Di Sekolah

1431 Kata
        Secarik lemparan kertas itu mendarat dipipi Vivin, tak sadar ia tertidur di kelas. Tangannya mengambil kertas itu dan dibukanya lebar-lebar “bagun Bu Marlis udah datang tidur kok dikelas, dirumah sana jangan lupa besok bawa bantal aja. wkwkw” ia pun membalik kertas itu dan balas menulis, “iishh suka-suka gue ngapain lu ngurusin hidup gue” diremasnya kertas itu dan dilemparnya balik ke alamat, tepat sasaran mengenai peci yang dikenaan santri itu.         Sudah seminggu Vivin masuk kelas dan tertidur sebelum apel pagi dan sebelum wali kelas masuk. Bahkan sosok pria berbaju rapi, selalu dipuji dan membuat se-isi kelas heboh terutama kaum hawa itu pun, belum dikenalnya. Namun lucunya sudah saling berbalas pesan lewat secarik kertas. Selalu begitu. Vivin yang dasarnya cuek mengabaikan saja, dan memang tidak ada niat hatinya untuk berteman dengan siapapun dipesantren ini.         Bu Marlis sudah memasuki kelas jam sudah menunjukan pukul 07:30 karna hujan tidak ada jadwal apel pagi seperti sediakala, waktu tersebutlah yang jadi kesempatan Vivin menyambung tidurnya kembali. Memang selama tinggal diasrama ia tidak terbiasa tidur larut malam sehingga karna itulah ia sering terkantuk-kantuk disekolah. Sudah beberapa hari ini ia masih saja kesulitan beradaptasi. Pakaiannya masih saja tidak rapi, tidak mencerminkan sosok santriwati sma sekali, memakai hijab ala kadarnya saja tak seperti anak lain yang benar-benar tampak kalem, sopan dan rapi. Penampilan Vivin masih urak-urakan, dari pada mengenakan sepatu balet yang sudah disiapkan mamanya ia tetap memilih menggunakan sepatu cat ke sekolah. Sungguh benar saja tidak mudah bagi Vivin menjadi bunglon dan beradaptasi dilingkungan yang 180 derajat bertolak belakang dengan dirinya.          Duduk dibangku paling pojok dan paling belakang adalah surga baginya, Vivin bisa dengan bebas melanjutkan tidurnya, dan memilih mencoret-coret kertas atau menghayal setiap waktu dari pada memperhatikan guru dan pelajaran yang rasanya sangat sangat membosankan. Matanya selalu menerawang, sembari menopang kepalanya dengan miring ke arah jendela. “Beginikah rasanya masuk sekolah karna keterpaksaan? Benar-benar serasa dipenjara, dan waktu terasa sangat -sangat lama. Sering sekai ia melihat ke arah jam dinding yang tampak seperti tak bergerak sama sekali, saat masuk menunggu jam istirahat, setelah istirahat hanya menunggu waktunya  pulang, semuanya sama saja. Ingin sekali rasanya cabut dari sini,” batinnya         Vivin kembali menarik fikirannya dari sejak awal masuk sekolah, tinggal dipesantren hidupnya bagai terdampar ke planet Mars dan bertahan hidup sendirian dengan bekal pas-pasan. Ingin berteriak tidak ada yang mendengar, ingin marah, pada siapa? Menangis pun tak ada guna, Teman sebangkunya rina menyikut-nyikut lengannya “Vin bu Marlis tuh liatin” Vivin tersentak dari hayalannya, tatapan bu Marlis tak seramah biasanya kali ini tampaknya ia sangat-sangat marah, tatapan tajamnya bagai burung hantu menerkam mangsa, dengan salah tingkah Vivin mengambil buku dan menekur seolah-olah sedang membacanya, tanpa ia sadari buku itu terbalik, langkah bu Marlis semakin dekat menuju bangku Vivin, keringat tiba-tiba mengucur disemua pori-porinya. “Vin Kalau tidak serius dimata pelajaran saya keluar saja!” sambil menarik buku yang menutupi wajah Vivin buk marlis membalikannya, dan berkata “sejak kapan kamu baca buku terbalik? Ada ada saja!” kelas yang sedari tadi kaku tiba tida riuh menertawakan kelakuan Vivin.         Vivin hanya bisa menekuk wajah, menahan emosi, jengkel dan semuanya berkecamuk dalam dirinya hanya saja masih tertahan dengan kata “sabar” memang niat hatinya tidak ada untuk belajar, ia hanya menjalankan perintah mamanya saja, hatinya masih meronta, fikirannya ingin sekali memberontak, sambil menekuk wajah ia mengepalkan tangan kuat-kuat berusaha melepaskan sesak didada yang tidak tau mau dilampiaskan kesiapa.         Lagi-lagi secarik kertas itu mendarat lagi dimejanya, Vivin memungutnya dan membaca “hy makanya jangan ngayal terus... belajar yang bener” tulisan dari secarik kertas itu, dengan cetus Vivin merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil kemudian membuangnya ke arah lelaki itu dengan kasar, dan kemudian memasang muka kecutnya, kembali lagi Vivin hendak dilempari kertas lagi olehnya “maaf deh, aku Cuma gak tega kamu terus dimarahi dikelas” belum ia melemparnya ke arah Vivin,,,         “Rangga!!” Teriak bu Marlis lagi ke laki-laki itu, “kertas apa yang kamu lempar dari tadi? Mukanya kikuk dan salah tingkah, semua mata kini teralihkan padanya setelah Vivin, lelaki itu mematung saja karna ia tak pernah sekalipun dimarahi disekolah, namun kali ini kena semprot guru yang selalu memujinya dikelas untuk pertama kalinya, betapa malunya ia. Vivin baru saja mengenal pria yang berjarak dua meter dari tempat duduknya  itu bernama Rangga Bu Marlis mengambil kertas yang bercoret itu dari mejanya dan membacanya keras-keras “maaf deh, aku cuma gak tega kamu terus dimarahi dikelas”         Muka Rangga memerah seketika, seisi kelas sontak berteriak,, ciiieee ciiie... so sweeett!! Bu Marlis geleng- geleng kepala melihat kelakuan murid-muridnya yang memang dalam masa pubertas. Rani yang sedari tadi melirik ikut berseru “Rangga mau juga dong diperhatiin juga sama kamu” dengan tatapan genit ucapannya berhasil membuat suasana tambah riuh dikelas, ia memang dikenal sedikit centil dikelas, jauh beda dengan Vivin yang dingin, cuek, susah didekati.         “Sudah sudah,, baca kembali buku kalian!” tegas bu Marlis mengamankan kelas yang berisik sekali saling menertawakan satu sama lain. Tak terasa waktu istirahat hampir tiba. Setidaknya membuat Vivin bisa bernafas sedikit lega karna sangat terasa jenuh dan bosan dikelas apalagi selama jam pelajaran yang berlangsung lama, belum lagi kehebohan tadi yang masih membuat malu dirinya.         Di bangku yang berjarak dua meter darinya terlihat Rangga berdiri tegap, Vivin baru saja memperhatikan pria yang di anggapnya cupu itu dengan seksama, hidung yang mancung, bola mata yang hitam pekat ditatapnya dalam-dalam, kulit putih dan wajah tampan sedikit membuatnya terkesan, selama ini Vivin terlalu acuh dan tak pernah memperhatikan sosok pria yang melemparinya kertas itu hampir tiap hari, hanya balasan muka masam Vivin yang ia dapat, tapi lucunya tak juga berhenti ia mengganggu Vivin dengan lemparan kertasnya.         Kali ini semua murid sudah bergegas dikantin, tapi Vivin dan rangga masih mematung di bangku masing masing saling memandang,  hanya diam seribu kata, baik rangga atau Vivin tak ada yang mulai angkat bicara. Masing masing saling berusaha  membaca pikiran satu sama lain dan bergumam dalam hati masing masing.         “Owh pantas saja dia banyak penggemar dikelas, udahlah pinter, tampangnya lumayan juga alim juga.  wajar saja membuat heboh satu kelas, tapi dia bukan tipe gue, si cupu ini tidak sebanding dengan teman-teman gue yang lain. Mereka jauh lebih keren dan seru.” Ungkap Vivin dalam hati yang tak mau mengakui kelebihan Rangga, dan menutup diri darinya, memang ia sulit didekati. Jika ingin lulus berteman dengannya harus nakal dulu, harus satu tipe dengan dirinya karna anak pintar dan juara satu tak pernah cocok bergaul dengan dirinya.         “mm.. Vin, salam kenal ya gue Rangga, maaf udah bikin loe malu dikelas. Mau kekantin bareng gue”?? Suara ngebas itu terdengar dari Rangga, ia memulai ucapan dan memperkenalkan dirinya pertama kali. Vivin menoleh singkat dan menatap wajah putih bersih itu, ucapan sopan pria dihadapnya membuatnya semakin membuang muka tak peduli “Udah tau, gak usah, loe aja yang pergi sendiri.” Ucap Vivin sangat pelit kata- kata masih ketus terkesan arogan dan tidak mau membuka diri dengan siapapun, apalagi berteman. “oke Vin gue duluan, sekali lagi maafin gue ya” seolah tak ambil hati Rangga melempar senyum tipisnya pada Vivin yang tampak semakin jutek         Di kantin Rangga bertemu Viky teman sebangkunya “Ngga loe kok mau sih gangguin Vivin cewe badung itu? Dia kan jutek banget, sombong dan cuek lagi, ngapain buang tenaga? Semua mata melirik Rangga, dan para santriwati itu seolah lemah iman dan tak dapat mengalihkan pemandangan indah dari Rangga. “Omaigat! Tak mungkin rasanya mengabaikan ciptaan tuhan yang maha tampan, desis Rani yang lagi llagi curi perhatian dari Rangga.         Rangga mengangguk sopan seolah mengungkapkan rasa menghargai saja, dan tidak menggubris yang lain. Senyum manisnya hampir saja membuat Rani meleleh dan pingsan. Masih terfokus dengan pertanyaan Viky sambil memesan minuan Rangga kembali menjawab penasarannya Viky “gue cuma mau berteman, kayaknya dia baik, dan dia sedikit bikin penasaran. Karna dibanding cewek-cewek lainnya dipesantren cuma dia yang beda. “Beda apaan, aneh begitu, tomboy lagi tongkrongannya kan di belakang sekolah tu sama  Rian, kevin  dan anak nakal lain. Ternyata Viky sudah sangat sering memergoki Vivin nongkrong dibelakang sekolah.         Bel masuk berdering mendengung nyaring ditelinga semua murid, baik santriwan dan santri wati kembali kekelas masing-masing, tak sengaja Vivin dan Rangga lagi-lagi berpasan berjalan menuju kelas, ternyata benar ungkap Viky , Vivin selalu nongkrong dibelakang sekolah bersama anak anak nakal lainnya. “Apa lu liat-liat?” Cowo bringas bertubuh besar itu adalah Rian bersama komplotannya yang lain, salah satunya Vivin. Rangga berlalu tak menanggapi apapun demi mempertahankan reputasinya sebagai cowok pintar dan kebanggaan sekolah ia selalu menghindari perkelahian.         Ternyata Vivin meski tak tampak punya teman dikelas teman-temannya anak brandalan dikelas lain yang sering cabut, sering dihukum, dan sering langgar aturan.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN