“Tari, sambungkan ke rumah,” perintah Bimo sambil lalu memasuki ruangannya. Mood Bimo sedang tidak baik, semua karena sifat keras kepala Wulan yang terus menolak dirinya. Wanita itu tetap tidak berubah. Walaupun sudah menyerah, tapi harga dirinya masih tinggi. “Bi Imah, nanti kalau Wulan nyampe rumah, kunci semua pintu. Jangan biarkan dia keluar.” “Anu … Den … Mbak Wulan tadi memang udah nyampe rumah, tapi tadi masuk kamar bentar terus keluar lagi,” lapor Bi Imah, ada ketakutan terselip di nada bicaranya. Bimo yang mendengar hal tersebut, langsung menggeram kesal di ujung telepon. Dibantingnya telepon meja, lalu mengusap wajahnya kasar. “b******k kamu, Lan! Mau kemana kamu, huh?” Bimo harus tahu apa yang dilakukan Wulan di luar sana. Sudah berkali-kali Bimo memintanya untuk izin

