa lagi menahannya?” Kara membuka mata dan langsung terpikat oleh bibir tipis di hadapannya. Lagi-lagi, ia menelan ludah. “Itulah yang kurasakan dulu. Sekarang karena kau sudah tahu, kau tidak boleh lagi menaruh dendam ataupun berpikiran yang macam-macam terhadapku. Mengerti?” Kara menghela napas samar. Ia tidak lagi menyimak apa yang dikatakan oleh bosnya. Perhatiannya hanya tertuju pada bibir itu. Gerakannya seperti menggoda jiwa. Ia ingin menyentuhnya lagi. Ketika Frank hendak lanjut bicara, tiba-tiba saja, Kara membungkamnya. Frank pun terbelalak. Ia tidak menduga bahwa gadis selugu Kara ternyata juga bisa menjadi liar saat kehilangan akal sehat. “Tunggu,” sela Frank saat Kara mengambil napas. Meskipun jant

