Bab 1. Suami Misteriusku
Mina menggeliat dalam tidurnya saat merasakan rasa geli di leher, tapi tidak lama setelah sesuatu yang membuatnya geli itu pergi kini dia melanjutkan tidur. Sampai subuh tiba, dia bangun dan dengan linglung masuk kamar mandi. Barulah begitu melihat ke arah cermin, matanya melotot dan tidak lama teriakan pun menggema ...
"Aaaaaa, ADA APA DENGAN LEHERKU?" Teriak Mina horor.
Di lehernya ada tanda merah, bukan hanya satu melainkan banyak hingga hampir merubah warna putih kulitnya menjadi merah. Buru-buru Mina membersihkan diri lalu keluar setelah semua rutinitasnya selesai. Begitu keluar dari kamar mandi dia lantas mengambil semprotan serangga, tak tanggung menyemprot seluruh kamar hingga yakin serangga akan mati walau hanya menyembulkan kepala masuk kamarnya.
"Pulang kerja nanti aku harus membersihkan kamar ini," gumam Mina sambil menaruh semprotan serangga, bergidig sambil mengusap leher begitu membayangkan para serangga semalam menggerayangi lehernya hingga penuh.
Saat melihat jendela kamarnya terbuka, Mina terdiam beberapa saat sebelum kemudian mengedikkan bahu tak acuh. "Mungkin aku lupa menutupnya semalam."
Mencoba melupakan rasa gelinya pada serangga, Mina bersiap untuk kerja. Dia bekerja di kantor Maha Patih Grup, kantor terbesar di kotanya. Walau pekerjaan Mina cukup rendah yaitu office girl, tapi gaji yang dia dapat cukup tinggi mengingat tempat yang dia miliki untuk bekerja sangat besar dan mampu menggaji pekerjanya dengan bayaran di atas rata-rata.
"Woho, siapa yang makan duluan tanpa menunggu kita, Ma?" Seorang perempuan menyeringai mengejek, wajah judesnya menatap tak suka ke arah Mina.
Saat Mina memakan nasi goreng di meja makan, dia mendengar seruan Hana-saudari tirinya dari arah belakang. Kalau menyangka Mina akan menoleh dan tersenyum tak enak karena makan lebih dulu tanpa menunggunya, maka jawabannya adalah salah. Mina tetap melanjutkan makannya, menganggap Hana makhluk halus yang kehadiran atau suaranya tak dapat dirasakan.
"Apa rasa pedulimu untuk Mama dan Hana sudah lenyap hingga hanya memasak satu piring nasi goreng saja? Mana untuk kami?" Tanya Jina-ibu tiri Mina alias ibu kandungnya Hana dengan suara sinisnya.
Mina tetap diam, masih menganggap kehadiran dua orang yang paling ingin dia hindari di rumah ini tak kasat. Bila bukan karena sang papa yang sakit dan hanya dapat terbaring lemah di atas ranjang, sudah dari dulu Mina minggat dari rumah ini. Tak peduli rumah ini peninggalan almarhumah ibunya, Mina akan tetap pergi jika dua makhluk berisik ini terus mengusiknya.
"Heh," Mina menoyor kepala Mina. "Kalau Mama ngajak ngomong tuh jawab, bukannya diam. Apa kamu mendadak bisu?"
Mina menggigit bibir bawahnya menahan kesal, selera makannya langsung hilang dan kini dia memilih mendorong piring dengan sisa nasi goreng yang masih setengahnya. Mina berdiri, melangkah pergi menghindari Hana dan Jina.
"Mina, lihat saja nanti. Ayahmu akan marah jika melihat kita tidak rukun." Teriak Jina karena terlalu kesal dengan tingkah Mina, dadanya kembang kempis dan siap meledak bila Mina terus memprovokasinya untuk marah.
Mina yang berjalan belum terlalu jauh menghentikan langkah, dia menyeringai sinis sambil menoleh. "Jangan bicara berlebihan, bukankah dari awal kita memang tak pernah menjadi keluarga yang rukun?"
Mendengar jawaban Mina, wajah jina langsung merah padam.
"Dasar kamu anak tidak tahu diuntung. Sudah bagus kamu tidak diusir dari rumah ini, tapi malah berlaga dan tak ada hormat-hormatnya pada yang lebih tua." Jina marah, dia ingin memukul Mina andai dia bisa. Sayang sekali, setiap dia melakukannya Mina suka melawan dan pada akhirnya dirinya yang kalah. "Kamu itu sudah punya suami, harusnya jangan tinggal di sini lagi. Sana, cari suami misteriusmu--,"
"Mama, tenang. Ingat darah, Ma. Kalau marah nanti tensi ikut naik," peringat Hana cepat saat sang mama hampir memuntahkan lava panas dari bibirnya untuk Mina.
Sebelum pergi, Mina melemparkan tatapan mengejek untuk Hana dan Jina. Apa yang dirinya lakukan barusan membuat Jina yang awalnya hampir bisa mengendalikan emosi mendadak melotot, melihat itu Mina puas dan melanjutkan langkahnya dengan santai.
Di belakang, Mina mendengar makian serta umpatan kasar yang Jina layangkan untuknya.
Yap!
Betul sekali.
Mina memang sudah menikah, bahkan usia pernikahannya sudah menginjak tiga bulan. Namun, dalam waktu tiga bulan itu satu kali pun Mina belum pernah bertemu dengan sosok suaminya. Konon katanya laki-laki bernama Tara itu seorang yang lumpuh, wajahnya buruk, dan sangat pendiam. Itu sebabnya Tara tak sekalipun menujukkan diri di hadapan Mina, entah malu atau masih mencari waktu yang tepat untuk mengajaknya bertemu.
Sampai di sisi jalan, selagi menunggu taksi online datang Mina menatap ponselnya. Di layar tertera nama 'Tara', Mina ragu tapi dia ingin menghubunginya.
Saat ada mobil berhenti di sampingnya, tanpa memeriksa lebih dulu Mina masuk ke kursi bagian penumpang belakang. Dia duduk, tanpa tahu dia tak sendirian di kursi penumpang belakang.
"Maaf, Mbak. Mungkin Anda salah masuk mob--," ucapan supir langsung terhenti saat orang yang duduk di samping Mina mengintruksi untuk diam, mengisyaratkan sang supir agar melajukan mobil saja.
Sang supir yang mengerti langsung patuh, selagi mengemudi dia bertanya alamat tujuan Mina. "Mbak, ke mana Anda ingin pergi?"
"Bukankah di aplikasi sudah tertera?" Timpal Mina tanpa mengalihkan dari layar ponsel, masih menimbang apa dirinya menghubungi sang suami atau jangan. Mina memghela nafas pelan, lalu berujar pada sang supir. "Ke kantor Maha Patih Grup, Pak. Mungkin Anda tak jelas membaca di aplikasi."
"Baik," sang supir menimpali.
Jari tangan Mina mundur maju untuk menekan tombol menghubungi di layar ponselnya, tidak tahu apa keputusannya benar atau salah. Bukan Mina tak menerima keadaan Tara yang selain lumpuh juga memiliki wajah yang buruk, tapi Mina hanya merasa laki-laki itu terlalu pengecut karena sampai sekarang dari awal pernikahan jangankan bertemu menghubunginya saja tidak.
Bila memang tidak berniat mencari istri, kenapa Tara menikahiku? Pikir Mina kesal.
"Aku harus menghubungi Tara untuk menanyakan kelanjutan hubungan ini ke mana," guman Mina. "Bukankah lebih baik bercerai dari pada tak jelas begini, dengan begitu aku bisa melanjutkan hidup tanpa terikat dengan orang tak jelas itu."
tuth
Mina menekan tombol, mengabaikan jantungnya yang berdegup kencang dia menempelkan ponsel ke telinga. Panggilan tersambung, Mina makin berdebar menunggu Tara mengangkatnya.
drttt drttt drttt
Saat mendengar dering ponsel dari arah samping, perlahan Mina menoleh dan langsung tersentak saat menyadari kalau dirinya tak sendirian di kursi penumpang bagian belakang. Ada laki-laki yang duduk dengan aura mendominasi di sampingnya, wajahnya minim ekspresi dengan tatapan sedikit menunduk pada ponsel di tangannya yang tengah berdering.
Visual laki-laki di samping Mina tak main-main, tampan jangan ditanya, badan tegap dengan kedua bahu lebar. Oh, jangan lupakan hal paling memikat bagi para perempuan, semakin laki-laki terlihat tak tersentuh maka semakin menarik di mata perempuan.
Satu kata, SEMPURNA.
"Ka-kamu siapa?" Tanya Mina gugup. "Kenapa berada di taksi online yang saya pesan?"
Perlahan laki-laki itu mengalihkan tatapan dari ponsel ke arah Mina, hanya lirikan singkat yang diberikan sebelum kemudian tanpa menjawab apapun pertanyaan dari Mina kembali menatap ponsel di tangan. Laki-laki itu menolak panggilan dan menonaktifkan ponsel, lalu memasukan ke dalam saku.
Tak mendapat jawaban dari orang di sampingnya, Mina mengalihkan pertanyaan pada sang supir. "Maaf, Pak Supir. Apa Anda punya kebiasaan mengangkut dua penumpang sekaligus yang memesan taksi Anda?"
Dengan wajah tak berdaya sang supir menjawab, "Nona, sebenarnya ini bukan taksi online yang Anda pesan. Anda lah yang salah masuk, jadi tolong jangan berpikir seperti itu sebab kesalahan ada pada Anda sendiri."
Mina mengerutkan dahi, buru-buru menjauhkan ponsel dari telinga dan baru tahu kalau Tara tak mengangkat panggilan saat dia melihat layar ponsel. Mina memutuskan melihat aplikasi pemesanan taksi online lebih dulu, baru setelahnya dia tahu kalau dirinya memang salah masuk mobil.
Dengan senyum minta maaf Mina menoleh ke arah samping, "maaf, ternyata saya salah mengira kalau mobil Anda adalah taksi online yang dipesan."
"Hm," dengan tak acuh laki-laki di sampingnya menjawab.
"Berhenti saja di sini, saya akan turun." Mina meminta tak enak, mau bagaimanapun dirinya tak seharusnya salah fokus dan malah masuk ke mobil orang lain. Dia tahu orang lain juga punya kepentingan sendiri, jadi dirinya sadar untuk tidak mengganggu.
Dengan senyum ramah sang supir menjawab, "tak perlu Nona, kebetulan Tuan saya juga punya tujuan sama dengan Anda."
"Kantor Maha Patih Grup?" Tebak Mina.
"Benar," sang supir mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu maaf merepotkan," Mina tersenyum terima kasih pada sang supir dan laki-laki di sampingnya karena membiarkan dirinya ikut numpang ke dalam mobil mereka.
Sampai di depan kantor Maha Patih Grup, sebelum turun untuk satu kali lagi Mina meminta maaf. Baru setelahnya dia keluar dari dalam mobil, terus tersenyum tak enak sampai mobil benar-benar tak terlihat lagi karena masuk parkiran.
"Huh," Mina meniup udara lewat mulutnya, memukul dahinya sendiri. "Dasar ceroboh."
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kantor, Mina menyempatkan kembali menghubungi nomer Tara. Mina mengernyit, jika tadi hanya tidak mengangkat panggilannya saja kini nomer Tara bahkan tak aktif.
"Fiks, si Ciki Taro memang menghindar." Gerutu Mina sambil memasukan ponsel ke dalam sakunya.
***