Penjara Asrama

2419 Kata
        Sepanjang jalan, mata Vivin tak berkedip pandangannya menyapu sungai yang sangat panjang membelah kedua jalan sisi kiri dan kanan, jalanan aspal yang lurus membentang itu bagai karpet panjang yang melintang di kedua bibir sungai. Seolah siap menyambut kedatangannya, dengan tergopoh-gopoh dan sesekali menyeka keringat di dahi. Ia menempuh perjalanan dengan berjalan kaki menuju Asrama. Katanya mamanya sih dekat tapi saat ditempuh jalanan ini tak selesai-selesai, meski menggerutu dan tak berhenti mengomel didalam hati tapi ia menikmati perjalanan itu.           Mama hanya memberi tau alamat lokasi sekolahnya dan asrama tempat tinggal, kemudian memberi bekal, karna Vivin tidak ikut pergi pendaftaran saaat itu. Sebagian barang-barang sudah dipindahkan dihari Minggu kemaren dengan mobil pick up, percis seperti orang pindah rumah, namun hatinya iba merasa ditelantarkan orang tua sendiri. Vivin sedikit kewalahan membawa koper kecilnya yang berisikan pakaian sehari-hari yang akan ia kenakan.         Namun memang jarang sekali ia menikmati pemandangan Alam yang menenangkan ini. air sungai yang begitu bening, udara yang sejuk membelai tubuhnya yang kelelahan disiram sinar matahari dari ketinggian namun panasnya tak berarti diserap pohon yang rindang berbaris rapi dipinggir bibir sungai, dan sedikit menutupi jalan. Alam yang masih asri, dan pegunungan yang terpampang sangat dekat dan jelas dipelupuk matanya seolah bisa digapai didepan sana. Sepertinya dekat dengan Asrama. tak ditemukan gedung gedung tinggi, yang ada rumah rumah kayu tua seperti di desa.  benar- benar suasana tenang yang menentramkan hati,pujinya.                 Seketika ia tersadar. “Ah aku kan terpaksa sekolah disini, tanpa sadar ia mulai terkagum-kagum dengan keindahan suasana Asrama, suasana sekolah yang akan ia habiskan selama tiga tahun ini. “Tidak apa juga sekolah disini, pemandangan indah ini akan gue nikmati setiap hari... gumamnya lagi, Ah,, TIDAK,TIDAK, TIDAK.....! tidak. Gue harus mikir bagaimana supaya mama pindahkan gue dari sini. Cetusnya mengomel sendiri. Jika anak-anak lain didampingi orang tua, berbeda dengan dirinya yang semuanya serba sendiri, kadang ia memaklumi saja karna orang tuanya juga mengurus adik-adiknya yang lain. Ia pun sudah sangat terbiasa sendiri, bahkan dari TK ia sering menunggu Bis antar jemputnya sendiri tanpa ditemani orang tua. Jadi hal ini sudah biasa.         Ia masih sedikit grogi, memikirkan persiapan apa saja, dan bagaimana beradaptasi nanti, bagaimana agar terlihat biasa dan orang tidak menganggapnya tomboy lagi, pertanyaan itu menyeruak mengganggu dirinya yang merasa belum siap mental. Tentu saja ini kali pertama Vivin akan tinggal di Asrama, tugasnya adalah menyesuaikan diri, mau tak mau lebiih tepatnya memaksakan diri membaur dan menyatu di lingkungan itu, menjadi penduduk Asrama.         Yang ada dibenaknya Asrama itu adalah tempat hororr yang menakutkan, penuh dengan tekanan, dan tidak ada kebebasan. Belum lagi jika semua temannya tau ia masuk pesantren. Karna anggapan orang-orang bahwa pesantren itu kampungan, katrok,ketingalan jaman, dan tempat murid buangan yang tidak diterima disekolah lain. Semua stigma negatif itu membuatnya kalut dan mengutuk keadaan yang harus ia terima hari ini juga.         