Pagi itu tanpa Sophia duga Bara menjemputnya di kost supaya bisa pergi ke seminar bersama. Ketika ia keluar gerbang, Bara nampak berdiri menyandar di sisi mobil Ford Mustang Cabrio putihnya sambil bersedekap, sedangkan pandangannya tertuju ke arah gerbang. Sinar matahari pagi yang hangat menyelimuti seluruh tubuhnya. Rambutnya yang dan hitam pekat nampak berkilau indah tak kalah dengan model iklan shampoo. Pemuda yang menjadi incaran gadis-gadis itu pagi ini nampak mengenakan kemeja flannel, yang merupakan favoritnya, putih bergaris hitam dan celana denim hitam serta sneaker putih. Senyumnya mengembang sempurna memamerkan kedua lesung pipi yang membuat wajah pemuda makin tampan.
Sophia sesaat terpana melihatnya, membuatnya mematung dengan satu tangan masih berada di handle pintu gerbang sedangkan satu tangan lainnya menahan ransel di pundaknya. Selain karena penampilan Bara yang terlihat memukau pagi itu, Sophia merasa salah tingkah mengingat ia saat inipun mengenakan setelan yang nampak sangat serasi dengan Bara, rok denim hitam setengah betis dan kemeja putih panjang. Jika orang-orang melihat Sophia dan Bara jalan berdua tentu, tentu mereka akan berpikir bahwa mereka telah membuat janji sebelumnya untuk menentukan dress code.
Berbeda dengan Sophia yang cukup shock, Bara justru merasa sangat senang dan puas melihat penampilan mereka. Bara membayangkan satu orang yang sejak kemarin membuat naluri persaingannya menajam akan illfeel nanti. Bara tak peduli andai sikap seperti itu nampak kekanak-kanakan bagi orang lain. Tapi sungguh hari itu Bara benar-benar ingin merasa menang dari lawannya.
"Good morning, Princess Shopia." Bara menyapa terlebih dulu sebelum Sophia sepenuhnya kembali pada kesadarannya.
"Hai. Morning, Prince Bara." Jawab Sophia dengan agak salah tingkah. Bara menanggapi hanya dengan tawa kecil mendengar kata 'prince' di depan namanya. Ia lalu membuka pintu mobilnya mempersilahkan Sophia untuk masuk dan ia dengan segera setengah berlari memutar menuju sisi kemudi.
"Bara, terima kasih sudah menjemputku. Meski sebenarnya aku bisa jalan kaki. Lagi pula tidak terlalu jauh kan."
"Aku hanya tidak bisa membayangkan jika ada orang lain yang menjemputmu atau memberimu tumpangan ketika melihatmu di jalan. Aku rasa aku tidak akan suka. Karena itu artinya kau akan berada cukup dekat dengan orang itu."
Sophia tertawa kecil mendengar alasan Bara. "Memangnya siapa yang akan melakukan itu? Kau tahu sendiri aku tidak punya teman. Kau ini ada-ada saja."
Bara hanya mengangkat bahunya. Yang jelas ia alasan itu merupakan alasan yang benar-benar jujur dari lubuk hatinya yang terdalam. Ia sangat berharap Sophia bisa mengerti. Andai gadis itu dapat menangkap kata sederhana yang bisa merangkum itu semuanya, kata yang tak lain adalah 'cemburu'.
"Apa kau akan cemburu jika aku dekat dengan orang lain?" Tanya Sophia tiba-tiba, seolah gadis itu tahu apa yang sedang Bara pikirkan.
Belum sempat Bara menanggapi pertanyaan itu, mereka telah sampai di halaman parkir gedung aula serba guna milik kampus yang akan menjadi tempat diselenggarakannya seminar. Dari jumlah kendaraan yang ada, sepertinya belum banyak peserta yang datang. Barapun memarkirkan mobilnya dengan mudah di pojok kanan yang cukup terlindungi dari panas matahari karena adanya deretan pohon cemara yang tinggi menjulang, mungkin sekitar lima belas meter.
Entah ada kekuatan apa yang membuat mereka sama-sama diam, bertahan tidak langsung keluar dari mobil. Sophia menatap lurus ke depan. Sementara Bara menunduk dan meletakkan kepalanya di kemudi, tangannya masih mencengkeram kuat di kedua sisinya. Beberapa menit berlalu, Bara menengadahkan kepalanya dan menatap ke arah Sophia. Tanpa ragu diraihnya telapak tangan kanan Sophia dengan tangan kirinya, diremasnya lembut mengalirkan rasa hangat di d**a gadis itu.
Sophia menolehkan kepala pada pemuda yang tengah menggenggam tangannya. Ia merasa pemuda itu hendak mengatakan sesuatu. Sophia berharap sesuatu itu adalah apa yang sama dengan yang ada dipikirannya. Ia berharap Bara mengatakan bahwa ia memang akan cemburu jika Sophia dekat dengan orang lain. Dengan begitu Sophia akan merasa semakin yakin dengan perasaannya saat ini.
"Sophia." Panggilan Bara terdengar sarat akan maksud. Panggilan itu seolah telah cukup mewakili berbagai hal yang hendak diungkapkan.
"Apa kau akan cemburu jika aku dekat dengan laki-laki lain?" Sophia mengulang kembali pertanyaannya dengan memperjelas objeknya, mengganti kata 'orang' dengan 'laki-laki', menuntut jawaban yang sama-sama jelasnya.
"Ya. Aku tidak tahu apakah kau akan suka mendengar ini atau tidak, tapi aku tidak tahan lagi jika harus menahannya lagi. Aku akan cemburu, bahkan sangat cemburu jika kau dekat dengan laki-laki lain, Sophia."
Tak terasa air mata Sophia lolos begitu saja mendengar pengakuan Bara. Pengakuan yang benar-benar sesuai seperti yang ia harapkan. Pengakuan yang membuatnya perlahan semakin yakin untuk membiarkan Bara memasuki hatinya.
**
"We think sometimes that poverty is only being hungry, homeless and naked. But the poverty of being unwanted, unloved, uncared for is the greatest poverty. We must start in our homes to remedy this kind of poverty."
Setiap kali mengingat pernyataan Mother Teresa mengenai satu hal itu, aku merasa seperti mendapati anak panah melesat dan menembus jantungku. Pernyataan yang benar-benar mendeskripsikan apa yang aku rasakan; perasaan tidak diinginkan, tidak dicintai, dan tidak dipedulikan. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku selalu berharap akan menemukan orang seperti beliau.
Memang, aku telah memiliki ibuku. Tapi entah mengapa aku merasa masih ada sesuatu yang kurang. Ada kekosongan yang menuntut untuk dipenuhi. Apakah aku serakah karena menginginkan terlalu banyak?
**
"Ayo kita masuk ke dalam. Lima belas menit lagi seminarnya akan dimulai." Ajak Bara setelah beberapa waktu mereka tenggelam menyelami pikiran masing-masing. Setelah pengakuan Bara, tidak ada satu katapun terucap dari bibir keduanya. Mereka hanya saling tatap dan sesekali melempar senyum. Tangan Sophia tak lepas dari genggaman Bara.
"Bagaimana caranya kita akan ke sana kalau kita terus seperti ini." Sophia berbicara sambil melirikkan matanya ke arah genggaman tangan mereka, memberi Bara kode untuk melepaskannya. Bara salah tingkah jadinya.
"Oh, ma..maaf." Pemuda itu segera melepaskan genggamannya sambil menahan senyum canggung lalu segera membuka pintu mobilnya dan keluar. Sophiapun membuka pintu mobil di sampingnya sebelum Bara sempat membukakannya. Sophia sendiri merasa agak sedikit kikuk. Karena itulah ia segera keluar dan menghirup nafas dalam untuk menetralkan perasaannya.
Mereka berjalan berdampingan layaknya pasangan nampak serasi dengan dress code yang tidak disengaja sama-sama black and white itu. Parkiran sudah hampir penuh dan orang-orang cukup ramai memasuki gedung aula. Begitu melewati pintu masuk, mereka harus mengisi buku daftar hadir untuk mendapatkan seminar kit, note book, dan bolpoin.
Gedung aula itu cukup besar dan saat ini telah ditata sedemikian rupa. Podium di bagian depan berisi lima kursi yang akan ditempati pembicara dan moderator, sebuah spanduk besar terpampang di belakangnya bertuliskan "Seminar Pendampingan Anak Korban Kekerasan dan Pelecehan Seksual". Di sisi kanan dan kiri podium terdapat dua layar besar untuk proyektor. Sementara di seberang podium merupakan tempat untuk audiens yang terdiri dari sekitar seratus kursi yang tertata rapi.
Seminar ini tidak dikhususkan untuk kalangan kampus saja tapi juga menyediakan kuota peserta untuk masyarakat umum. Tema bahasan yang cukup sensitif itu ternyata menarik minat cukup banyak orang terbukti dengan penuhnya kursi audiens. Ditambah lagi isu mengenai kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak yang sebenarnya sejak puluhan tahun lalu telah semakin diakui sebagai sesuatu yang sangat merusak bagi anak-anak. Namun penanganan terhadap kasus-kasus yang terjadi nampak tidak ditangani dengan serius oleh aparat penegak hukum di negeri ini. Bahkan aktivis perlindungan anak terkesan pilih-pilih kasus.
Kali ini, berkat kerja sama BEM universitas, tempat Sophia menimba ilmu itu, dengan beberapa lembaga seperti HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia), KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), Subdit Remaja Anak dan Wanita dari Polri, dan perwakilan media, seminar inipun diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam usaha pendampingan anak korban kekerasan dan pelecehan seksual.
Acara berlangsung dalam tiga sesi dan memakan waktu hampir tiga jam. Lebih lama dari waktu yang dijadwalkan, yaitu dua jam, karena dalam sesi tanya jawab pertanyaan audiens jauh lebih banyak dan interaktif dari yang diprediksi sebelumnya oleh panitia. Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan memicu terjadinya sebuah diskusi yang cukup panjang karena audiens yang sangat proaktif.
Beberapa hal yang menjadi poin panas dalam diskusi yang terjadi terutama terfokus pada persoalan efek traumatis dari kekerasan dan pelecehan seksual yang dialami anak-anak yang sangat merusak bahkan sampai mengakibatkan keterbelakangan mental, pengaruhnya yang bisa bertahan hingga anak tersebut dewasa, juga mengenai satu persoalan yang tak kalah miris yaitu bahwa meski anak-anak itu mendapat bantuan konseling psikologi dan psikiatri, kondisi mereka tidak akan pernah sama lagi. Padahal anak-anak adalah aset bangsa yang sangat berharga sebagai generasi penerus di masa depan yang menentukan kesuksesan bangsa.
Selama diskusi berlangsung, Ilham yang mewakili HIMPSI nampak cukup menguasai keadaan. Ia terlihat sangat profesional sebagai seorang psikolog. Ia memaparkan materi dan menjawab pertanyaan serta menjelaskan dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti. Ia juga menyampaikan segala sesuatu sesuai realita. Bahkan ia tak segan-segan mengkritisi organisasi yang menaunginya, sebagai otokritik tentunya, dan melontarkan sindiran halus pada KPAI dan kepolisian.
Sejak ia menjadi psikolog, Ilham memang memiliki perhatian khusus terhadap persoalan kekerasan dan pelecehan seksual. Ia seringkali dengan senang hati melakukan pendampingan terhadap korban secara suka rela. Sebagian rekan-rekan seprofesinya banyak memberikan apresiasi positif atas apa yang dilakukannya dan beberapa bersedia mengikuti jejak Ilham. Namun seperti kata pepatah, kita tidak bisa menyenangkan hati semua orang, ada juga rekan-rekannya yang sinis dan mencibirnya, menuduhnya sekedar mencari nama saja. Tapi ia tidak pernah peduli dengan satu hal itu.
Setelah seminar yang cukup sukses itu ditutup, seperti yang disampaikan Ilham kemarin pada Sophia, acara dilanjutkan dengan ramah tamah anggota BEM, para dosen yang hadir, dan para pembicara. Sophia sebenarnya ingin menghindar saja dari Ilham dan pura-pura lupa dengan permintaan laki-laki itu untuk menemaninya dalam acara tersebut. Tapi Sophia khawatir hal itu akan membuat Ilham tersinggung dan itu tidak baik, pikir Sophia. Apalagi hanya Ilham satu-satu orang yang bisa membantunya jika suatu hari nanti ia ingin mengunjungi makam Al.
Akhirnya, Sophia memutuskan untuk meminta Bara menemaninya. Setidaknya ia tidak akan menjadi satu-satunya orang asing yang tidak seharusnya ada dalam acara itu. Bara sendiri sebenarnya tidak begitu senang harus kembali berhadapan dengan Ilham karena kecemburuannya. Tapi ia merasa kecemburuannya akan menjadi jauh lebih parah jika ia meninggalkan Sophia di tempat itu dengan Ilham yang kini nampak seperti seorang bintang, menjadi fokus perhatian semua orang.
Ilham sendiri tak jauh berbeda dengan Bara, ia merasa sedikit kurang senang dengan kehadiran Bara. Tapi ia berusaha menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan. Bagaimanapun kehadiran Sophia bersama Bara masih lebih baik jika dibandingkan dengan tanpa Sophia ada di sana.
Acara ramah tamah itu berlangsung hangat dan santai diselingi dengan beberapa obrolan mengenai tindak lanjut atas usulan pendirian komunitas pendamping anak korban kekerasan dan pelecehan seksual di kota itu. Di kota yang baru bisa dikatakan 'kota yang sedang berkembang' itu, meski isu mengenai kekerasan dan pelecehan seksual pada anak telah cukup mendapat perhatian, tapi kegiatan pendampingan terhadap korban dirasa masih sangat minim. Selain karena jumlah psikolog dan psikiater yang sangat kurang, hanya ada tiga orang di rumah sakit umum milik pemerintah dan dua orang lainnya di salah satu rumah sakit swasta, dan hampir semuanya hanya memiliki jam praktek tiga hari dalam satu pekan karena sisanya mereka harus praktek di kota lain. Juga karena stigma negatif yang berkembang di masyarakat yang akhirnya membuat korban merasa akan lebih baik jika mereka tidak speak-up.
Sophia dan Bara yang awalnya merasa ada di tempat yang salah akhirnya dapat membaur dan terlibat dalam obrolan. Sophia nampak sangat antusias dan dalam beberapa kesempatan mengemukakan pendapatnya, membuat orang-orang yang mengenalnya cukup terkejut, terutama Bara. Sebelumnya, selama ia mengenal Sophia, gadis itu sangat jarang dan bisa dikatakan hampir tidak pernah mengutarakan isi pikirannya di muka umum. Tentu apa yang terjadi hari ini sangat mengejutkan bagi Bara. Tapi apapun itu, Bara merasa sangat senang melihat perubahan Sophia tersebut.
Acara ramah tamah itu berlangsung sekitar satu jam. Sophia dan Bara berniat untuk langsung pulang. Ketika mereka baru saja keluar menuju tempat parkir, terdengar sebuah suara memanggil nama Sophia. Merekapun menoleh ke arah suara itu dan mendapati Ilham setengah berlari menuju ke arah mereka.
"Ang Ilham? Ada apa?" Tanya Sophia setelah Ilham sudah berdiri tiga langkah darinya.
"Aku perlu bicara. Berdua saja." Jawab Ilham to-the-point sambil melirik Bara yang ada di samping Sophia, seolah mengusirnya secara tidak langsung. Sophia menolehkan kepalanya pada Bara dan menatap pemuda itu dengan ekspresi merasa bersalah. Sementara Bara meski agak kesal tapi tidak bisa berbuat apapun dan berusaha tetap tersenyum walaupun terpaksa.
"Kalau begitu aku akan menunggu di mobil." Bara berlalu setelah mengusap kepala Sophia sesaat dan Sophia mengangguk. Pemandangan yang nampak manis itu membuat Ilham cukup resah dibuatnya.
Setelah Bara tak terlihat, Ilham menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan sebelum menyampaikan sesuatu yang sudah ia tunda-tunda selama lebih dari dua bulan ini. Ilham menatap tepat ke mata Sophia. Ia merasa agak ragu dan cemas. Ia menerka-nerka seperti apa reaksi Sophia nantinya setelah ini.
"Sophia. Aku minta maaf sebelumnya. Seharusnya aku menyampaikan satu hal ini padamu dua bulan lalu. Tap..."
"Dua bulan lalu?" Sophia segera memotong kalimat Ilham begitu mendengar kata 'dua bulan lalu'. Ia menatap Ilham dengan perasaan kecewa.
"Tolong dengarkan aku dulu. Aku sungguh minta maaf. Tapi aku benar-benar khawatir dengan keadaanmu saat itu. Karena itulah aku memutuskan untuk menundanya. Tidak ada maksud lain." Ilham berusaha menjelaskan dan nampak raut penyesalan di wajahnya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Al?" Tanya Sophia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ya. Ini memang tentangnya."
"Jadi...apa yang ingin Ang Ilham sampaikan?"
Sungguh dalam hati Ilham merasa sangat tidak tega melihat Sophia nampak menahan air matanya. Ingin rasanya ia membawa gadis ini ke dalam pelukannya. Tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan saat ini.
"Sophia. Sekitar satu pekan sebelum Al meninggal, ia memintaku datang untuk menemuinya. Saat itu aku yakin dia sebenarnya sudah dalam kondisi yang tidak baik, saat itu dia sudah sakit. Aku sempat memaksa untuk membawanya ke rumah sakit tapi dia menolak. Ia mengatakan bahwa waktunya memang hampir tiba. Al mengatakan hal itu seolah-olah ia memang sudah tahu. Lalu, dia menitipkan sesuatu padaku. Untukmu."
Air mata Sophia tak dapat dibendung lagi. Bulir-bulir bening itu mengalir begitu saja dengan deras tak terkendali. Bayangan wajah Al tiba-tiba muncul di depan matanya. Wajah Al yang tersenyum lebar dan membuat kedua matanya menyipit. Wajah yang sangat ingin disentuhnya lagi. Wajah yang begitu dirindukannya.
Sophia terus menangis. Telapak tangan kiri gadis itu menutup mulutnya untuk menahan isakannya. Hingga beberapa saat kemudian nafas Sophia tiba-tiba nampak tersengal-sengal. Tangan kanannya meremas d**a kirinya. Lututnya mulai lemas dan keringat dingin mulai mengalir. Ilham yang melihatnya kini mulai panik. Ditahannya bahu Sophia sambil menyebut nama Sophia berkali-kali.
Bara yang tengah bersandar di samping mobilnya mengamati Ilham dan Sophia, tak jauh dari mereka berdua, dapat mendengar teriakan Ilham. Pemuda itu menyadari bahwa telah terjadi sesuatu dengan Sophia. Maka iapun segera berlari untuk mendekat. Tepat ketika ia sampai di samping Sophia, gadis itu rubuh.
**
Yang tak mungkin bisa dipungkiri dari waktu adalah kenangan yang melesat ke sana kemari membentur dinding memori. Dan perihal yang menyertainya tak lain adalah rindu yang sungguh terlalu.