Bab 1. Air Mata Pernikahan
"Dea, Kalingga kecelakaan. Pernikahan itu harus tetap terjadi, tapi ... bersama Levin."
Menelisik kembali kalimat itu hingga bosan. Termenung tanpa ingin sadar dan rasanya ingin menghilang bersama Kalingga. Diam seorang diri tanpa ingin diganggu oleh siapapun meskipun pernikahan telah selesai. Bahkan, Levin pun tak diperbolehkan masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Seberapa banyak panggilan yang masuk ke ponselnya tak Dea hiraukan. Dia hanya membutuhkan satu nama sekarang yaitu Kalingga.
Di tengah lamunan Dea, tiba-tiba bunyi dobrakan pintu yang sukses membuat orang-orang di luar sana menyembul masuk itu membuat Dea mengalihkan perhatiannya. Dirinya yang sedang duduk di tepi ranjang langsung menoleh melihat beberapa orang tersungkur di lantai. Hanya ekspresi datar yang diperlihatkan.
"Apa yang kalian lakukan?" Pertanyaan itu justru terdengar santai bersama tatapan kosong yang terpancar dari raut wajah Dea.
Pria dengan setelan jas hitam lengkap itu menghampirinya dengan cepat. Duduk bersimpuh di depan Dea yang kini menatapnya. "Dek, kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan raut kekhawatiran yang mendominasi.
"Sayang," panggil wanita paruh baya yang juga mendudukkan dirinya di sisi kanan Dea seraya merangkul wanita itu terlihat menyedihkan. Matanya yang sembab karena kekhawatiran yang berlebihan pada putrinya itu membuatnya tak bisa menghentikan air mata.
"Aku tidak apa-apa. Tolong semuanya tinggalkan aku, kecuali Levin."
Semua mata tertuju pada sosok Levin yang justru sedang berdiri paling belakang diantara banyaknya orang yang berada di ruangan itu. Seakan diberi jalan untuk mendekat ke arah Dea. Kini Levin melangkahkan kakinya hingga berada tepat di depan wanita itu tanpa mengatakan apapun.
Wanita paruh baya yang tadinya duduk di sisi Dea kini sudah berdiri, tangannya menepuk bahu Levin pelan. "Nak, Bunda minta tolong jaga Dea, ya?" pintanya dengan sorot mata penuh harap.
Levin menganggukkan kepalanya. Dia tidak berjanji, namun akan mengusahakan. Bagaimanapun dirinya dan Dea tidak sedekat yang dibayangkan bisa menjadi sepasang suami-istri seperti sekarang.
Perlahan semua orang berlalu dari kamar tersebut. Hanya tersisa Rangga dan Ayahnya yang keluar belakangan. Kesedihan dari Ayahnya tak bisa digambarkan, setelah memeluk putrinya hangat. Pria paruh baya itu juga memeluk Levin seraya menepuk punggung pria itu pelan.
"Ayah berharap banyak padamu."
Rangga yang hendak keluar paling terakhir terlihat tak mau meninggalkan adiknya tersebut. Namun, pada akhirnya pria itu berdiri setelah memberikan pelukan hangat pada adiknya. Dia melangkahkan kakinya mendekat ke arah Levin, tak berhadapan, lebih tepatnya Rangga menghentikan langkahnya di sebelah Levin dan membisikkan sesuatu di sana.
"Levin, aku berharap banyak padamu. Jaga adikku baik-baik. Jangan melakukannya jika dia belum siap."
Kalimat sensitif yang terdengar paling akhir itu membuat Levin memejamkan matanya malas. Merespon saja mendadak enggan, pria itu hanya mengedipkan matanya malas sebagai jawaban. Rangga sendiri tak memperhatikan dan langsung berlalu setelah mengatakan kalimat itu.
Kini hanya mereka berdua di kamar tersebut. Kamar pengantin yang seharusnya membahagiakan. Berbagi kasih sayang bersama Kalingga. Kenyataanya menjadi kamar pengantin paling menyedihkan untuk Dea.
Levin menjauh, memilih duduk di sofa yang ada di ruangan itu dibandingkan duduk di sebelah Dea yang masih membisu dengan tatapan kosong menunduk ke bawah. Dea tak memulai obrolan, Levin juga tak memiliki obrolan untuk dilontarkan.
Senyap, sepi, dan hampa. Dea menghembuskan napasnya seraya mengangkat kepalanya. Menatap Levin yang terlihat memejamkan matanya dengan menengadahkan kepala di punggung kursi. Tak berbeda dengan dirinya. Mereka sama-sama bingung dengan keadaan saat ini.
"Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Vin? Semuanya tidak sesuai ekspektasi dan bayangan masa depan. Bagaimana menurutmu? Bagaimana dengan kekasihmu?" ucap Dea mencoba menarik tepi bibirnya meskipun justru terlihat sangat menyedihkan.
Yakin Levin tak benar-benar sedang tidur. Pria itu mengangkat kepalanya, membuka mata dan menatap Dea. "Kekasihku? Aku tidak punya."
Hampir saja Dea tergelak dengan jawaban itu. Tapi, dia hanya mampu terkekeh kecil karena melihat ekspresi serius dari Levin. "Bohong kalau kamu tidak punya."
'Bahkan aku menyukaimu sejak pertama pertemuanmu dengan Kak Kalingga.'
"Aku serius. Jadi, kamu tidak perlu khawatir." Terlihat sangat santai. Entah harus percaya atau tidak, Dea hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
"Aku tidak percaya Kalingga dinyatakan meninggal. Sementara dia belum ditemukan dan ini belum 24 jam. Kamu juga berpikir hal yang sama, kan?" sergah wanita itu seraya menahan buliran bening pada kelopak matanya yang sudah tak mau keluar lagi. Terlalu hancur.
Levin menghembuskan napasnya. Menatap Dea sendu. "Belum 24 jam tapi sudah 12 jam berlalu. Menurut kamu orang yang hanyut selama 12 jam masih bisa hidup?"
Entah kenapa kalimat itu sangat menusuk hati Dea. Menyakitkan. Padahal dirinya hanya butuh seseorang yang sepemikiran. Bukannya malah semakin membuatnya terpukul. "Kamu berharap Kalingga beneran meninggal dan bisa memiliki aku seutuhnya?" tekan Dea. "Jawab, Vin!" sentaknya kemudian.
Levin memilih diam, jika dia mengatakan menyetujui pertanyaan Dea pasti akan semakin membuat suasana memanas dan kemarahan wanita itu akan semakin meledak. Tak munafik kalau Levin menginginkan Dea, tapi dia juga terpukul atas kepergian kakaknya. Tak punya energi untuk mengatakan apapun, maka Levin benar-benar memilih diam dan itu membuat Dea berasumsi bahwa semuanya benar.
"Vin!" pekik Dea setengah berteriak tapi dengan tekanan nada yang membuatnya hampir tak terdengar. Pria itu hanya menatapnya kesal. "Benar itu semua, ya? Kamu menyukaiku? Sejak kapan? Katakan!"
Semakin Dea memojokkan pria itu, semakin Levin tak bisa menahan amarahnya. Saat ini dia hanya ingin diam, tapi Dea seakan mengajaknya untuk beradu suara.
"Apa yang bisa dilakukan dengan status baru kita? Kita sudah menikah secara resmi, Radea. Apalagi yang kamu harapkan? Bukankah kamu sendiri yang menyetujui pernikahan ini? Ingat! Aku nggak pernah maksa! Jadi, jangan berpikir pernikahan ini main-main!" tegas Levin masih di tempatnya tanpa ingin menghampiri Dea.
"Kamu hanya pria pengganti, Levin! Sadar itu!" bentak Dea.
Levin langsung memberikan tatapan nyalang. Kalimat menyakitkan itu membuat nafasnya naik turun. Langkahnya dengan cepat mendekati Dea. Mendorongnya ke ranjang hingga wanita itu terjatuh di bawah kendalinya. Tiba-tiba saja suasana menjadi mencekam, buliran bening pada kelopak mata Dea mengalir sempurna melalui celah ekor matanya seraya beradu tatapan dengan Levin.
"Kalaupun aku minta hak dan kewajiban sebagai suami. Kamu nggak bisa menolak!" tekan Levin masih mengunci tubuh Dea di bawah kendalinya. Senyuman sarkastiknya tiba-tiba dia tunjukkan, tangannya perlahan mengelus wajah mulus wanita itu, mengusap air matanya yang terus keluar meskipun tanpa suara.
Dea menyingkirkan tangan Levin secara kasar. Berusaha mendorongnya sekuat tenaga, tapi tetap saja kalah dengan tenaga Levin yang semakin mengunci tubuhnya kuat.
"Dea, sekarang aku lebih berhak atas dirimu dibandingkan Kak Kalingga!"
~ Bersambung...