Kamu
Bella terpaku di depan cermin. Melihat bagaimana penampilannya, itu membuat Bella membuang napas dengan berat. Bagaimana tidak, saat ini dia memakai dress mini, sebuah dress yang paling dia hindari bahkan sangat dibencinya.
Mengapa Bella mau memakainya, tentu saja karena terpaksa. Tantenya yang bernama Anastasya yang menyuruh Bella memakai pakaian kurang bahan itu. Jika tidak, Anastasya pasti akan mengomel dan marah kepadanya.
Tiba-tiba pintu kamar Bella terbuka dengan sangat keras. “Hei, apa kamu tuli? Sudah sejak tadi aku memanggilmu anak sialan!” maki Anastasya penuh amarah.
“Maaf, Tante, Bella nggak tau kalau Tante manggil.”
“Alasan saja. Jangan kira aku nggak tahu, kamu sengaja, kan? Kamu tuh Cuma mau memperlambat agar pertemuan ini batal! Jangan harap, pokoknya kamu harus tetap menemuinya! Kalau tidak, maka ibumu yang akan jadi korbannya.”
Mendengar nama ibunya disebut, Bella lantas mendekati Anastasya. “Tante, Bella mohon, jangan sakiti Ibu!”
“Kalau kamu nggak ingin ibumu mati, kamu harus mendengarkan apa kataku, paham?”
“Iya, Tante.” Bella menganggukkan kepalanya.
Anastasya lantas menyuruh Bella untuk segera pergi, dia tak punya waktu banyak, orang itu sudah menelponnya sejak tadi dan menanyakan soal Bella. Memang merepotkan, tetapi Anastasya setidaknya senang akan hal itu.
Sedangkan Bella, Bella tampak lesu. Dia tak punya pilihan selain menyetujui perjodohan yang direncanakan tantenya. Jika Bella tak setuju, Anastasya mengancam akan menyakiti Tiffany – ibunya yang kini tengah koma. Hanya Tiffany, orang tua yang kini Bella miliki, juga adiknya Jesse. Soal Julio – ayahnya baru saja tiada akibat kecelakaan beberapa minggu yang lalu.
Dalam perjalanan menuju tempat pertemuan, Bella hanya melamun memikirkan nasibnya yang malang. Hidupnya berubah begitu saja, dia kehilangan ayah, ibunya koma, dan adiknya kini tengah sibuk dengan pendidikan. Bella sendiri dan kesepian.
***
Setibanya di tempat pertemuan, Anastasya mengajak Bella untuk segera masuk ke dalam restauran bintang lima. Ada keraguan dalam hati Bella, dia sungguh tidak menginginkan perjodohan itu. Belum lagi, Bella membayangkan bila pria yang menginginkannya itu adalah om-om yang memiliki perut buncit. Membayangkannya saja sudah membuat Bella bergidik ngeri.
“Tante, Bella boleh ke toilet dulu? Sebentar saja.”
“Tidak ada ke toilet. Kamu ingatkan apa kataku? Sekarang, yang harus kamu lakukan adalah menemuinya! Aku sendiri heran mengapa dia begitu sangat menginginkanmu.”
“Kalau begitu, kenapa tidak Tante saja?”
“Kamu meledekku, hah?”
Anastasya menatap Bella tajam, Bella buru-buru menggelengkan kepala. Tetapi apa salahnya, bila tantenya mau, mengapa bukan tantenya saja yang menemui pria itu.
“Sialan! Kamu selalu saja membuatku darah tinggi. Jaga sikap dan temui dia sekarang juga!”
“Tapi, Tante.” Bella mencoba untuk mengulur waktu, sungguh Bella tak mau bertemu pria itu.
Anastasya yang terlanjur kesal mencengkeram lengan Bella dan menyeret keponakannya itu untuk segera pergi.
“Tante tolong, Bella nggak mau.”
“Diam kamu sialan!”
Begitu tiba di sebuah pintu VVIP, Anastasya melepas cengkraman tangannya. Dia mencoba untuk tenang, dengan senyuman dibuat semanis mungkin, Anastasya membuka pintu.
Anastasya merangkul tangan Bella dengan pelan, lalu mengajak Bella masuk ke dalam.
“Selamat malam, Tuan,” sapa Anastasya.
Pria bernama Sebastian Putra Pratama yang ada di dalam ruangan tersebut menatap Anastasya dingin. Dengan gerakan isyarat, Ian menyuruh Anastasya pergi dan meninggalkan dia dengan Bella saja.
Sebelum pergi, Anastasya mendekati Bella dan berbisik, “Berani kamu mengacaukan pertemuan ini, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan!”
Sadar diperhatikan, Anastasya tersenyum dan mengelus kepala Bella. “Tante tunggu di luar ya, Sayang.”
Bella menatap kepergian Anastasya. Meski tantenya itu jahat, tetapi saat ini Bella membutuhkan pertolongan tantenya. Bisakah Bella berharap jika tantenya itu akan menariknya keluar dan membatalkan pertemuan mereka. Namun nyatanya, itu hanya harapan semu. Dengan tega, Anastasya tetap keluar dan meninggalkan dia dengan seorang pria asing.
Bella masih terdiam kaku di tempat, dia sungguh gugup dan tak berani menatap ke arah depan.
“Kenapa diam saja? Duduklah, aku sudah menunggu kamu sejak tadi.”
Tak mendapati jawaban, pria itu tersenyum miring melihat Bella. Yah dia tahu, saat ini Bella tengah gugup dan terlihat seperti seorang tahanan.
“Duduklah! Atau kamu mau duduk di pangkuanku?”
Bella langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tanda bahwa dia tidak ingin melakukannya. Jangankan duduk di pangkuan pria asing itu, berada di dekatnya saja, Bella sudah takut setengah mati.
“Kalau begitu duduklah sendiri! Jika dalam hitungan tiga kamu belum duduk juga, maka aku akan memaksa kamu untuk–“ Belum selesai bicara, Bella buru-buru duduk di kursinya.
Bella tak mau ambil resiko, dia harus mencari posisi aman. Lagi kelakuan Bella membuat Ian tersenyum miring. Entah apa yang Bella lakukan, tetapi itu cukup menarik perhatian juga menghiburnya.
“Mau makan apa?”
Ian coba mengajak Bella bicara, tetapi hasilnya, Bella hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
“Jika ada yang bicara itu dilihat, bukannya menunduk seperti itu!”
Bella lantas mengangkat pandangannya. “Aku ....” Bella tak jadi bicara, dia hanya menatap pria di depannya dengan ekspresi terkejut.
Sebentar, bukan ini bayangan pria yang Bella bayangkan sebelumnya. Bella kira dia akan bertemu om-om perut buncit, tetapi ternyata, dia bertemu dengan seorang pria tampan. Sungguh, pria di depannya ini sangat tampan.
Melihat Bella malah bengong, Ian pun tersenyum kecil. Bella yang melihat itu mengedipkan matanya. Saat tersenyum, ketampanan Ian jadi terlihat semakin bertambah saja.
“Apa ada yang salah, Nona Bella?”
“Ti-tidak.”
“Sebelumnya, perkenalkan aku Sebastian Putra Pratama. Kamu boleh memanggilku Ian atau kalau mau manggil sayang juga boleh.”
“Hah?” Bella menatap Ian tak percaya.
Ian yang melihat ekspresi Bella, tertawa lantang. Memang tidak ada yang lucu, tetapi entahlah, bagi Ian ekspresi Bella itu sangat lucu.
Bella menatap ke segala arah saat melihat pria itu tampak aneh di pandangannya. Belum lagi, saat Bella menyadari sesuatu. Bella memang beruntung tak jadi bertemu dengan om-om yang tentunya memiliki stigma buruk. Akan tetapi, saat ini, Ian sama saja nilainya dengan om-om yang Bella bayangkan sebelumnya. Bagaimana tidak, sejak tadi Ian terus melihat Bella dengan ekspresi penuh nafsu dan itu membuatnya kesal.
Bella menatap Ian. “Tolong batalkan perjodohan ini Tuan Ian! Saya nggak mau perjodohan ini terjadi!”
Seketika Ian bertanya saat melihat Bella hanya menatapnya tanpa bicara apa pun, terlebih saat ini, Bella menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
“Ada yang ingin kamu bicarakan, Nona Bella?”
Mendengar pertanyaan Ian, Bella tersentak kaget. Seketika dia pun merasa bingung harus menjawab apa. “Jadi, tadi aku tidak benar-benar mengatakannya. Itu hanya bayanganku saja,” batin Bella tersadar dari lamunannya.