Tepat ketika Bara sampai di samping Sophia, gadis itu rubuh. Bara menangkap tubuhnya yang lunglai, direngkuhnya dalam pelukannya. Pemuda itu sangat panik karena sebelumnya tidak pernah melihat Sophia dalam keadaan seperti itu. Tapi melihat Sophia yang hampir kehilangan kesadaran dan nampak menahan rasa sakit, dikuatkannya hatinya untuk bisa tetap tenang.
"Sophia." Bara menangkupkan telapak tangan kanannya di wajah Sophia dan menepuk-nepuknya perlahan. Sedangkan tangan kirinya menyangga punggung gadis itu. Ia terus menyebut namanya tapi gadis itu tidak merespon.
"Sophia, kau dengar aku? Tarik nafas dalam, kendalikan dirimu, Sophia. Tenang, kau bisa melalui ini. Tarik nafas!" Ilham memandu Sophia supaya tetap pada kesadarannya. Suaranya bersahutan dengan suara Bara. "Bara, tetap posisikan Sophia terduduk seperti ini. Pandu dia supaya bisa bernafas dalam. Aku akan membawa mobilku kemari." Ilham berbicara dengan cepat lalu segera berlari menuju mobilnya.
Bara mengikuti instruksi Ilham tanpa banyak bertanya, tentu bukan saatnya. Keselamatan Sophia jauh lebih penting dari segala pertanyaan yang muncul dalam kepalanya. Ia akan menanyakannya nanti pada Ilham setelah memastikan Sophia baik-baik saja.
Tak sampai lima belas menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Mereka membawa Sophia ke rumah sakit terdekat, Rumah Sakit Angkatan Darat yang terletak hanya beberapa ratus meter dari kampus. Begitu Ilham menepikan mobilnya di depan Instalasi Gawat Darurat, Bara segera membuka pintu mobil dan membopong Sophia. Perawat yang bertugas segera mengarahkan Bara untuk menuju satu bilik terdekat, diikuti dokter jaga yang melihat kedatangan mereka. Bara menjelaskan secara singkat mengenai gejala yang Sophia alami. Maka kemudian perawat bergegas menyiapkan hospital bed dan menaikkan crank di bagian kepala supaya Shopia bisa dibaringkan dengan posisi Fowler untuk mempermudah pernafasannya.
Setelah itu Bara diminta menunggu di luar ruangan sementara dokter melakukan pemeriksaan. Ilham terlihat menghampirinya dengan setengah berlari dari arah tempat parkir. Belum sempat mengatakan apapun, Bara terlebih dulu telah meraih kerah kemejanya. Beberapa orang yang lalu lalang di sekitar mereka menatap mereka dengan raut terkejut tapi ragu untuk ikut campur.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang kau lakukan pada Sophia sampai dia jadi seperti itu?" Bara bertanya dengan suara yang hampir berbisik tetapi nadanya terdengar penuh penekanan dan amarah. Ia mengetatkan rahangnya.
"Itu bukan urusanmu. Itu hanya persoalan antara aku dan Sophia." Ilham menjawab dengan tak acuh membuat Bara semakin emosi.
"Apa kau bilang? Dengar baik-baik ya, Tuan Ilham Mahardhika yang terhormat. Saya tidak peduli siapa Anda dan ada hubungan apa Anda dengan Sophia. Tapi ingat satu hal, jika terjadi sesuatu pada Sophia maka saya tidak segan-segan untuk menghajar Anda! Camkan itu!" Bara menghempaskan tubuh Ilham hingga membuatnya terhuyung ke belakang. Beruntung keseimbangannya cukup baik hingga tak membuatnya terjatuh.
Bara kemudian duduk di bangku tunggu panjang yang terdapat tepat di depan IGD. Sementara Ilham memilih duduk di bangku seberangnya. Waktu terasa berjalan dengan begitu lambat bagi mereka berdua. Raut kekhawatiran masih menempel di wajah dua lelaki tampan beda generasi itu. Bara menunduk, menumpukan kedua sikunya di atas paha sedangkan jari-jemarinya memijit pelan pelipisnya. Sedangkan Ilham nampak sempat berdiri menjauh dan berbicara dengan seseorang di telepon lalu kembali ke tempat duduknya semula.
