Kara terpejam erat, berusaha menyingkirkan bayangan kotor dari benaknya. Ia tidak ingin terjebak dilema karena jelas, apa yang diinginkan oleh tubuhnya sangat bertentangan dengan hati dan logika. Tiba-tiba, pintu terbuka lebar. Kara spontan menoleh dengan mata terbelalak. Begitu mendapati Frank berdiri di sana dengan tangan terkepal erat, ia mendesah lega. Untuk pertama kalinya, ia bersyukur melihat bosnya yang pemarah itu datang. “Tuan ....” Ben sontak berhenti menekan Kara. Bola matanya bergetar hebat menyaksikan kehadiran tamu yang tidak diundang itu. Ketakutannya kini jauh lebih besar daripada efek obat. “Frank, ini tidak seperti yang kau—” Buk! Sebuah pukulan mendarat di rahangnya. Ben hilang keseimbangan. Kalau saja meja yang ditimpanya terbuat dari kaca, ia pasti sudah tert

