Di sinilah Bimo berada. Duduk sembari mengobati lengannya yang memerah dan tergores, ketika memaksa masuk ke apartemen baru Wulan. “Setengah jam, oh ngga, lima belas menit udah lebih dari cukup baterai lo keiisi. Setelah itu lo bisa angkat kaki dari sini. Karena sore ini gue ada kuliah.” Bimo masih tak acuh dengan ucapan Wulan yang bernada ketus. Dia lebih memilih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru apartemen Wulan yang besarnya tidak lebih besar dari kamarnya di Jakarta. Sebuah apartemen studio, dengan perabot sofa yang Bimo yakin juga merangkap sebagai tempat tidur—karena Bimo tidak melihat adanya partisi ruangan lain selain untuk dapur dan balkon kecil. Kemudian meja belajar dengan laptop dan lampu belajar di atasnya, beserta kursinya juga berwarna putih berada di sisi kir