Sampailah ia di Asrama pondok pesantren itu. Asrama putri yang isinya perempuan semua. Ketika sampai didepan pintu kamar, Vivin seperti orang ling-lung planga plongo tidak tau harus ngapain, kaku dan mematung begitu saja. Ia hanya melotot memperhatikan setiap sudut ruangan seperti detektif yang mencari barang bukti yang disembunyikan.         Tatapan matanya melotot menyapu seluruh ruangan, Ia mengamati ruangan yang cukup luas namun penuh, sangat ramai, ia membatin, “kamar apa ini seperti pasar!”. Vivin melihat ranjang yang bertingkat-tingkat kamar yang sangat heboh, dan kesibukan kesibukan yang dilakukan orang-orang yang belum dikenalnya,         “dek taruh barangmu disini dan ranjang ini masih kosong, atau di sudut sana, atau disebelah kiri atas tinggal pilih saja” seorang kakak tingkat memberi saran, dan Vivin pun berkenalan. “ baik kak, terimakasih namaku Vivin” ucapnya ramah, iya panggil saja “kak Yuli” kemudian berjabat tangan         “Oya kalau mau minta izin atau melapor apapun di ruangan ini ya,” sembari tangan kanannya menunjuk kesebuah ruang kamar yang tampak khusus. “Ini kamarnya umi, yang merupakan pimpinan asrama ini tegas kak Yuli sebelum Vivin bertanya.         Setidaknya sudah kenal satu orang yang membuatnya tidak kaku lagi, dan jadi tempat bertaya.    Setelahnya teman-teman lain ikut sembari menyapa dan berkenalan. Ada yang sekedar                   melambaikan tangan, melempar seyuman dan bertanya asalnya dari mana. Walau introvert Vivin dapat beradaptasi dengan yang lainnya.         Ia pun berkemas menyusun pakaian dilemari plastik yang semuanya serba kecil, lemari kecil, ranjang juga kecil, kasur dan lainnya semuanya serba kecil, ya maklum saja begini ternyata tinggal di Asrama, semua serba terbatas dan alakadarnya. Jauh dari kemewahan dan kepuasan, sangat sangat sederhana dan minim sekali.         Kepada kak Yuli orang yang baru dikenal Vivin, ia pun kembali bertanya, “kak kalau dapur, tempat mandi, sama toiletnya dimana?” Dengan ramah kak Yuli menuntun Vivin menjadi tourguidenya menuju semua ruangan yang Ada di asrama, Vivin mengekor saja dibelakangnya.         ”Nah disini dapurnya,” Vivin yang baru pertama kali melihat suasana dapur anak asrama menyernyitkan dahi dan mengangguk saja, ia melihat kompor sangat banyak berjejeran dan masing masing tersedia  loker –loker dari kayu tempat penyimpanan bekal atau peralatan dapur masing masing santri. Semua tampak luas, rapi dan tertata sedemikian rupa.        “Nah vin kalau mau menyimpan peralatan dapur cari loker yang kosong ya dan yang belum ada namanya. Lalu disebelah kiri itu tempat mandi kita. “Hah kita??” Vivin merasa aneh dan syok masa iya mandi berjamaah. “What?” Hal yang ia fikir privasi apakah harus dilakukan bersama-sama, tak pernah ia bayangkan selama hidupnya. Sembari berjalan kesana ia pun mengamati dengan seksama. “Astagfirulloh” vivin terkejut, kaget seketika ia melihat satu sumur bor besar, bundar dan sebagian santri mandi disana. Ya memang sih menggunakan pakaian tipis seperti kain tapi tetap saja batinnya belum terima, ia yang sangat pemalu harus mandi berjamaah. Hal itu sangat sangat membuat ia tercengang, sontak kak Yuli tertawa ngakak melihat ekspresi Vivin seperti cowo yang mergokin orang mandi, salah tingkah, kaget dan wajah Vivin memerah.         “Hah, masa iya kak mandinya barengan semua disana? Ngak ada kamar mandi kecil ya kak buat mandi sendiri?” Vivin masih syok  “ya ngak ada Vin, kan qt cewek semua, lagian kan mandinya menutup aurat. Kadang jika mati lampu dan air PAM ga hidup kita mandi di sungai subuh-subuh...” “hah?? Serius kak? Disungai?” dengan wajah tak ikhlasnya Kali ini Vivin lebih syok lagi, hal yang tidak pernah ia bayangkan seumur hidup. “Mandi disungai”.         “Iya sungai di depan Asrama disana kami biasanya mandi jika sumur bor mengering ”tukas kak Yuli. Mendadak lemes dan lunglai Vivin menerima semua kenyataan selama tinggal di Asrama, dan itu semua terpaksa harus ia terima dan jalani.         Langkah kakinya masih lunglai dan masih diiringi kak Yuli yang masih semagat memperkenallkan Vivin dengan ruangan-ruangan lainnya. Ada kelas mengaji, kamar Aliyah, kamar Hafizah ruangan Aula, dan lainnya. Kurang lebih satu kamar diisi oleh 30/50 santri, baik Tsanawiyah, Aliyah dan Hafizah.         Setelah sholat Ashar berjamaah di Mushola, Vivin bertemu dengan umi yang merupakan pimpinan Asrama Putri,dengan sopan Vivin bersalaman dengan umi dan memperkenalkan diri dihadapan semua santri di Asrama.         Hari itu menjadi hari pertama bagi Vivin hidup di Asrama,  sedikit terasa canggung jika dirumah ia dapat menonton TV mengganggu adik-adiknya dan bermain atau nongkrong bersama teman temnanya dulu, sekarang suasananya tak lagi sama, sungguuh sangat berbeda, jauh dari hingar bingar, hanya mendengar suara air sungai didepan asrama, atau suara kodok bercengkrama  dan suara mengaji saling bersahutan penuh irama. Sebagian dikamar itu ada yang mengaji, membaca buku, bercengkrama atau memasak.         Ia mengepal tangannya kuat kuat dan menarik selimut diatas tubuhnya, memaksa diri tidur agar bangun dengan segera, batinnya masih menganggap ini mimpi. “Ah,, lama sekali 3 tahun itu, cepatlah berlalu agar aku bisa keluar dari sini,” gerutunya, Belum memejamkan mata suara berisik memecah gendang telinga itu terdengar. Vivin terperanjat dari tempat tidurnya, Ah ternyata ini kode untuk sholat Magrib berjamaah, kode manual yang jadi ciri khas umi.         Dengan lonceng ajaib itu semua orang bergerak mengikutinya. Bagaimana tidak kaleng s**u kosong yang diisi dengan batu  kemudian diguncang guncangkan sekuat tenaga, maka semua orang mendadak patuh dan bangkit dari tempatnya untuk segera menunaikan sholat berjamaah. “Ah primitif sekali, belum juga lama istirahatnya, harus beribadah lagi” Vivin kembali ngeyel karena jika dirumah memang Vivin suka mengulur ulur waktu sholat bahkan kadang lupa karna asyik bermain.         Sholat berjamaah memang terasa lebih lama, karna seisi asrama itu perempuan semua maka Umi yang memimpin jadi imam sholat berjamaah, Usai sholat dan kembali kekamar ia merasa merdeka, niatnya ingin melanjutkan tidur yang menggantung tadi dengan derap langkah kaki yang cepat ia menuju kekamar dan bersemayam di atas ranjangnya agar bisa tidur pulas.         Belum Vivin menaiki anak tangga menuju ranjangnya di atas sana anak-anak lain menatapnya dengan serius, “hy Vin kamu bolos ya? Kamu ngak ngaji?” suara teman barunya bingung,  “hah emang ada jadwal ngaji malam ini?” Tanya Vivin lebih bingung. Ya iyalah kan kita gabung sama anak asrama pria ngaji tiap malam, masa kamu ngak tau? “Hmm, iya” Vivin kembali tertunduk malas ia lupa aturan-aturan pesantren yang disebutkan sebelumya, bahwa harus mengaji tiap malam, sholat tepat waktu keluar hanya boleh bersama-sama dan itupun kepasar membeli kebutuhan harian dan cuma hari Rabu saja, jika terlambat denda, jika tidak izin denda jika tak patuh denda.         “Wah lama-lama bisa stres nih gue tinggal di asrama, disiplinnya seperti tentara latihan militer saja.” ucapnya dalam hati, “tiap ini itu denda sedikit sedikit denda, bisa tekor nih lama-lama, uang titipan mama pas-pasan lagi hanya tahan untuk satu minggu kedepan”. Ia kembai mengambil mukena yang baru saja ditumpuknya di Atas lemari, tak lupa dengan kitab tafsir dan ikut serta teman lainnya menuju kelas mengaji.         Rasa ngantuk masih mengganggunya,ia menekuk wajah dan berjalan dengan malas diiringi tiga orang teman barunya Elisa, Dara dan Henny, sedikit  menempuh jalan setapak, dan hamparan lapangan yang luas. Memang posisi asrama dan sekolah sangat berdekatan, dan dimalam hari ruangan sekolah Aliyah bisa dipergunakan sebagai kelas ngaji. Sepanjang jalan mereka absen semua santri cowo, sambil melirik mereka membahas kekurangan dan kelebihan masing-masing yang mereka kenal, Vivin hanya geleng-geleng saja melihat tingkah teman-temannya. Karena memang masa pubertas seorang perempuan memang sering curi-curi pandang terhadap lawan jenis, tak peduli entah dipesantren atau dimana, memang naluriahnya begitu, begitu pula sebaliknya. Hanya yang kuat iman yang mampu menundukan pandangan.         Vivin terkesan cuek, hanya menjawab ketika ditanya, lain dari itu memilih diam saja. lampu jalan sedikit temaram, udara sangat dingin dan menusuk ketulang, langit tampak cerah meski tak banyak bintang. Hanya terang karna sinar bulan yang berbentuk senyum itu. Tiap sebentair ia menguap memaksakan mata tetap dalam mode nyala, karna memang disuasana seperti ini mendukung sekali untuk tidur nyenyak. Tapi karna rutinitas dan aturan wajib di Asrama mau tak mau ia menurut saja dengan terpaksa. Langkah demi langkah meski tak jauh menuju ruang yang dituju, serasa sangat lama jika hati tidak berada ditubuh, fikiran traveling, mata ingin sekali terpejam.         Sudah dilantai dua ketiganya berada digedung sekolah itu, tampak seperti gedung tua dimalam hari, menambah kesan hororr, namun tak menakkutkan lagi ketika cahaya dihidupkn penjaga dan orang orang mulai terlihat ramai memasuki kelas masing masing. Baik santriwan dan santriwati Asrama Putra maupun Asrama Putri saat belajar kelasnya digabung menjadi satu, semua duduk berdasarkan kelompok masing masing. Hanya yang membedakan tingkat kelas masing-masing, kelas satu tsanawiyah, kelas dua, tiga dan seterusnya begitupun Aliyah dan kelas penghaafal Qur’an..         Ustad yang mengajar memberi kode untuk maju satu persatu memperkenalkan diri. Masing masing menyebutkan alamat, tempat tinggal dan motivasi sekolah dipesantren ini. Dan tibalah giliran Vivin memperkenalkan diri, hal yang membuat ia enggan karena menjadi pusat perhatian, dan gerak geriknya seperti dipantau setiap ia berbicara. Masing-masing mata yang tak berdelik itu mengusik kenyamanannya seolah membuatnya terpaku dan membuat ia tak bebas berekspresi, batinnya selalu memaksakan untuk menyesuaikan diri, agar dapat menunjukan kesan baik diperkenalannya, dan tampak sama dengan anak anak lainnya. Memang, mentalnya terlatih dan keberanian Vivin di atas rata-rata, namun untuk hal-hal seperti ini ia tidak begitu siap mental , berdiri didepan umum selalu membuatnya insecure.         Setelah menyebutkan nama, alamat, lalu menyebutkan apa motivasinya sekolah dipesantren lidah Vivin mendadak kelu, mendadak ia gagu. “Mmm motivasi saya sekolah disini....” tampak ia berfikir dengan sangat keras kata apa yang akan dia sampaikan, wajah terpaksa itu sulit ia sembunyikan.         Jadi apa motivasi kamu sekolah dipesantren ini Vin” ustad mengajukan pertanyaan ulang, “hmm agar cepat tamat pak ustad”  hal itu dijadikan joke oleh santri lain, “agar kamu bisa cepat nikah ya Vin hahahaha” jangan-jagan kamu mau dijodohkan makanya pengen cepat tamat, dan anak-anak lain ikut serta menertawakan. “Sudah,,, sudah cukup” tukas pas ustad sambil memperbaiki kaca matanya berusaha mendamaikan kelas. “ mari kita mulai, buka tafsir halaman 10. Vivin yang mematung memilih kembali ketempat duduknya dan menurut saja dengan perintah pak ustad.         Dikelas tidak begitu banyak santri kapasitaas 15 orang perempuan dan 13 orang laki-laki cukup memenuhi ruangan yag tak begitu luas.Rutinitas di asrama ialah ibadah dan mengaji,belajar dan menghafal Qur’an serta membaca kitab-kitab yang tebalnya menyerupai kamus satu juta kata. namun bagi seorang Vivin yang merasa terperangkap disana tentu saja tekanan batin rasanya, ia tak bisa begitu bebas lagi bersama-teman temannya dulu. Fadli, Rafli dan Faisal tongkrongan Vivin yang maha asyik, tidak kaku dan membosankan seperti semua penduduk asrama ini. Jadi sebab itulah ia memilih independen saja, duduk dipojok sendiri, tidak suka bergelombol dan mungkin terkesan sombong bagi anak-anak lainnya.         Setelah pulang ngaji tentu saja Vivin ingin bersegera tidur tapi tak semudah itu membiasakan diri ditempat baru. Dirumah ia terbiasa setiap pulang sekolah, lempar sepatu sana sini, ganti baju, makan, tidur atau melakukan apa saja yang disenangi, tapi di Asrama meskipun jam sudah menunjukan pukul 22:30 anak anak masih terdengar ribut, apalagi disaat umi keluar, ada yang konser,nyanyi-nyanyi tidak jelas dengan suara cemprengnya, ada yang curhat, ada yang berdebat sangat -sangat heboh seperti pasar, karena isinya waanita semua yang tidak bisa diam, wajib mengeluarkan 20.000 kata setiap harinya. Hanya ketika ada umi di ruangannya semua mendadak kalem dan pendiam.         Vivin yang sedari tadi menahan kantuk, matanya yang tadinya sayu 5 watt menjadi melek bagai lapu pijar dan tak bisa terpejam, hanya menerawang saja, ia kira hidupnya tentram karna hanya sendirian di ranjangnya tidak akan ada yang mengajaknya ngobrol atau curhat, ternyata diluar dugaan, belum lagi suara nyamuk yang berdengung ditelinga yang mengusik ketenangannya membuat Vivin seketika jengkel dan kesal ia menimpuk mukanya dengan bantal dan menghempaskan badan kekiri dan kanan dengan kasar menarik selimut kuat-kuat untuk menutupi tubuhnya.         Jam sudah menunjukan pukul 12:30 perlahan lahan suara berisik itupun surut, Alangkah bahagianya Vivin bisa istirahat meski dalam keadaan kesal melihat anak-anak lain sudah pada tidur pulas, namun dirinya masih berusaha tertidur, karna gangguan tadi. Sungguh kesan pertama yang menjengkelkan dan tak terlupakan  gumamnya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN