CHAPTER 5

2799 Kata
"Sekarang aku akan mentraktirmu sarapan karena kau sudah bersedia datang memenuhi permintaanku." Ajak Sophia mengurai keintiman mereka. Masih ada nada kecanggungan dalam kata-katanya tapi tidak Bara pedulikan. Sebaliknya, untuk mengusir kecanggungan itu Bara tertawa kecil dan segera mengiyakan tawaran Sophia. Sebelum berbaik untuk menuju pintu, sekali lagi mereka saling pandang dan melempar senyuman. Menggambarkan kebahagiaan yang tumbuh di hati keduanya. Mereka kemudian menuju kantin yang terletak tak jauh, masih di sayap barat gedung dan hanya berjarak beberapa ruang kesekretariatan UKM lain. Kantin itu cukup besar. Terdapat enam stand yang berderet, masing-masing stand itu menyediakan berbagai jenis makanan, mulai dari nasi beserta lauk pauknya, siomay, batagor, gado-gado, mie ayam, bakso, bahkan ada juga yang agak western seperti sandwich, french fries, burger dan mini pizza. Untuk minuman juga tak kalah komplit, mulai dari kopi dan teh dalam sajian dingin maupun panas, aneka jus, milkshake, bahkan minuman tradisional semacam wedang jahe dan ronde. Sophia sendiri memesan seporsi siomay dan jus alpukat dengan campuran s**u coklat. Sedangkan Bara memilih untuk memesan secangkir kopi dan seporsi nasi dengan ayam goreng dan sayur daun pepaya yang dicampur dengan udang. Kemudian mereka memilih tempat duduk di sudut supaya tidak terlalu terganggu dengan lalu lalang orang dan dapat berbincang santai. Sebenarnya kantin pagi itu bisa dibilang cukup sepi, tapi bagi mereka yang sedang ingin menikmati waktu berdua tentu ingin suasana yang nyaman. "Aku pikir orang sepertimu tidak suka makan sayur semacam daun pepaya." Sophia memulai obrolan membuat perasaan Bara membuncah. Bagaimana tidak, dulu Sophia cenderung pasif dan hanya bicara seperlunya. "Memangnya kau pikir aku ini orang seperti apa?" Tanya Bara sambil tertawa kecil membuat Sophia pecah fokus. Sophia seolah melihat Bara yang lain, yang tidak seperti biasanya. Ekspresinya sekarang nampak lebih lepas, tidak seperti dulu yang cenderung formal untuk jaga image. Bara melambai-lambaikan tangan di depan wajah Sophia karena gadis itu tampak termenung. Sophia yang kemudian tersadar hanya tersenyum dan menunduk. Sebelum obrolan mereka berlanjut, pesanan datang terlebih dahulu. Sehingga mereka segera melahap makanan masing-masing. "Aku pikir kau hanya suka makanan yang menurut orang keren, kebarat-baratan.., ya semacam itulah." Sophia menyambung obrolan yang sempat terputus sambil melanjutkan mengunyah siomaynya. "Asal kau tahu, makanan apapun tak masalah untuk perutku. Seperti makan nasi di pagi hari, seperti sekarang. Aku hanyalah orang Indonesia pada umumnya, yang belum bisa dikatakan makan kalau belum makan nasi." Jawab Bara sambil menepuk dadanya bangga membuat Sophia tertawa segera setelah menelan kunyahannya. Beruntung ia tidak tersedak. "Aku pikir kau tidak bisa melucu seperti itu." Kata Sophia setelah meminum beberapa teguk jus alpukatnya. "Hey, sepertinya kau harus sering-sering ada di dekatku, supaya kau benar-benar mengenal siapa aku sebenarnya. Ck..ck.. rupanya selama ini kau telah salah mengira tentangku, Sophia." Bara berpura-pura memasang raut sedih membuat Sophia agak merasa bersalah. "Ma..maaf. Mungkin aku memang kurang memperhatikanmu selama ini." "Ya, aku yakin itu. Kau seperti hidup dan asyik dalam duniamu sendiri. Kau berpikir menurut prasangkamu saja. Karena itu kau salah menilaiku. Karena itulah, aku berharap setelah ini kau mau untuk lebih terbuka, Sophia. Tanyakan apapun yang memang ingin kau tanyakan. Jangan biarkan prasangka membuatmu terjebak dalam kebimbangan. Dan katakan saja apapun yang memang ada di benakmu, itu akan membuat hati dan pikiranmu terasa ringan. Dibandingkan jika harus memendam dan menanggungnya semuanya sendiri. Meski mungkin akan ada orang jahat yang mungkin suatu saat bisa mengkhianatimu, tapi akan selalu ada orang yang bisa kau percaya untuk berbagi. Kau hanya perlu membuka hatimu, Sophia." Sophia mendengarkan setiap kata-kata yang terucap dari lisan Bara itu dengan seksama. Ia berusaha mencerna sebaik mungkin apa yang disampaikan. Sophia merasa seperti tertampar oleh kata-kata itu. Serasa disadarkan dari lamunan panjang. Kata-kata itu sepenuhnya tepat sasaran. Bara kemudian meraih tangan Sophia di atas meja dan menggenggamnya. Ibu jarinya mengusap punggung tangan yang terasa halus namun dingin. Sophia tersenyum tipis melihat tingkah Bara yang sepertinya tidak khawatir andai ada orang yang mendapati mereka dalam keadaan seperti itu, seperti sepasang kekasih. "Kau bisa memulainya dengan perlahan." Sambung Bara kemudian karena nampak masih ada keraguan di wajah Sophia. "Ya, tentu." Jawab Sophia dengan senyum semakin mengembang. "Baiklah. Jadi, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan, sedikit refreshing tidak ada salahnya bukan?" Ajak Bara penuh antusias. "Boleh. Kemana kita akan pergi?" "Ehmm, bagaimana kalau Baturaden? Apa kau percaya, selama kuliah di kota ini, aku belum pernah pergi ke sana." "Benarkah? Aku tidak percaya." Sophia benar-benar merasa sangsi dengan pernyataan Bara. "Sungguh. Teman-teman berulangkali mengajak, tapi aku tidak pernah mau." "Kenapa?" "Malas saja. Aku lebih suka ada di kampus dan mengikutimu kemanapun kau pergi." "Itu tidak lucu!" Alasan yang dikatakan Bara menolak ajakan temannya itu sungguh membuat Sophia tergelak. Mengikutinya? Untuk apa Bara mengikuti Sophia? Aneh, pikirannya. "Memangnya siapa yang sedang melucu?" Setelah tawanya mereda, Sophia beranjak dari kursinya dan membayar tagihan makanan mereka berdua meski Bara menolak. Tapi Sophia ngotot, karena ia sudah berjanji bahwa dia yang akan mentraktir kali ini. Maka Bara akhirnya menyerah dan membiarkan Sophia membayarnya. Mereka kemudian berjalan bersisian menuju tempat parkir. Bara membimbing Sophia ke mobilnya yang ia parkir di samping gazebo di bawah pohon cemara yang telah berusia puluhan tahun. Seperti seorang gentleman, Bara membukakan pintu untuk Sophia membuat pipi gadis itu bersemu merah. Beberapa mahasiswi yang melihat nampak merasa iri dan kesal. Bara benar-benar seolah tidak peduli dengan sekitarnya sekarang. Ia bergegas duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan mobilnya keluar area kampus. "Apa kau pernah mendengar mitos tentang Baturaden?" Tanya Sophia membuka obrolan dalam perjalanan mereka. "Mitos? Jadi ada mitos tentang tempat itu?" "Ya. Ada mitos yang mengatakan bahwa jika sepasang kekasih pergi ke sana maka hubungan keduanya akan berakhir suatu hari kemudian. Baturaden itu berasal dari dua kata 'batur' dan 'raden'. 'Batur' artinya abdi atau katakanlah pelayan, sedangkan 'raden' artinya kau tahu kan, seorang ningrat. Bukankah hubungan yang terjalin antar keduanya dengan kelas sosial yang bagaikan bumi dan langit itu sangat sulit dijalani?" "Aku rasa di jaman modern seperti ini sudah tidak ada hal-hal demikian. Maksudku, memang kenyataannya masih ada kesenjangan sosial dalam masyarakat kita, tapi aku rasa tidak sedikit yang sudah mencoba mendobrak batas-batas semacam itu." "Ya. Masalahnya kemudian adalah apakah mereka berhasil atau tidak. Kisah semacam itu masih ada dan tidak akan berakhir sampai entah kapan nanti. Bagaimanapun sikap feodal manusia itu sudah seperti basic instinct. Beberapa hal bisa diubah, tapi beberapa hal lainnya, secara sadar atau tidak, tetap dipertahankan." Bara merasa terkesan dengan pembicaraan itu. Kata-kata Sophia terdengar cukup berbobot dan realistis memang. Tapi di sini lain ia mulai cemas mengenai mitos yang baru saja mereka bahas. Ia mencemaskan kelanjutan hubungannya dengan Sophia. Tapi bukankah itu hanya mitos, pikir Bara. Ia kemudian memutuskan untuk melupakan saja satu hal itu. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di lokasi yang mereka tuju, salah satu wisata yang terletak di kaki Gunung Slamet, Baturaden. Lokasi wisata itu terdiri dari beberapa kompleks yang mempunyai ciri khas masing-masing. Ada satu kompleks dimana di dalamnya terdapat miniatur bangunan-bangunan keajaiban dunia, seperti Menara Pisa, Colosseum, Kincir Angin yang khas dari Netherland, juga Merasa Eiffel dan lainnya. Ada juga kompleks berisi wahana-wahana permainan untuk anak-anak, kolam air panas, dan outbound. Bara dan Sophia memilih berjalan santai untuk berkeliling dan menikmati pemandangan. Mereka melintasi Taman Botani yang berisi berbagai macam spesies tumbuhan yang banyak di antaranya tak dapat dijumpai di sekitar mereka. Dari sana, mereka singgah ke Green Garden yang berisi berbagai tanaman anggrek dan beberapa spesies bunga langka lainnya. Sesekali mereka mengambil gambar dengan kamera ponsel. Dan tanpa sepengetahuan Sophia, Bara beberapa kali memotret gadis itu diam-diam. Puas berkeliling sampai tengah hari dan merasakan kaki mulai pegal, mereka berjalan menuju sebuah restoran bergaya tradisional yang bangunannya berbentuk saung-saung di tepi sungai dengan batu-batu besar untuk makan siang. Aliran air di sungai itu tidak terlalu besar dan suara yang terdengar di sekitar lebih seperti gemericik air yang menenangkan. Mereka menuju salah satu saung dan meluruskan kaki. Tak lama pelayan datang dan memberikan buku menu. Setelah membaca sekilas, mereka memutuskan memesan ikan gurame bakar dengan nasi dan sambal kecap, juga cah kangkung dan es teh. Sambil menunggu pesanan datang, mereka kembali berbincang dan bercanda. "Boleh aku tanya sesuatu yang agak pribadi, Bara?" Tanya Sophia memulai obrolan. "Tentu." "Apa kau pernah jatuh cinta?" "Jatuh cinta?" Bara menjeda sejenak. "Aku rasa pernah." "Jawabanmu terdengar seperti kau tidak terlalu yakin." "Benarkah?" Bara kembali menjeda beberapa saat. "Sebenarnya aku baru saja mengalaminya. Satu kali dalam hidupku. Dan aku merasa perlu meyakinkan diri bahwa apa yang aku rasakan memang benar-benar cinta. Apa kau percaya, aku merasa agak takut. Aku takut rasa ini hanya sepihak. Aku takut rasa ini akan membuatku terluka." "Begitukah? Aku pikir kau sudah seringkali merasakan hal semacam itu. Bukankah kau selalu dikelilingi gadis-gadis cantik, apa selama ini mereka tidak cukup membuatmu jatuh cinta?" "Sophia, kau lugu sekali. Cantik saja tidak cukup membuat laki-laki jatuh cinta." "Lalu, gadis seperti apa yang bisa membuat laki-laki sepertimu jatuh cinta?" "Seperti dirimu tentu saja." Jawaban Bara membuat Sophia tertegun. Ditatapnya wajah pemuda di hadapannya itu, berusaha mencari jejak kebohongan tapi tidak ia temukan. Wajah Bara memang menunjukkan raut serius. Beberapa saat mereka tenggelam dalam keheningan yang diliputi berbagai tanda tanya. Suasana jadi canggung di antara mereka hingga pelayan datang mengantarkan hidangan yang mereka pesan. Merekapun makan dalam diam. "Aku pernah jatuh cinta." Ungkap Sophia tiba-tiba membuyarkan lamunan Bara. "Sungguh?" "Ya. Hanya saja itu rumit." "Rumit? Rumit seperti apa yang kau maksud?" "Aku jatuh cinta pada orang yang salah." Sophia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan ceritanya. "Salah yang aku maksud itu bisa dikatakan juga sesuatu yang tidak lazim. Aku bukan jatuh cinta pada sesama jenis, kau jangan khawatir." Sophia buru-buru memberikan klarifikasi sebelum Bara salah paham. Dan benar saja, kalimat terakhir itu sungguh membuat Bara merasa lega. "Jadi, apa yang kau maksud dengan tidak lazim itu?" Bara menyedekapkan tangannya di atas meja. "Yang aku maksud tidak lazim itu adalah karena dia yang aku cintai itu seorang laki-laki yang usianya jauh di atasku. Kau mungkin tidak percaya, tapi aku sungguh mencintainya. Dia seusia dengan ibuku. Dia dan aku juga seperti bumi dan langit, aku hanya 'batur', sedangkan dia 'raden'. Dia seorang ningrat." Pandangan Sophia menerawang jauh ke arah cakrawala. Ia tak sanggup menghadapi tatapan Bara yang tajam. Ia takut melihat reaksi Bara. Ia takut kejujurannya itu akan membuat pemuda itu menjauhinya. Bara sejujurnya memang terkejut. Ia sama sekali tidak pernah menyangka Sophia akan seterbuka itu. Meski fakta dari ceritanyalah yang lebih mengejutkan. Bagaimana mungkin Sophia bisa jatuh cinta dengan laki-laki seperti itu. Sebagian harga dirinya terluka jika harus mengakui bahwa ia dikalahkan oleh laki-laki 'berumur', ya kurang lebih seperti itulah yang dipikirkannya sekarang. Tapi soal status laki-laki itu yang merupakan seorang ningrat sungguh mengusiknya. Jadi karena itulah Sophia menceritakan soal mitos Baturaden padanya. "Kau pasti berpikir bahwa aku aneh kan?" Tanya Sophia memberanikan diri menatap Bara. Pemuda itu hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa. "Aku juga hampir tidak percaya pada diriku sendiri. Berulangkali aku berusaha menyangkalnya. Tapi kemudian muncul berbagai pertanyaan dalam diriku. Salahkah jika aku jatuh cinta padanya? Bukankah cinta memang datang pada siapa saja?" Bara belum dapat berkata-kata. Ia masih mencoba memahami apa yang disampaikan Sophia. Bagaimanapun ia harus merasa senang karena Sophia mau terbuka dengannya. Maka iapun membiarkan gadis itu kembali bicara. "Ibu sempat khawatir dan berkali-kali menanyakan kesungguhanku. Apalagi itu adalah cinta pertamaku. Awalnya ibu pikir apa yang aku rasakan tak lebih dari sekedar rasa kagum. Aku juga awalnya berpikir seperti itu. Tapi aku yakin aku memang benar-benar mencintainya. Dan apa kau percaya, dia juga ternyata sangat mencintaiku. Meski hubungan kami tak pernah luput dari keraguan." Tiba-tiba wajah Sophia berubah sendu. "Kau benar bahwa aku selama ini terlalu larut dalam prasangka-prasangka yang membuatku tenggelam dalam kebimbangan. Satu hal yang mengantarkanku pada penyesalan. Ya, aku kini benar-benar menyesal. Aku telah meragukannya dan membiarkan dia pergi dalam kesedihan." "Dia pergi?" "Ya. Dia telah pergi untuk selamanya." Tak terasa air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata Sophia. Membuka kembali memori tentang Al terasa berat baginya. Ditangkupkan kedua telapak tangannya menutupi wajah. Dikatupkan bibirnya rapat-rapat, sekuat mungkin ia menahan diri supaya tidak mengeluarkan suara isakannya. Bara yang melihat Sophia menangis merasakan hatinya ikut hancur. Dia bangkit dari duduknya dan berpindah ke samping gadis itu. Diraihnya kepala Sophia dan menyandarkannya di dadanya. Bara mengusap punggung Sophia penuh kasih dan mengecup puncak kepalanya beberapa kali. "Menangislah! Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja setelah ini." Bara berusaha menenangkan Sophia. "Dialah yang memberiku panggilan Arashi." Lanjut Sophia disela isak tangisnya. Sophia sengaja tidak mengatakan status Al yang saat itu merupakan laki-laki yang sudah menikah. Ia takut Bara akan berpikir bahwa dia adalah perusak rumah tangga orang seperti yang dituduhkan keluarga Al. Meski kenyataanya, pada saat mereka mulai merajut kasih Al dan istrinya tengah menjalani proses perceraian. Mendengar Sophia mengungkit kembali mengenai panggilan Arashi, Bara seketika teringat pembicaraan mereka di cafe sore itu. Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Pasti laki-laki itu benar-benar mencintai gadis pujaannya ini. Bagaimana dengan perasaannya sendiri, apakah yang ia rasakan memang benar-benar cinta? Lalu apakah dia bisa menggantikan posisinya di hati Sophia, Bara bertanya-tanya dalam hati. ** "Al, bagaimana perasaanmu pada Mbak Eva? Tidakkah kau pernah mencintainya? Lebih dari sepuluh tahun kalian menikah kan?" Sophia dan Al tengah duduk berdampingan di sofa ruang tengah dekat jendela saat itu. Semburat cahaya merah saga menerobos masuk menembus kaca. Mereka menanti senja dengan membaca buku sambil minum kopi ketika tiba-tiba Sophia bertanya mengenai