Darma menutup buku bacaanya. Sejak kakinya melangkah meninggalkan ruang kerjanya, pikirannya dipenuhi oleh berbagai hal. Kakek tua ini butuh waktu untuk memutuskan apa yang akan dilakukan kepada dua cucunya yang dia yakin masih di ruang kerjanya, merencanakan langkah kabur mereka selanjutnya. Tangan keriputnya terulur, meraih ponsel di nakas. “Bagaimana kabarnya?” “ ... “ “Izinkan aku bertemu dengannya. Jangan keras kepala. Kau tahu, ini adalah kali pertama aku memohon padamu. Aku meminta maaf atas nama cucuku, yang aku yakin tidak akan pernah ada kata maaf keluar dari mulutnya.” “ ... “ “Aku yakin, aku juga berhutang maaf padamu, atas apa yang dilakukan anakku pada anak dan cucumu bertahun lalu.” “ ... “ “Jika itu maumu, dan aku yakin hal itu akan membuat hidupku lebih tenang.