Setelah cukup lama menunggu, dokter dan perawat yang tadi menangani Sophia akhirnya keluar. Ketika perawat menanyakan wali pasien untuk mengurus administrasi rumah sakit, Ilham berinisiatif mengajukan diri dan membiarkan Bara tetap tinggal untuk mendengarkan penjelasan dari dokter. Ilham merasa sangat bersalah telah membuat kondisi Sophia memburuk. Ia sadar ia telah salah waktu dan tempat ketika mengatakan hal sesensitif itu pada Sophia.
Bara mendengarkan penjelasan singkat dokter bahwa Sophia telah mendapatkan penanganan sesuai prosedur untuk pertolongan pertama. Sedangkan untuk penjelasan selanjutnya dokter bersikukuh untuk tetap menunggu sampai wali pasien datang. Bara merasa tidak puas dan mendesak dokter itu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Sophia. Namun dokter tersebut hanya menambahkan bahwa pasien telah menjalani serangkaian prosedur elektrokardiografi, foto toraks, dan ekokardiografi. Setelah menyampaikannya, dokter tersebut undur diri dan meninggalkan Bara yang kini nampak terpaku dengan pandangan kosong.
Bara mulai dapat memahami situasi saat ini, apa yang dialami Sophia. Ia cukup akrab dengan istilah-istilah yang baru saja disampaikan dokter. Ingatannya melayang pada sosok wanita yang telah melahirkannya. Ya, ibunya. Wanita yang telah meninggal beberapa tahun lalu karena penyakit jantungnya. Bara kini sangat syok mengetahui bahwa kemungkinan besar Sophia juga menderita penyakit serupa.
Dengan gontai Bara melangkahkan kakinya mendekati ranjang Sophia. Nampak selang infus dan oksigen telah terpasang. Sophia nampak begitu pucat dan lemah di matanya. Bara menatapnya penuh arti lalu mengusap puncak kepala Sophia dan mendaratkan sebuah kecupan yang dalam di kening gadis itu.
Pemandangan itu tak luput dari mata Ilham yang baru saja kembali setelah mengurus administrasi. Ada perasaan tak rela dalam hatinya. Tapi ia tak dapat memungkiri kenyataan yang ada dihadapannya itu. Ia melihat Sophia tersenyum, meski nampak samar, setelah mendapatkan kecupan di keningnya dari Bara. Dugaan Ilham mengenai hubungan spesial antara Shopia dan Bara perlahan menguat.
"Maaf, permisi. Pasien akan kami pindahkan ke ruang perawatan." Dua orang perawat pria muncul menyadarkan Ilham dari lamunannya. Dengan cekatan mereka memeriksa selang infus, oksigen, lalu mendorong ranjang Shopia keluar dari IGD menuju lorong di sayap kanan gedung rumah sakit. Mereka menempatkan Sophia di sebuah kamar VIP yang terlihat cukup luas dan nyaman dengan sebuah sofa di dekat jendela yang menampilkan pemandangan taman rumah sakit.
Perawat kemudian menjelaskan beberapa hal mengenai peraturan larangan memberikan makanan dari luar pada pasien, jam besuk, jumlah wali yang dapat menemani, dan kartu akses untuk keluar masuk rumah sakit bagi wali. Perawat juga mengingatkan untuk segera menekan tombol darurat jika terjadi keadaan darurat. Setelahnya, kedua perawat itupun segera pamit undur diri.
Sophia menatap Ilham dengan pandangan yang dipenuhi berbagai pertanyaan. Tapi ia merasa terlalu lemah bahkan sekedar untuk mengucapkan satu kata. Nyeri di d**a kirinya memang telah cukup jauh berkurang. Tapi kepalanya masih terasa sangat berat. Ditambah lagi rasa kantuk yang hampir tak dapat ia tahan. Pasti ini efek dari satu injeksi yang ia dapatkan di IGD tadi, pikir Sophia.
Bara menyadari arah pandangan Sophia tertuju pada Ilham yang berdiri di ujung ranjang. Ia sendiri berdiri di sisi kanan sedang mengusap puncak kepala gadis itu. Ia tak ingin mempedulikan arti pandangan Sophia saat ini pada Ilham. Ia hanya ingin fokus memberikan perhatian sepenuhnya pada Sophia, membuat gadis itu nyaman.
"Tidurlah, Princess Sophia. Kau harus banyak istirahat supaya lekas sembuh." Ucap Bara lembut membuat Sophia mengalihkan pandangannya dari Ilham menuju Bara. Gadis itu hanya dapat menjawab dengan senyum tipis dan anggukan ringan yang hampir tak terlihat saking lemahnya.
Bara kemudian menarik sebuah kursi mendekati sisi ranjang. Ia duduk dan menggenggam tangan kanan Sophia sambil kembali mengusap puncak kepalanya membuat gadis itu mulai memejamkan mata. Bara seolah mengabaikan kehadiran Ilham.
Ilham sendiri merasa ia tidak dapat berbuat apa-apa saat ini. Perasaan bersalah masih menguasai dirinya. Melihat Sophia mulai memejamkan mata, iapun diam-diam mundur dan keluar dari ruangan itu. Begitu ia berada di luar, ia mengusap wajahnya berkali-kali dengan kasar, sejenak terdiam lalu menangkupkan telapak tangan kanannya menutup mulutnya. Sementara tangan kirinya bertolak pinggang. Beberapa saat ia bertahan dalam posisi itu tak mempedulikan sapaan beberapa perawat yang melewatinya sampai sebuah tepukan dibahu menyadarkannya.
"Dimana putriku?" Farida bertanya dengan nada khawatir.
"Dia ada di dalam tapi sekarang sedang tertidur karena pengaruh obat, " jawab Ilham.
"Aku akan melihatnya sebentar. Kuharap kau tetap di sini. Karena aku butuh penjelasan kenapa semua ini bisa terjadi."
Tanpa menunggu jawaban Ilham, Farida segera melewati laki-laki itu dan membuka pintu ruang rawat inap Sophia dengan perlahan. Begitu pintu itu terbuka, nampak olehnya Sophia yang terbaring di atas ranjang sedang tertidur seperti yang dikatakan Ilham. Seketika matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya rasanya hancur melihat wajah pucat putrinya itu. Ditambah lagi dengan jarum infus dan selang oksigen yang terpasang membuatnya semakin pilu. Air matanyapun tidak dapat dibendung lagi. Ia segera menyekanya dengan sapu tangan.
Setelah menyeka air matanya, Farida baru tersadar bahwa ada seseorang pemuda duduk di samping ranjang Sophia. Ia tercenung sesaat menyaksikan apa yang tengah dilakukan pemuda itu. Nampak jelas olehnya pemuda itu mengusap puncak kepala Sophia dengan penuh perhatian, sampai-sampai kehadirannyapun tak disadari. Dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa ternyata satu tangan lainnya saling menggenggam dengan tangan Sophia. Dilihat dari apa yang dilakukannya tentu pemuda itu cukup dekat dengan Sophia, pikir Farida.
Iapun berjalan perlahan mendekatinya. Ia menepuk pelan bahu pemuda itu membuat yang bersangkutan agak terlonjak kaget. Pemuda itu menolehkan kepala ke arah Farida dan ia nampak mengerutkan kening bertanya-tanya. Farida tersenyum ke arahnya.
"Saya ibu Sophia. Kamu siapa, Nak?" Tanya Farida lembut. Pemuda itu seketika nampak gugup dan salah tingkah. Ia bangkit dari kursi, dengan hati-hati melepas genggaman tangannya pada tangan Sophia lalu mengulurkannya ke arah Farida.
"Maaf, Tante. Saya Bara, teman satu kampus Sophia. Senang bertemu dengan Tante." Bara memperkenalkan dirinya dengan agak canggung.
"Saya juga senang mengetahui ternyata Sophia punya teman dekat seperti kamu." Jawab Farida sambil membalas uluran tangan Bara.
Bara kemudian nampak bergeser memberi kesempatan wanita yang baru dikenalnya sebagai ibu gadis pujaannya itu supaya beliau bisa berada lebih dekat ke samping ranjang Sophia. Ia kemudian melangkah mendekati ujung ranjang memperhatikan Farida mengusap puncak kepala Sophia lalu memberikan gadis itu sebuah kecupan di kening. Tiba-tiba Bara merasa semakin merindukan sang ibu.
Selang waktu beberapa menit, Sophia terbangun dari tidurnya ketika Farida tengah mengamati wajah damai sang putri ketika tertidur. Ia membuka matanya perlahan dan dengan pandangan yang masih agak samar dapat menangkap bayangan sosok Bara di ujung ranjangnya. Lalu ia melirikkan matanya ke samping kanan, tempat Bara sebelumnya berada, dan mendapati sang ibu tengah menatapnya dengan senyuman hangat.
"Apa ibu membuatmu terbangun? Ayo, tidur saja lagi supaya kau lekas pulih, Sayang." Farida kembali mencium kening Sophia. Gadis itupun kembali menutup kelopak matanya yang masih terasa begitu berat.
"Bara, kamu bisa tolong Tante jaga Sophia dulu sebentar? Tante akan menemui dokter." Pinta Farida setelah memastikan sang putri telah kembali lelap dalam tidurnya.
"Tentu, Tante. Dengan senang hati." Jawab Bara dengan mantap.
Farida kemudian segera keluar dari ruangan itu. Ia melihat Ilham masih berada di sana, menundukkan kepala dan bersandar ke dinding sambil menyedekapkan kedua lengannya di depan d**a. Iapun melangkah mendekati laki-laki itu.
"Ilham." Mendengar namanya disebut, Ilham segera menegakkan tubuhnya dan menurunkan kedua lengannya.
"Mbak, saya minta maaf. Saya sungguh menyesal membuat Sophia jadi seperti ini. Ini..ini memang salah saya." Ilham nampak menangkupkan kedua telapak tangannya.
"Sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Kita bicarakan hal itu nanti saja. Aku ingin bertemu dokter terlebih dahulu." Farida berkata dengan nada rendah. Meski ia ingin sekali menginterogasi lelaki itu saat ini juga. Tapi setelah ia pikir kembali, akan lebih baik jika ia menanyakan dulu keadaan Sophia pada dokter.
"Biar saya antar." Ilham menawarkan diri dan hanya dibalas anggukan oleh Farida.
Merekapun berjalan beriringan menuju ruang dokter. Keduanya nampak gugup begitu sampai di depan tempat yang mereka tuju. Pikiran mereka dipenuhi prasangka dan kekhawatiran.
Farida terdiam sesaat dan mengatur nafas sebelum melangkah masuk. Setelah merasa cukup tenang, ia menatap Ilham seolah memberi kode bahwa dia siap. Ilhampun segera mengetuk pintu ruangan di hadapannya. Mereka berdua masuk setelah mendengar suara mempersilahkan dari arah dalam.
Nampak di ruangan itu seorang pria mengenakan jas putih berusia pertengahan tiga puluhan tengah duduk dengan kepala tertunduk. Ia terlihat fokus memeriksa beberapa dokumen rekam medik pasien yang diberikan seorang perawat yang berdiri di sampingnya. Begitu menyadari tamu yang baru saja dipersilahkannya masuk telah berada di hadapannya, pria itupun berdiri menyambut dengan senyum ramah dan mempersilahkan mereka untuk duduk di seberang meja kerjanya.
"Maaf mengganggu, Dokter. Saya Farida ibu dari pasien bernama Sophia yang baru masuk beberapa jam lalu."
"Oh, ya. Saya memang menunggu untuk menjelaskan beberapa hal yang cukup penting." Pria itu kemudian mengambil sebuah dokumen rekam medik di sudut kanan meja dan memeriksa kembali beberapa lembar kertas yang berisi hasil pemeriksaan untuk memastikan. Ia lalu menatap ke arah Farida dan Ilham bergantian.
"Sebelumnya saya berharap supaya ibu tetap tenang dan kuat. Bagaimanapun yang terpenting saat ini adalah bagaimana kondisi pasien. Kita harus menularkan energi positif untuk membantu pasien, supaya dia memiliki semangat sehingga kondisinya dapat pulih seperti yang kita harapkan."
"Saya mengerti, Dok. Saya akan berusaha." Farida menjawab setelah menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Sedangkan Ilham hanya diam dan mengangguk kecil.
"Baik. Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah ketika lahir atau ketika kanak-kanak putri ibu pernah didiagnosis suatu penyakit atau kelainan bawaan?"
"Benar, Dok. Saat itu dokter yang menangani putri saya mengatakan bahwa Sophia memang menderita sejenis penyakit jantung bawaan. Tapi beliau mengatakan bahwa itu masih tergolong ringan sehingga saya tidak perlu terlalu khawatir. Cukup mengawasi dan menjaga supaya putri saya tidak terlalu lelah maka semua akan baik-baik saja. Lalu, apakah sekarang kondisinya memburuk, Dokter?"
Farida menyampaikan seperti apa yang pernah ia dengar dulu dari dokter yang menangai Sophia. Selama ini ia selalu berusaha untuk selalu bisa berpikir positif meski terkadang kekhawatiran itu datang menghampiri. Tapi sejak dua bulan lalu, ketika melihat kondisi Sophia setelah pulang dari makam Al, ia seolah mendapat firasat buruk.
"Apakah beberapa waktu belakangan ini putri ibu pernah mengeluhkan rasa nyeri di d**a kirinya? Atau perasaan tidak nyaman seperti mudah lelah, berkeringat dingin, sering mual, dan pusing?"
"Sayangnya putri saya bukan tipe anak yang mudah menyampaikan apa yang dirasakannya, Dokter, apalagi mengeluh. Dia anak yang mandiri dan cenderung tertutup. Tapi memang dua bulan lalu putri saya mengalami satu kejadian yang cukup mengguncang dan saya dapat melihat gejala yang baru saja Anda sampaikan." Farida berusaha menjelaskan apa yang membuatnya merasa cemas beberapa waktu ini. Ia menyeka air mata yang tiba-tiba saja lolos begitu saja.
"Saya mengerti. Jadi begini, pasien atas nama Sophia, putri ibu ketika dibawa ke IGD nampak mengalami beberapa gejala yang kami curigai sebagai serangan jantung. Kemudian kami melakukan beberapa prosedur pertolongan pertama dan untuk memastikan diagnosis kami melakukan beberapa tindakan antara lain EKG, foto toraks, dan ekokardiografi. Berdasarkan hasil dari serangkaian tes tersebut kami menyimpulkan bahwa putri ibu menderita supravalvural pulmonary stenosis.
Ini merupakan suatu kondisi dimana terjadi penyempitan di arteri pulmonalis utama, terkadang juga bisa di cabang-cabangnya. Arteri ini yang membawa darah dari jantung menuju paru-paru. Penyempitan ini membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Bisa jadi ketika lahir memang kondisinya masih termasuk derajat ringan karena tidak ditemukan gelaja yang membahayakan. Namun perlu diketahui bahwa ada banyak faktor resiko yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit yang diderita pasien, misalnya usia, pola makan, aktivitas, bahkan juga faktor psikis pasien."
Air mata kembali mengalir dari kedua sudut mata Farida meski ia telah berusaha menguatkan diri. Sedikit banyak ia dapat menyimpulkan bahwa kondisi Sophia saat ini memang benar-benar memburuk. Firasatnya, kekhawatiran yang ia pendam selama ini sekarang nampak nyata di depan matanya.
Sementara itu Ilham semakin merasa bersalah mendengar beberapa kata terakhir yang diucapkan dokter. Ya, faktor psikis. Ia seharusnya paham betul bahwa faktor psikis bisa jadi sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan seseorang. Ia tak habis pikir kenapa ia bisa begitu ceroboh, begitu gegabah. Ia merasa bodoh.
"Kami akan memastikan kondisi Nona Sophia sekali lagi dengan MRI. Mari kita berdoa dan berusaha semaksimal mungkin untuk hasil yang terbaik."
**