satu topik yang sebenarnya enggan Al bicarakan. "Kenapa tiba-tiba kau bertanya tentang hal itu?" Al menutup bukunya yang berjudul The Old Man and The Sea, meletakkannya di pangkuannya lalu menatap Sophia. "Aku hanya ingin tahu." Jawab Sophia menggeser duduknya dan merekapun kini saling berhadapan. Al memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya mulai bicara. "Pernikahan kami tidak lebih dari sekedar pernikahan yang diatur para orang tua. Sejak awal, aku hanya menganggapnya seperti teman biasa. Bahkan kami tidak terlalu akrab. Kau bisa tanyakan pada ibumu jika tidak percaya." "Jadi, kau tidak pernah mencintainya?" "Percaya atau tidak, aku tidak pernah mencintai siapapun sebelum aku jatuh cinta padamu." "Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Sophia makin penasaran. "Shi, kehidupan kami di keluarga Keraton sungguh membuat kami harus mengabaikan perihal perasaan. Semuanya sudah diatur, singkatnya seperti itu, termasuk pernikahan. Karena itulah aku tidak pernah mencoba untuk membuka diri terhadap beberapa hal termasuk cinta. Hal semacam itu hanya akan membuat hati terluka." Meski dalam beberapa hal Al selalu mencoba melawan arus, tapi tidak semua hal dapat ia lawan. Salah satunya adalah mengenai pernikahannya dulu dimana ia merasa sangat tidak berdaya. Ayahnya begitu keras, sedangkan ibunya lebih memilih untuk tidak membuat masalah dalam keluarga. Jadilah ia berdiri sendiri tanpa dukungan. Akhirnya diapun pasrah dan menerima pernikahan itu. Al sempat berpikir mungkin pernikahannya akan baik-baik saja seperti pernikahan kedua orang tuanya yang juga berawal dari perjodohan. Tapi lama kelamaan ia merasa sangat lelah dan tertekan apalagi dengan sikap Eva yang semakin tidak bisa ditolerir. Juga sikap keluarga besarnya yang terus mempertanyakan kehadiran seorang penerus dalam pernikahan mereka. Bagaimana mungkin Al dapat menyentuh seseorang yang tidak dicintainya? Memang Al pernah mencoba untuk menerima Eva ketika pada suatu malam istrinya itu datang ke kamarnya, selama menikah mereka tidur di kamar terpisah. Tapi hati nurani Al tidak dapat menerimanya. Al bergegas keluar meski istrinya telah melucuti sendiri pakaiannya. Hal semacam itu beberapa kali terjadi dan selalu berakhir dengan penolakan Al. "Lalu, bagaimana denganku? Kenapa kemudian kau membuka diri untukku?" Sophia menyandarkan kepala di bahu Al. "Kau berbeda, Sayang. Aku sendiri tidak mengerti kenapa aku bisa jatuh cinta padamu. Yang pasti, aku merasa tenang dan damai ketika ada di dekatmu. Setiap beban dan keresahan seketika lenyap ketika kau di sampingku." Kata-kata Al sungguh manis membuat Sophia menengadahkan kepalanya menatap mata Al lekat-lekat. "Kau benar-benar tak peduli dengan perbedaan yang ada di antara kita? Usia kita dan statusmu yang berdarah biru, sedangkan aku bukan siapa-siapa." "Harus berapa kali aku katakan padamu. Aku tidak peduli soal usia kita, apalagi status. Darah kita sama, Sayang, sama-sama merah. Tidak ada darah berwarna biru." Jawab Al kemudian tertawa renyah. Sophia terdiam menatap Al. Hatinya merasa senang dapat menyaksikan tawa itu. ** Malam harinya Bara tidak dapat tidur. Ia terlentang di atas ranjangnya menatap langit-langit kamar. Berbagai hal berkelebatan dalam pikirannya. Tentang keintimannya dengan Sophia pagi itu, apa artinya ciuman itu baginya? Tentang kepastian yang Sophia maksud, kenapa juga kepastian itu harus dengan sebuah sentuhan? Juga pengakuan Sophia perihal kisah cintanya. Lalu setelah ini, bagaimana ia harus bersikap? Dari cerita dan sikap Sophia, nampak jelas bahwa laki-laki dalam kisahnya itu telah menorehkan begitu banyak kenangan. Pasti tidak mudah bagi Sophia untuk melupakan semua itu. Apakah tidak akan mudah juga bagi Bara untuk menggantikan posisi laki-laki itu di hati Sophia? Entah mengapa sebagian dari dirinya mulai merasa khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN