Surrender

2352 Kata

Perlahan Bimo membuka matanya. Sinar mentari menyeruak masuk dari celah tingkap jendela kamar membuat Bimo menyipit sesaat untuk menyesuaikan netranya. Diusapnya wajah, sembari bangkit dari rebahannya. Bimo menatap sekelilingnya, memandang bingung pada baskom, gelas berisi air yang tinggal seperempat, lalu ada piring kotor bekas bubur di nakas. Belum lagi handuk kompres yang ada di tangan dan tubuh bagian atasnya yang polos. Dimana sih, ini? Penasaran, Bimo beranjak dari pembaringannya dan keluar kamar. Diperhatikannya kembali sekeliling ruangan. Tak ada yang istimewa, bahkan tempat ini tidak lebih besar dari ruang tamu apartemen Bimo. Hanya ada satu kamar tidur—yang baru saja Bimo tempati—kamar mandi, ruang tamu yang merangkap sekaligus dengan ruang makan dan dapur. Bagaimana bisa ada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN