Rencananya adalah, Meera akan mengirimkan seseorang ke Heigenz begitu dia mendapatkan waktu untuk bertemu. Entah itu Mbak Dana, atau Uli atau bahkan Kilio. Nah, mereka akan akan dilatih oleh Meera untuk menghadapi Gyan Samudra sampai tim mereka berhasil mendapatkan persetujuan kolaborasi Heigenz.
Meera akan bekerja di belakang layar, sehingga dia tidak perlu bertemu langsung dengan Gyan Samudra yang menyebalkan itu.
Bukan malah mendapatkan kesempatan untuk ngopi dan membicarakan pekerjaan dengan empat mata di kafe.
Rasanya Meera ingin mencak-mencak saja.
Hari itu tiba juga. Rabu pukul satu siang. Langit cerah dan suasana kota Surabaya yang panas membara, seolah memiliki dua matahari. Di kafe Panjahitan.
Sial memang. Gyan benar-benar sengaja meminta menemuinya di kafe kenangan mereka. Kafe tempat mereka sering nongkrong berdua saat kuliah, sekaligus kafe tempat terakhir mereka bertemu. Saat Meera menampar wajah Gyan keras-keras.
Karena sebuah kesalahan.
Meera mengenakan setelan berwarna putih. Rok sepan sepanjang lutut, dan blus juga kemeja dengan warna yang senada. Putih. Melambangkan posisi dan sikap yang netral bukan?
Netral dalam situasi kali ini. Demi perusahaan. Demi harga dirinya dan timnya di depan Pak Yuko.
Meera menarik napas dalam sebelum masuk ke kafe. Mempersiapkan dirinya atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Bukan kah hal seperti ini biasa terjadi pada seseorang? Pada siapa pun di dunia ini?
Bertemu dan harus berinteraksi dengan orang nomor satu yang ingin dia hindari selamanya?
Semesta itu licik, dia mendengar isi hati. Bisik-bisik di dalam pikiran melalui langkah kaki yang menginjak-injak permukaan bumi. Mendengarkan kebencian seseorang. Kemudian, dia bertingkah iseng karena bosan.
Dan seperti ini lah kelanjutannya. Dya Meera dipertemukan lagi dengan Gyan Samudra.
Meera melangkah pelan menuju ke undakan kafe, membuka pintunya dengan sekali dorong, lalu masuk ke ruangan. Matanya menjelajahi setiap kursi, dan dia sama sekali tidak menemukan sosok Gyan di sana. Apa penampilannya sekarang sudah berubah?
Gendut misalnya? Seperti pria yang duduk di sudut sana, di dekat dinding kaca. Lemaknya melimpah ruah dari dagu sampai ke perut, seperti patung lilin yang meleleh karena panas kota Surabaya yang kejam?
Meera begitu berharap penampilan Gyan saat ini jelek. Amburadul, seperti pria-pria yang sudah beranak pinak. Berjenggot mungkin. Atau bekas cukuran jenggotnya tidak bersih karena buru-buru berangkat kerja.
Dan lebih baik pula kalau dia sudah beristri. Atau menjadi duda dan kembali menikah.
Dengan begitu, penampilan Gyan yang sejak dulu menjadi bintang di mata Meera, hancur drastis menjadi kumpulan debu. Tidak menarik. Dan berhenti menawan.
Seorang pelayan wanita menghampiri Meera.
“Selamat datang di kafe Panjahitan. Silakan duduk,” pelayan itu mempersilakan. “Atau Anda sudah memesan meja sebelumnya?”
Meera membalas pelayan itu dengan pertanyaan. “Apa ada reservasi atas nama Meera? Gyan Samudra? Atau Heigenz atau Blue Bubble?”
Pelayan itu mengecek tablet yang dipegangnya. Menyusuri halaman aplikasi pribadi kafe.
“Mohon maaf, tapi tidak ada meja yang dipesan untuk hari ini. Maksud saya pada jam makan siang dengan nama yang Anda sebutkan, kecuali atas nama Berang-Berang Air Asin,” balas pelayan itu.
Mendengar nama Berang-Berang Air Asin, membuat Meera menaikkan alis. Dia sangat familiar dengan nama itu. Bagaimana tidak, Berang-Berang Air Asin adalah julukannya saat kuliah. Dia adalah perenang handal pada waktu itu. Dan Gyan selalu menertawakan julukan itu.
‘Ya ampun, Meer, mana ada berang-berang air asin? Yang ada berang-berang air tawar. Mereka tuh mandinya di sungai. Kayak kamu.’
Suara Gyan pun terngiang di telinga Meera pada saat ini. Suara bodoh yang keluar dari orang bodoh yang mengira berang-berang hanya tinggal di air sungai yang tawar.
Si bodoh yang sekarang menjadi manajer di perusahaan Heigenz yang bintang lima itu.
“Mohon maaf, nama Anda siapa?” tanya pelayan kafe, dan membangunkan lamunan Meera.
“Oh, saya Meera,” balas Meera.
“Oh, Mbak Meera, ya. Dya Meera? Berarti di meja sebelah sini. Nama Anda ada di reservasi Berang-Berang Air Asin,” tunjuk pelayan itu sambil mulai memimpin langkah.
Namun, Meera tidak bergerak. “Maaf, sepertinya saya bukan orang yang dimaksud. Nama saya Meiranda. Bukan Meera saja,” dusta Meera cepat-cepat sambil tersenyum.
“Oh,” pelayan itu berhenti. Lalu mengecek kembali tabletnya. “Berarti saya salah orang. Maaf kan saya.”
“Nggak apa-apa kok.”
“Jadi, Mbak Miranda mau pesan sekarang atau menunggu seseorang?”
“Menunggu seseorang,” balas Meera kemudian. Dia tidak ingin memberi Gyan kepuasan. Belum bertemu sudah memulai perang saja, pria itu.
Meera duduk di meja di samping dinding kaca yang menghadap ke taman buatan di pelataran kafe. Ada beberapa set tempat duduk dari rotan di luar, di bagian teras itu. Dan di tempat itu, dirinya dan Gyan terbiasa nongkrong. Di meja rotan dengan sandaran melengkung yang saling berhadapan. Di sudut, di bawah kanopi tanaman sulur.
Mereka sering kali berada di sana, saat mengerjakan tugas, atau saat sedang bosan saja.
Mereka biasa membahas tentang dosen-dosen mereka yang menyebalkan, film-film, bahkan olimpiade renang yang tidak bisa diikuti Meera.
‘Kakimu yang cidera, pasti bakalan membawamu ke suatu tempat yang lain, Meer. Bukan piagam, namun kebahagian yang lain. Selagi kamu masih bisa berenang, lautan pasifik pun masih terbuka buat kamu. Jadi, nggak ada alasa buat terus bersedih.’
Kembali, suara Gyan memenuhi pikiran Meera. Bukan memenuhi, tapi lebih tepatnya, terdengar kembali seperti sebuah panggilan dari jauh, saat dia sedang bermimpi.
Mungkin seharusnya dia tidak berada di sini lagi. Seharusnya dia meminta Mbak Dana untuk membatalkan janji. Atau membuat janji lagi di tempat yang lain. Atau kafe yang lain. Tidak di sini, di tempat semua yang indah dan perih itu terjadi.
Perasaan Meera terasa berantakan teringat kenangan yang sudah lama terjadi itu. Dan dia ingin pulang saja saat ini.
Matahari terasa terik, yang untungnya suhu di dalam kafe cukup sejuk, sehingga udara di luar sana itu tidak mengganggu Meera.
Langit biru di langit dan awan-awan yang putih berkilat cerah. Seperti waktu-waktu yang dia sering habiskan untuk berenang di laut. Berenang dan berenang ke tengah laut sampai akhirnya dia bertemu dengan Gyan pada suatu hari. Seseorang yang dia kenal pada saat itu, tak pernah sekali pun Meera menyangka akan menyakitinya pada suatu hari.
Pintu kafe terbuka, dan pada saat itulah dia melihat Gyan kembali. Pada saat pikirannya dipenuhi dengan masa lalu, dan ingatan tentang aroma asin air laut. Bibir yang membeku, dan cinta pertama yang luar biasa kejam.
Jantung Meera mendadak berdetak lebih cepat, dan matanya mendadak berkabut dengan alasan yang sama sekali tidak dia mengerti. Dia tidak yakin, sosok pria yang dilihatnya itu benar-benar nyata atau hanya sekedar ilusi. Kepalanya terasa pusing, dan Meera ingin sekali menyalahkan cuaca yang terlalu terik di luar sana itu.
Gyan menatap berkeliling, dia melihat Meera sekilas sebelum pelayan mengajaknya bicara dan suara mereka tidak sampai pada Meera.
Lalu setelah pelayan pergi, dia menatap Meera dan berjalan menghampirinya.
Penampilan Gyan sama sekali mengecewakan Meera karena tidak gendut seperti patung lilin yang meleleh. Atau kurus seperti kerangka hidup dan wajah yang tampak disiksa oleh beban duniawi yang sadis.
Gyan sama sekali tidak berubah, kecuali siluet tubuhnya yang tampak lebih maskulin daripada yang terakhir Meera ingat. Kemejanya berwarna krem dan bermotif salur yang lembut, celana bahan berwarna hitam yang tampak luwes dia kenakan, dan perawakan yang tinggi dan tampan.
Pria itu sampai di meja Meera. Dan dengan spontan, Meera pun berdiri, entah dengan alasan apa dia melakukannya dan untuk apa. Mengingat Gyan bukanlah presiden negara. Meera hanya ingin pandangannya setinggi yang dia bisa untuk mendapatkan gambaran sosok Gyan lebih jelas.
“Sori, apa kamu Meera?” tanya Gyan kemudian dengan nada ragu dan ekpresi wajah seperti orang yang tidak pernah mengenal Meera.
Rasanya kok jadi menyebalkan bagi Meera pada saat ini. Menjadi sosok yang sudah terlupakan.