bc

WANITA SIMPANAN SUAMIKU

book_age18+
110
IKUTI
1.1K
BACA
billionaire
HE
decisive
billionairess
heir/heiress
drama
bxg
mystery
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

Kanaya menikah dengan Bayu, sudah lima tahun tak kunjung memiliki buah hati. Hal itu dijadikan alasan ketika perselingkuhan Bayu terkuak, para selingkuhannya bermunculan untuk meminta pertanggungjawaban Bayu atas kehamilan mereka.

chap-preview
Pratinjau gratis
Wanita Hamil Datang ke Rumah Mencari Suamiku
Aku baru pulang dari kantor, kulepas sepatu di teras rumah. Agak sedikit heran, sepatu siapa warna merah ini? Apakah Luna—adik iparku membeli sepatu baru? Aku masuk rumah lewat samping, lalu mengucapkan salam. Tak ada jawaban, barangkali mereka tak mendengar. Seperti biasa, aku langsung ke kamar mandi untuk cuci tangan dan kaki terlebih dulu. Sayup-sayup terdengar, seperti suara bapak mertuaku sedang mengobrol dengan seorang wanita sambil terisak. Suara tangisan Lunakah? Apa dia ada masalah di kantornya atau dengan kekasihnya? Bapak seperti sedang memberi banyak wejangan hingga tak ada yang tahu aku sudah pulang. Jam dua siang begini ibu mertuaku biasanya masih di RS, beliau seorang tenaga kesehatan. Sedangkan Luna biasanya pulang jam empat sore. Jadi tidak mungkin juga jika itu mereka. Aku tak segera ke ruang tengah tapi pergi masuk ke kamar, kamarku ada di samping rumah utama. Berganti daster setelan celana panjang motif batik warna coklat keemasan, lalu duduk di tepian ranjang, merebahkan tubuh ke kasur untuk meluruskan punggung. Ah, nikmat sekali rasanya setelah seharian penat di kantor. Ada bau parfum yang begitu softly mengganggu indra penciuman. Aku duduk mencari sumber harumnya. Lalu mata terpanah pada hape android warna pink keunguan yang tergeletak di atas meja TV. Hape siapa ini? Mas Bayu membeli hape baru? Bagus sekali hapenya. Dia kok nggak cerita ya? Kugesek layarnya satu kali ke atas. Lalu muncul foto seorang wanita sedang tersenyum. Siapa perempuan ini? Ada saudara jauh yang berkunjung ke rumah ini? Ini sepupu suamiku? Tapi tidak familiar sama sekali wajahnya. Rasa penasaran membuatku ingin pergi ke ruang tengah. Perasaan mulai tidak nyaman ketika aku sudah berdiri di belakang sofa tempat bapak mertua duduk. Bapak mertua langsung mendongak ke arahku, mata ini tertuju pada wanita bertubuh kurus yang duduk seraya menunduk di sebelah suamiku—Mas Bayu. "Nduk, kamu sudah pulang?" Bapak berdiri menyambut dan memintaku duduk di sampingnya dengan tenang. Kulihat Mas Bayu dan wanita di sampingnya masih menunduk. "Ada apa ini? Kok kelihatannya serius banget?" tanyaku dengan nada sinis. "Bayu, jelaskan sama istrimu!" titah bapak dengan nada sedikit membentak. Aku berdiri mendekati wanita itu, Mas Bayu dengan sigap ikut berdiri seolah ingin melindungi wanita itu dariku. "Jangan sakiti dia, Yang." Kedua tangannya ia rentangkan. Kusipitkan mata dan mendorongnya dengan sedikit kasar hingga ia terjerembab ke sofa, hampir menindih wanita itu. "Siapa kamu, Mbak?" tanyaku dengan nada datar. Wanita itu menunduk tak menjawab. Jemari tangannya gemetar. "Sudah Mas, aku pergi saja dari hidupmu! Biarkan aku pergi, kamu tidak akan pernah melihatku dan jabang bayimu lagi selamanya!" ancam wanita itu. Jadi wanita di hadapanku ini sedang hamil? Dia mengancam pergi dan akan bunuh diri jika sampai suamiku tidak segera menikahinya, lututku terasa lemas. Wanita yang rambutnya panjang sepinggang itu beranjak keluar rumah lewat pintu samping, Mas Bayu mengejarnya, lalu terdengar suara getar suami meminta tolong pada bapak mertuaku. "Pak, tolong, Pak, Dina pingsan!" Bapak langsung menghampiri mereka. Oh, jadi namanya Dina? Air mataku luruh ketika melihat Mas Bayu begitu panik karena pacar gelapnya pingsan. Nampak sekali ia begitu jatuh cinta pada wanita simpanannya itu, ia membopongnya, dibantu bapak, masuk ke dalam kamar kami. Tega sekali Mas Bayu, wanita simpanannya ia tidurkan di atas ranjang kami. Perih mengiris hati, tak terperi, ingin rasanya aku memukul kepala Dina dengan setrika, dia sedang drama pingsan? Basi! "Sayang, tolong buatkan teh hangat, please," pinta Mas Bayu dengan wajah paniknya, sementara ia duduk di tepian ranjang memandangi wajah Dina dengan ekspresi cemas. Aku menghampiri Mas Bayu dan berdiri tepat di depannya. PLAK! Satu tamparan keras kulayangkan pada pipinya yang glowing, agar dia sadar bahwa aku istrinya, tapi kenapa aku disuruhnya membuat teh untuk sephia-nya yang sedang pura-pura pingsan? Yang benar saja! Ternyata satu tamparan tak membuatnya sadar, kini ia malah memintaku mengambilkan minyak kayu putih di kotak P3K, sementara ia panik memijit-mijit telapak tangan Dina sambil terus berbisik, "Bangun, Baby, bangun." Baby? Seumur-umur dia nggak pernah memanggilku 'Baby', manis sekali suamiku ini. Satu bogeman penuh damage kuluncurkan ke wajah gantengnya. DUGH! Mas Bayu bergeming. Gegas aku pergi ke kamar mandi, menyiduk air satu gayung. BYUR! Kusiramkan air dalam gayung itu hingga tak bersisa ke muka Dina. Seketika wanita yang terlihat lebih tua dariku itu langsung tersedak dan ngap-ngapan. Bayu mendorong tubuhku karena tak terima aku memperlakukan wanita simpanannya dengan kasar. Bapak mertua membelaku dan membentaknya. "Jangan kasar sama Kanaya!" Suara bapak terdengar menggelegar. "Dia duluan yang mulai, Pak!" Bayu balas membentak. Aku lemparkan saja gayung ke keningnya sekalian. CETAGH! Bayu spontan meraih tubuhku, ia terpancing emosi. Aku mundur perlahan dan menuju ke luar rumah, menunggunya di halaman rumah. Mata Bayu memburu, ia seperti ingin menghajarku. Bapak menahan badannya yang terus ingin mendekatiku. "Apa? Sini. Mau fight sama aku? Sini maju!" Aku menantangnya. Sudah lama tidak sparing, gini-gini pernah juara satu pencak silat tingkat provinsi. Sudah gemas ingin mengajak dia duel, biar aku bisa melepaskan jurus-jurus maut ke wajah tampannya yang disalahgunakan! Nekad juga dia maju dan ingin menjambak rambut juga menampar wajahku. Eits, nggak kena, nggak kena, meleset dong. Wah, ini enak sekali sasarannya, aku layangkan tendangan super power ke wajahnya sambil melompat. WATTAAAAAA! Dia terhuyung dan makin kesal. Manik matanya yang dulu sering menghanyutkan perasaan seperti sedang mencari benda yang bisa ia pukulkan ke tubuhku, tapi sayangnya ia hanya menemukan gagang sapu. Mataku pun mencari benda di sekitaran rumah. Aha! Aku menemukan satu balok kayu yang masih ada pakunya di samping rumah dan satu batu sebesar genggaman, gegas kupungut batu di tangan kananku dan balok kayu di tangan kiriku. "Bawa wanitamu pergi dari sini atau aku kepruk kepalanya pakai balok sama batu ini! Dan jangan pernah kamu ajak lagi wanitamu itu ke sini! Cepat! Mumpung aku belum melakukan tindakan anarkis lainnya!" bentakku penuh amarah, napasku ngos-ngosan karena tak tahan ingin menangis saja rasanya sedari tadi. Dengan gigi gemeretak, Bayu melemparkan sapu yang digenggamnya lalu masuk ke kamar. Ia menuntun wanita itu keluar rumah dan memasukkannya ke dalam mobil. "Awas kamu kembali ke rumah ini, aku bakar hidup-hidup!" bentakku sambil melotot pada wanita itu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menyala Istri Sah!

read
1.8K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.1K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.8K
bc

After We Met

read
188.4K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
13.2K
bc

Unchosen Wife

read
6.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook