Epilogue

924 Kata

Aku tersenyum, sesuatu yang dulu jarang aku lakukan. Namun, sejak dia menjadi istri serta ibu dari Genta dan Rayaa, otot wajah di sekitar bibirku seakan selalu tertarik ke atas. Entah mengapa, aku tidak tahu. Kini aku duduk bersama putra-putriku di ruang tamu, seraya melihat album foto yang menyimpan kenangan masa lalu. Tahun pertama bersamanya, aku sempat marah padanya—hanya sebentar. Karena dia tidak mengatakan bahwa Genta ada di rahimnya. Aku baru tahu, ketika malam itu dia pingsan setelah dokter menyatakan bahwa Nenek Sumi meninggalkan kami semua untuk selamanya. Bulan berganti, perutnya semakin membuncit, membuatnya terlihat semakin menggemaskan ketika menggunakan toga kelulusan. Wajahnya di foto tersenyum lebar, sambil memelukku erat. Ada Uta dan si Asep di sebelah kanan kami. Ak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN