Seno mengeluarkan ponsel dan menanyakan nomor kontak Adelia. “Biar saya yang masukkan nomor saya ke hape Bapak,” usul Adelia, dan Seno menyerahkan ponselnya. Adelia tampak dengan sengaja berdiri di dekat Seno, matanya sesekali mencuri pandang ke wajah Seno yang mulus tak bercela, bulu-bulu halus rapi di wajah, dan aroma parfum mahalnya yang lembut dan sukar dilupakan. “Ini, Pak.” Adelia mengembalikan ponsel ke tangan Seno, dan memberikan senyum termanisnya. Seno juga memberikan nomor ponsel ke Adelia, dengan menyebut nomornya tanpa harus memegang ponsel Adelia. Perkenalan yang cukup memuaskan, Seno kembali tenang dan dia tetap meladeni pertanyaan-pertanyaan Adelia seputar perusahaan. Seno mengangguk-angguk mengakui bahwa Adelia adalah perempuan cerdas dan berpendidikan. Adelia pa

