Prolog
Andai masa depan bisa diintip lewat cermin ajaib, tentu tak ‘kan ada kata kepahitan dalam kamus manusia. Semua kehidupan akan berjalan dengan manis, layaknya kisah dalam negeri dongeng. Putri baik hati bertemu dengan pangeran tampan berhati mulia, menjalin kisah cinta dengan kelembutan dan segala norma kesopanan. Putri yang tersipu malu, pangeran yang pandai merayu. Di saat itulah, sejuta sajak pujangga ‘kan mengalun merdu, bagai suara peri-peri penjaga kalbu.
Namun sayang, ini bukanlah negeri dongeng. Ini adalah dunia dengan keangkuhan dan keegoisannya. Dunia yang dihuni oleh para pemuja harga diri dan privasi, tak sedikit pula yang menerapkan sikap arogansi serta tak peduli. Di sanalah dia tinggal.
“Kara!”
Seorang wanita muda terbangun dari tidurnya. Dia seperti pelari yang telah mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali. Dewi Mimpi tampak tak bersahabat malam ini. Bayang masa lalu mengusik segunung kerinduan yang tak pernah terkikis masa.
Tarikan napas panjang masih cukup efektif melonggarkan jalur pernapasan. Degup jantung wanita itu berangsur normal. Namun, tidak dengan kehampaan di hati.
Wanita berpiyama kuning beranjak dari ranjang, menapakkan kaki menuju balkon. Embusan angin malam bermain riang di antara helai rambut, memeluk setiap jengkal raganya. Kesunyian hati masih menjadi alasan untuk tak membalas sapa alam.
Dialah Reina Prameswari. Wanita berparas ayu, seputih kulit bengkuang. Hidup dengan keberanian yang menutupi kerapuhan.
Satu tahun sudah, Reina menyusun barisan rindu, untuk sebuah nama yang telah melambaikan tangan pada getir dunia.
Kara, lelaki yang telah menikahinya tiga tahun lalu. Dengan sebongkah tunas cinta dan keberanian, dia ungkapkan sejuta harap akan keluarga bahagia di depan penghulu dan sekelumit keluarga.
Gadis manis yang tak ingin melihat kekecewaan kedua orang tua, hanya bisa tepekur. Membenamkan kuncup asa dalam lautan penantian.
Beruntung, Kara adalah pria yang baik dan santun. Dia selalu memperlakukan Reina layaknya ratu dalam kerajaan yang dibangunnya. Namun, semua sikap manis itu tak jua mampu menumbuhkan benih cinta. Wanita berambut panjang hanya melakukan apa yang seorang istri lakukan. Membersihkan rumah, memasak, menyiapkan pakaian, tapi tidak untuk urusan ranjang.
Ada yang bilang, bercinta tanpa cinta, tak akan terasa indah. Hanya akan menjadi sembilu penyayat hati. Mungkin pedoman inilah yang sedang direngkuh wanita itu.
Tahun berganti, tapi Kara tak jua dilayani. Tak memaksa, lelaki itu sama sekali tak ingin melakukan apa yang tidak diinginkan oleh istrinya. Karena dia tahu, rasa itu belum ada. Atau bahkan mungkin ... tak akan pernah ada.
***
“Sayang, waktuku tak banyak. Bisakah kamu mencintaiku sehari saja?” lirih Kara.
Reina mendongak. Ada tanya yang membaur bersama rasa bersalah menumpuk di ujung mulut, membungkamnya erat. Lama dia mengamati air muka Kara, lalu memandang sekitar, mencari pengalihan.
“Sayang, aku mohon. Aku lelah terbaring di sini. Berkencanlah denganku! Aku ingin duduk di bangku besi itu bersamamu, melihat barisan bintang hingga pagi menjelang.” Lelaki itu menggenggam jemari lentik. Hal biasa yang dia lakukan. Namun, entah mengapa terasa berbeda. Tangan Kara tak sehangat sebelumnya.
Pria yang berdiri setegak pohon jati, tumbang sudah oleh pembunuh jutaan manusia bumi, kanker. Dalam hatinya, ada makhluk mungil yang berkembang biak dengan cepat, membuat organ rapuh itu semakin berteriak. Tubuh besar berlapis lemak, kini tinggallah tulang dan sekelumit daging yang bertahan.
“Kara, tidak bisakah kita di sini saja? Aku mohon.”
Lelaki itu melepas genggamannya, tak segan pula membuang muka.
“Berhentilah iba padaku! Serapat itukah hatimu hingga tak bisa kusinggahi barang sedetik?”
Genang air mata terjun sudah, melintasi pipi tanpa rona merah. Semakin dalam dia menunduk, seakan tak punya keberanian untuk menatap raut kekecewaan pria di depannya.
Benarlah jika cinta tak bisa dipaksa. Bukan hanya sekali Reina berusaha untuk melihat cinta di mata Kara dan berharap bisa membalasnya. Semua kebaikan hati dan kelembutan sikap lelaki itu, tak pernah sedetik pun luput dari pandangan. Akan tetapi, entah apa gerangan yang mengunci bilik hatinya hingga sedikit pun celah tak tercipta.
“Aku mencintaimu,” ucap Reina, “sembuhlah! Agar aku bisa mencintaimu lebih lama lagi.”
Kara mengelus puncak kepala istrinya. Dia tahu, itu hanya sebatas kepalsuan. Kepalsuan yang menyenangkan. Untuk pertama dan terakhir, dia mendengar kata cinta mengalun meski tak seindah lantunan irama surga.
“Terima kasih, Rei.”
Lengking suara monitor hemodinamik dan saturasi yang terletak di dekat pasien, mengejutkan Reina. Tak lagi ada irama yang mengalun. Satu nada, hanya satu nada yang tak terputus.
***
Tes ombak, hehe..
Welcome di cerita ketigaku. Hope you like this story, Genks.
Jangan lupa tap love jika kamu suka dengan cerita ini.