Beberapa hari setelahnya, hubungan Sophia dan Bara mulai makin dekat. Mereka semakin sering terlihat bersama, entah itu untuk urusan mading kampus maupun sekedar duduk dan makan bersama di kantin. Meski sebenarnya mereka, terutama Sophia, selalu berusaha untuk tidak tampak menonjolkan diri.
Kegiatan perkuliahan pada semester itu memang telah selesai sehingga mahasiswa bisa sedikit bersantai dan hanya mengisi waktu sehari-hari dengan kegiatan di masing-masing UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) juga event yang diadakan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), biasanya berupa workshop, kuliah umum, bedah buku maupun pentas seni. Hari itu adalah hari dimana para mahasiswa akan menerima KHS (Kartu Hasil Studi) untuk mengetahui IP (Indeks Prestasi) mereka, yang merupakan hasil rata-rata prestasi dalam satu semester itu. Sebagian mahasiswa tengah antre di depan ruang administrasi untuk mendapatkan KHS. Sedangkan sebagian lainnya lebih memilih untuk mencari tahu IP mereka secara online di website kampus karena antrean yang panjang.
"Wah, antreannya panjang sekali. Bagaimana ini?" Sophia nampak lesu begitu sampai di depan ruang administrasi melihat antrean yang mengular. Ia hanya bisa menghela nafas panjang. Akhirnya ia memutuskan untuk menuju taman tengah dan duduk di kursi taman di bawah pohon bunga kanthil. Ia terus melihat ke arah antrean dengan putus asa.
Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, seseorang duduk di kursi yang terletak di seberang meja. Sophia rupanya tidak menyadari kedatangannya karena terlalu fokus mengarahkan pandangan ke ruang administrasi. Orang itu sampai melambai-lambaikan tangannya dan memanggil nama Sophia beberapa kali untuk mendapatkan perhatiannya.
"Oh, hai." Sapa Sophia dengan senyum yang dipaksakan.
"Kenapa kau nampak lesu? Apa kau khawatir IP-mu tak sesuai harapan?" Tanya seseorang di hadapannya itu yang ternyata adalah Bara.
"Tidak. Bukan itu. Aku hanya kesal karena aku datang terlalu siang sehingga antrean itu sudah terlalu panjang. Huft.." Jawab Sophia sambil mengerucutkan bibir dan menunjuk ke arah antrean di depan ruang administrasi, Barapun menoleh ke arah yang ditunjuknya.
"Hey, kenapa tidak buka website kampus saja supaya tak perlu antre?" Bara kembali menatap Sophia yang kini nampak semakin cemberut.
"Aku lebih suka KHS konvensional, sehingga aku dapat menyentuhnya, berpuas-puas diri dengan memeluknya dalam dadaku." Sophia menyandarkan punggungnya malas dan menyedekapkan tangannya di depan d**a.
Mungkin bisa diibaratkan bahwa KHS itu seperti piala atas kemenangannya dalam menghadapi ujian kemarin. Sebuah bentuk penghargaan yang nyata atas kerja kerasnya. Susah payah ia mencoba untuk fokus dalam ujiannya itu meski dalam suasana hati yang masih berduka atas kepergian Al. Maka baginya, KHS itu terasa sangat penting semester ini. Lebih dari sekedar kepuasan ketika mengetahui IP-nya secara online melalui website kampus.
"Ehmm, baiklah. Aku mengerti. Lalu, apa kau mau menunggu di sini sampai antrean itu habis?" Sophia hanya mengangguk lesu.
"Kalau begitu aku akan menemanimu!" Bara nampak bersemangat dan tersenyum lebar.
"Ah, tidak perlu. Kau pasti punya urusan lain kan?" Tolak Sophia merasa tidak enak hati. Lagi pula saat ini kampus cukup ramai. Mereka akan jadi pusat perhatian jika nampak berdua seperti ini. Sekarang saja beberapa orang mahasiswi yang lewat tak segan-segan menatap mereka penuh curiga. Beberapa orang bahkan menunjukkan tatapan sinis. Bagaimana tidak, seorang Bara yang populer terlihat dekat berdua dengan Sophia yang aneh? Meski sebenarnya kalau dilihat secara fisik mereka nampak cocok.
Meski kepribadiannya terkenal tertutup dan aneh, Sophia adalah gadis yang tidak bisa dikatakan tidak cantik. Iris matanya berwarna coklat terang, bukan coklat gelap seperti kebanyakan orang Indonesia. Hidungnya kecil dan runcing sedangkan bibirnya berbentuk menyerupai busur panah Cupid. Rambutnya ikal panjang hampir menyentuh pinggang berwarna coklat kemerahan. Tingginya hampir 170 cm dengan bentuk tubuh yang ramping dan kulit kuning langsat. Jika disandingkan dengan Bara, maka mereka akan nampak seperti pasangan Raja dan Ratu di pesta dansa.
"Tidak. Urusanku hari ini adalah menemani Princess Sophia." Bara mencoba menggoda Sophia dengan panggilan Princess. Dengan alasan karena dia ingin melakukan sesuatu yang berbeda dengan laki-laki di masa lalu gadis itu yang memberi panggilan Arashi. Ia menunjukkan senyum terbaiknya membuat Sophia semakin tersipu.
Gadis itu benar-benar jadi salah tingkah mendengar panggilan Princess. Wajahnya merona. Pipinya kini berwarna pink padahal ia tidak memakai blush on.
"Terima kasih. Emh, apa kau sudah melihat IP-mu?" Sophia mencoba mengalihkan pembicaraan dan mengendalikan nervous-nya.
"Belum. Aku baru datang tadi. Aku sebenarnya ingin melihatnya bersamamu." Jawaban Bara seolah ingin menunjukkan secara tersirat bahwa Sophia adalah orang yang spesial sehingga membuat pemuda itu ingin melakukan hal yang tentu bagi seorang mahasiswa itu penting, yaitu melihat hasil ujian, bersama-sama. Sebagian mungkin akan melakukannya bersama teman baik mereka, tapi jika bisa bersama pujaan hati tentu akan terasa lain bukan?
Bara segera berdiri untuk pindah ke kursi di samping Sophia, mengeluarkan laptop dan meletakkannya di meja. Ia membuka website kampus dan beberapa saat kemudian telah nampak halaman yang memuat IP dari fakultas mereka. Setelah mencari dengan mengetikkan NIM (Nomor Induk Mahasiswa) di kolom pencarian, kini terlihat halaman yang memuat sebuah tabel dengan beberapa baris dan kolom yang berisi nilai-nilai dari sejumlah mata kuliah dimana terdapat nama Bara Jiwandanu di atasnya. Sophia terkagum-kagum melihat nilai Bara yang mayoritas adalah A, hanya ada tiga B di sana. Sedangkan ekspresi Bara nampak biasa saja melihat nilai-nilai itu. Yang lebih bisa membuatnya bahagia justru berada di samping Sophia seperti saat ini.
"Bagaimana kau bisa mendapat nilai sebagus itu? Aku benar-benar iri." Sophia menolehkan kepalanya ke samping untuk menatap Bara. Pemuda itu tersenyum.
"Aku belajar seperti yang lain, tidak ada metode khusus. Mungkin aku hanya beruntung. Sudahlah, nanti aku bisa jadi besar kepala. Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali." Bara segera bangkit dari duduknya dan berlalu dengan cepat sebelum Sophia sempat bertanya kemana ia akan pergi.
Beberapa menit menunggu, ponsel Sophia berdering. Iapun segera merogoh ranselnya untuk mengambil ponselnya. Sophia agak terkejut menatap layar ponselnya itu. Nampak sebuah panggilan dari seseorang yang mengingatkannya pada peristiwa sekitar dua bulan lalu. Sophiapun segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
"Hallo, Ang. Tumben."
"Hallo, Sophia. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Bagaimana dengan Ang Ilham?"
"Baik juga. Apa aku mengganggu?"
"Oh, tidak. Aku memang sedang di kampus. Tapi hanya sedang duduk menunggu antrean untuk mengambil KHS."
"Oh, begitu rupanya. Jadi tidak apa-apa kalau aku duduk di sini kan?"
Sophia terkejut melihat Ilham tiba-tiba muncul dari sebelah kanannya dan duduk di seberang Sophia, di kursi yang sempat diduduki Bara ketika baru datang beberapa waktu lalu. Ponselnya masih menempel di telinga. Ia tidak bergerak seperti patung, hanya matanya saja yang mengerjap. Ia tidak habis pikir kenapa Ilham tiba-tiba bisa ada di kampusnya.
Ilham sendiri hanya tersenyum dengan memasang wajah tak berdosa. Ia sudah mematikan ponselnya dan memasukkannya dalam kantong celana. Hari itu Ilham mengenakan setelan celana jeans biru gelap dan kemeja putih tanpa dasi dilengkapi jas senada dengan celananya.
"Apa kau tidak senang melihatku ada di sini?"
"Ah, bukan seperti itu. Aku hanya terkejut. Apa yang Ang Ilham lakukan di sini?" Tanya Sophia begitu penasaran.
"Oh, itu. Besok pagi aku akan mengisi seminar di kampus ini. Aku baru saja sampai dan ingin melihat-lihat saja." Jawab Ilham lalu ia menyandarkan punggungnya santai dan menyilangkan kaki.
"Seminar? Maksud Ang Ilham seminar tentang bagaimana mendampingi anak korban kekerasan dan pelecehan seksual itu? Tapi aku tidak melihat nama Ang Ilham tertulis di brosur."
"Ya. Seminar itu. Sebenarnya aku memang hanya sebagai pengganti seniorku yang berhalangan hadir karena istrinya melahirkan kemarin dan keadaannya masih kritis."
"Oh, jadi begitu. Aku mengerti sekarang." Sophia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kau harus datang besok!" Ilham menatap Sophia lekat-lekat, tatapan penuh kerinduan. Dua bulan ini bayangan Sophia terus mengikutinya, membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, tentang apa yang dirasakannya. Beruntung ia bisa menggantikan Dr. Pram untuk menjadi pembicara di acara seminar besok. Sehingga ia mempunyai kesempatan, juga alasan tentunya, untuk bertemu Sophia.
"Aku memang berencana datang."
"Baguslah kalau begitu. Setelah seminar ada acara ramah tamah dengan BEM dan para dosen. Aku berharap kau mau menemaniku, Sophia."
"A..Apa? Tapi aku bukan anggota BEM. Apa tidak akan jadi masalah jika aku ikut? Rasanya akan aneh."
"Tentu tidak. Jangan khawatir. Serahkan saja padaku."
"Tap..tapi..."
Sebenarnya Sophia ingin menolak tapi belum sempat ia meneruskan kata-katanya, tiba-tiba Bara datang membawa dua cup jus alpukat di tangannya. Ia meletakkan satu cup di hadapan Sophia dan satu cup lain tetap dalam genggamannya. Bara duduk di samping Sophia lalu menyeruput jus alpukat itu perlahan sambil mengamati seorang laki-laki berpenampilan kasual di hadapan Sophia. Menurut pengamatan Bara, pembawaan laki-laki itu nampak begitu tenang. Bara kemudian melihat laki-laki itu tersenyum padanya. Sophia yang paham dengan keingintahuan Bara segera memperkenalkan laki-laki itu pada Bara.
"Bara, kenalkan ini Ang Ilham. Ang Ilham kenalkan ini Bara."
Bara dan Ilhampun berjabat tangan saling memperkenalkan diri. Dari luar mereka nampak sama-sama tersenyum mencoba menunjukkan keramahan. Namun, siapa yang tahu, dalam hati keduanya mereka saling membaca satu sama lain. Ada semacam alarm peringatan yang menyala dalam kepala mereka berdua, alarm yang menandakan bahwa ada pesaing yang harus diwaspadai. Juga ada beberapa pertanyaan tentunya yang berkelebatan dalam benak mereka. Satu pertanyaan yang pasti sama adalah 'ada hubungan apa dia dengan Sophia?'
Seakan menyadari ketegangan yang muncul di antara mereka, Sophia menepuk bahu Bara dan mengucapkan terima kasih untuk jus alpukat yang ia bawa untuknya. Iapun segera menikmati beberapa tegukan satu jus yang menjadi favoritnya itu.
"Oh ya, Bara. Ang Ilham ini yang akan menjadi pembicara seminar besok." Sophia berusaha menjelaskan. Entah mengapa ia merasa tiba-tiba Bara menjadi dingin dan seolah-olah tidak suka dengan kehadiran Ilham. Maka ia sengaja untuk memberi tahu hal itu terlebih dahulu dari pada mengatakan bahwa mereka sudah cukup saling mengenal, juga bahwa Ilham adalah sepupu dari Al. Sophia pikir, ia lebih baik untuk mengatakannya nanti saja ketika ia hanya berdua dengan Bara.
"Begitukah? Aku kira Dr. Pram yang akan datang." Bara menanggapi dengan nada datar.
"Saya menggantikan beliau karena Dr. Pram harus menemani istrinya yang masih kritis setelah melahirkan." Jawab Ilham mengulangi apa yang beberapa saat lalu sudah ia sampaikan pada Sophia.
Bara hanya mengangguk dan tersenyum tipis menandakan bahwa ia paham. Ia tidak ingin lagi melanjutkan untuk berbasa-basi dengan laki-laki itu. Bahkan dalam hati ia sangat berharap laki-laki itu segera meninggalkan Bara dan Sophia. Namun kemudian ia merasa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Diamatinya wajah laki-laki bernama Ilham itu. Entah kenapa Bara seperti pernah melihatnya, atau mungkin ia mirip seseorang yang dikenalnya, tapi siapa ia tak kunjung bisa menerka.
Merasakan situasi yang kurang menguntungkan baginya, Ilhampun memutuskan untuk pamit saja dan menuju ke hotel tempatnya menginap. Atau mungkin dia bisa berkeliling kota ini, mencari tempat yang cukup strategis untuk menjalankan rencananya. Rencana yang sebenarnya baru tercetus ketika ia diminta menggantikan Dr. Pram, tapi ia cukup yakin untuk benar-benar mewujudkannya. Ia sangat berharap bahwa rencana itu akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
**
Setelah kepergian Ilham, Bara dan Sophia kembali berbincang santai sambil menunggu pengambilan KHS. Bara menanyakan rencana Sophia untuk liburan nanti. Mengingat soal liburan, sejujurnya Bara agak kurang senang. Karena itu artinya ia akan cukup lama tidak bisa bertemu dengan Sophia.
"Aku belum merencanakan apapun. Mungkin seperti liburan-liburan yang lalu, aku akan di rumah sepanjang hari dengan membaca buku, mencoba resep-resep baru, atau membantu ibu mengurus catering-nya. Bagaimana denganmu? Apa kau akan pulang?"
"Entahlah. Rasanya aku tidak ingin pulang. Entah kenapa aku ingin di sini saja." Tubuh Bara melorot lesu di sandaran kursi. Kepalanya menengadah menatap rimbun ranting-ranting pohon yang berbentuk seperti kanopi.
"Kenapa?" Sophia memiringkan tubuhnya, mengarah pada Bara. Nampak oleh Sophia wajah Bara yang seperti sedang dalam kondisi mood yang buruk.
Bara kemudian sedikit menggerakkan kepalanya dan menatap Sophia dalam. "Rasanya aku ingin selalu dekat denganmu, Sophia."
Sophia tercenung menatap Bara. Kata-katanya terdengar begitu tulus sekaligus tidak berdaya. Ia pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Ia pernah mendengar Al mengatakan hal yang sama. Kata-kata yang membuat Sophia merasa diinginkan, menjadi berharga bagi seseorang.
**
"I want to leave, to go somewhere
where I should be really in my place,
where I whould fit in ... but my place is
nowhere; I am unwanted."
Sudah berulangkali aku membaca "Nausea" karya Jean-Paul Sartre, tapi tak juga bosan. Entah kenapa ia seperti berbicara tentang diriku, mewakiliku. Perasaan tidak diinginkan ini sudah aku tanggung selama separuh masa hidupku. Perasaan ini yang membuatku begitu hancur untuk kemudian semakin hancur oleh kenaifanku.
Aku pikir aku kuat. Aku selalu berpikir bahwa aku akan dapat menanggung semuanya sendiri. Aku berpikir bahwa semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu. Tetapi aku salah. Kenyataannya aku tidak sekuat harapanku, tidak cukup mampu menanggung semua ini sendiri, dan aku tidak pernah baik-baik saja.
Sophia menyeka air mata yang mengalir di kedua belah pipinya. Ingatannya tentang masa lalu membuat ia tidak bisa menahan diri. d**a kirinya terasa sangat nyeri, nafasnya sesak. Keringat dingin nampak mulai mengucur dari dahinya. Telapak tangannya pun kini basah. Wajahnya yang memucat tersamarkan oleh semburat jingga yang menerobos kaca jendela kamar kost-nya.
Sophia berusaha menenangkan diri. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi senyaman mungkin. Dihirupnya nafas perlahan dan dalam. Sekitar lima belas menit kemudian Sophia merasakan kondisinya berangsur-angsur pulih.
Dua bulan ini Sophia merasa semakin sering mendapat serangan semacam ini. Ia memang sudah tahu tentang kemungkinan yang sedang terjadi padanya. Ia sudah menduga hal seperti ini akan menimpanya cepat atau lambat.
Ibunya sudah berkali-kali mengingatkan supaya Sophia segera memberitahukan jika suatu saat gadis itu merasakan sesuatu yang mencurigakan. Tapi Sophia selalu merahasiakannya. Ia tidak pernah mengatakan pada ibunya mengenai serangan-serangan yang dialaminya, tentang kondisinya yang nampak memburuk. Ia sungguh tidak ingin membuat ibunya merasa cemas. Bagaimanapun, Sophia sangat menyayangi wanita itu.
Wanita yang ia panggil ibu itu, mungkin adalah satu-satunya orang yang benar-benar menginginkannya, yang selalu menghargai keberadaannya, yang tidak pernah menolak kehadirannya. Wanita itu yang selalu mencurahkan kasih sayangnya untuk Sophia, tidak pernah ragu mengorbankan jiwa raganya untuk merawat dan membesarkannya. Sophia selalu memikirkan bagaimana caranya untuk dapat membalas semuanya itu.
Sebelum peristiwa itu, yang terjadi pada suatu malam ketika usianya masih delapan tahun, Sophia mungkin tidak pernah berpikir sedalam ini. Sebelumnya, ia hanya memikirkan apa-apa layaknya yang ada dalam pikiran anak-anak. Tapi setelah peristiwa itu, Sophia seolah-olah dipaksa untuk menjadi dewasa lebih cepat, dewasa sebelum waktunya.