“Mbak Wulan, mau Alya bawain makan siang?” Sudah tiga puluh menit yang lalu Wulan sampai di rumah sakit. Duduk termenung dengan sisa-sisa air mata di wajahnya. Tangannya tak sedetikpun melepas tangan Nenek Sumi semenjak ia menggenggamnya. “Kamu makan aja dulu, nanti aku susul. Makasih,” jawab Wulan pelan, lalu kembali menatap sayu Nenek Sumi yang tertidur. Alya mengangguk mengerti bahwa wanita di hadapannya ini sedang butuh waktu sendiri bersama Neneknya. Pagi ini Alya menggantikan Bimo menjaga Nenek, karena pria itu sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Beberapa saat setelah kepergiaannya, Alya dikejutkan oleh kehadiran Wulan yang langsung merangsek masuk memeluk tubuh Nenek Sumi. Setelah kepergian Alya ke kantin rumah sakit, tangis Wulan kembali pecah. Bibirnya terus

