Wulan mendapatkan pekerjaan di tempat lain tidak masuk dalam rencana Bimo. Pria itu harus melakukan sesuatu agar Wulan mengurungkan niatnya. Namun, bicara dengan Wulan itu sangat sulit. Bicara dengannya dengan ancaman tidak pernah berhasil. Bicara baik-baik dengannya, itu sama sekali bukan tipikal Bimo. Bimo melangkah cepat diselimuti dengan amarah, digedornya pintu kamar Wulan berkali-kali, hingga akhirnya memaksa Wulan yang sebelumnya enggan, akhirnya membuka pintu. “Apa?!” sambut Wulan, begitu mendapati Bimo ada di ambang pintu. “Taruhan kemarin nggak berlaku! Kamu tetep kerja di kantor aku!” “Hah! Cuma pengecut yang menarik perkataannya! Itu lo!” bentak Wulan sambil menunjuk d**a Bimo. “Persetan! Kamu nggak akan kerja dim—” Kalimat Bimo terhenti, tiba-tiba saja rasa mual kemba

