“Ya? Cari siapa, Mas?” tanya seorang wanita paruh baya melalui celah pintu. “Nenek Sumi ada?” “Masnya siapa?” tanyanya lagi, kali ini dia membuka pintu sedikit lebih lebar, sedikit percaya bahwa pria tegap di hadapannya ini adalah orang baik. Bimo mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Namun, dalam sekejap, tanpa menyambut uluran tangan Bimo, pintu di hadapannya langsung tertutup kembali dengan sempurna. “Mbak, Bu, tolong izinkan saya bertemu dengan Nenek Sumi sebentar saja. Tolong,” pinta Bimo sembari terus mengetuk pintu di hadapannya, namun pintu itu bergeming. Sialan. Terpekur menatap kembali lantai teras dingin di bawah kakinya. Segala perbuatan di masa lalu seketika melintas kembali. Hanya senyum miris yang kemudian muncul di wajah Bimo, tersadar bahwa karmanya belum us

