Bab 5. Kebohongan Dea

1121 Kata
"Ayo Vin katakan yang sebenarnya! Kamu kan pelakunya!" Kini Dea beralih memukul d**a Levin. Sementara Ezra perlahan memundurkan langkah dan pergi. Melihat Dea semakin brutal memukul dadanya dan tangisan yang tak terkendali, lagi, Levin kembali bertindak perihal tuduhan Dea. Levin cukup dibuat terkejut, bagaimana bisa Dea menuduhnya seperti itu? "Dea!" Levin berteriak sambil mengguncang tubuh Dea. "Apa itu masuk akal?" sergahnya penuh penekanan. Dea mengalihkan pandangan, mengedar lebih luas berharap Kalingga tiba-tiba muncul di sana meskipun sepertinya mustahil. Rasanya benar-benar hancur, semua tak ada artinya lagi jika Kalingga tak ada disisinya. Pelukan erat Levin dari belakang dia terima tanpa penolakan seraya terus menangis memandangi aliran deras sungai tersebut. Tak ada kabar baik yang dia terima selama di sana. *** Malam ini benar-benar menjadi malam yang sangat menyedihkan. Dea terus termenung, duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia menatapi bingkai fotonya bersama Kalingga yang dia pegang sejak beberapa jam yang lalu. Mengingat kenangan-kenangan yang sudah mereka ciptakan. Lalu, bayangannya kembali pada kejadian siang tadi. Dia membalikkan bingkai itu, kemudian menangis sesenggukan tanpa suara. Sejak kepulangannya dari TKP, Dea meminta Levin untuk mengantarkannya ke rumah. Lebih tepatnya Dea ingin pulang, di hotel bersama Levin juga tak ada hal yang menyenangkan untuknya. Dan disinilah dia berada sekarang. Sementara, Levin masih mengurus beberapa hal tentang kematian kakaknya tersebut. "Sayang, kamu belum makan malam. Kita turun, ya." Seorang wanita paruh baya membuka pintu kamar Dea. Naya Maulita —mama Dea— juga merasakan kesedihan itu. Tapi, dia tak bisa membiarkan putrinya melewatkan makan malam. "Duluan saja, Bunda. Dea akan makan nanti, sendirian tidak apa." Dea mencoba mengulas senyuman meskipun matanya terlihat sangat jelas tampak sembab. "Dea, are you okay?" Pria dewasa yang tiba-tiba muncul dibalik punggung bundanya dan menyela untuk melangkah lalu duduk di tepi ranjang Dea ikut mengkhawatirkan wanita itu. "Apa aku perlu menjawabnya, Kak?" tukas Dea, sedetik kemudian air matanya kembali menetes. Seolah memberikan jawaban pada Rangga Christian Eijaz —Kakaknya— yang beralih menundukkan kepalanya. Rangga memeluk Dea menguatkan. Meskipun tidak tahu dengan jelas apa yang dirasakan adiknya, sebagai kakak dia ikut sedih melihatnya murung seperti ini. "Besok kakak juga akan ke tempat kejadian lagi bersama Levin. Kita pantau bareng, ya, pencariannya." Dea mengangguk dalam dekapan Rangga yang benar-benar memberikan kekuatan untuk kekasih Kalingga tersebut. "Apapun masalahnya, jangan lupa makan. Kakak percaya kamu paham maksudnya." Dea melepaskan pelukannya. Dia tersenyum, walaupun terkesan dipaksakan. Dea juga tak ingin seperti itu. Dia hanya butuh waktu sendirian terlebih dahulu. Gadis itu tak pernah benar-benar melupakan untuk makan. "Hm, Dea paham." Rangga tampak mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding yang ada di kamar wanita itu. "Sebentar lagi Levin akan datang. Bangkitlah bersama dia. Kakak rasa dia juga pria yang baik, sama seperti Kalingga. Rasa sakit itu pasti ada, dek. Tapi, kakak berharap kalau memang Kalingga ditemukan tidak bernyawa atau sudah ditetapkan meninggal kamu bisa bahagia bersama Levin, ya?" "Levin? Aku tidak berjanji bisa bahagia bersama dia. Maaf. Bagaimanapun bersama dia akan selalu ingat Kalingga. Mereka punya keluarga yang sama." "Dek, kenapa kamu waktu itu menerima diberikan pengantin pria pengganti? Kenapa kamu tidak bilang sama kakak kalau keberatan. Kita bisa bicarakan itu kalau saja kamu menolak." Tatapan hangat Rangga itu terasa menyakitkan. Dia sempat memberikan penekanan dan pilihan pada adiknya ketika Levin ditetapkan untuk menggantikan posisi Kalingga di altar pernikahan. Namun, dengan cepat Dea menyetujuinya. Entah dalam keadaan sadar atau tidak. Sejak saat itu Rangga sangat mengkhawatirkannya. "Tidak apa-apa. Aku akan menerobos rasa sakit ini selamanya. Semoga aku selalu dalam keadaan baik dan bisa mengendalikan semuanya. Aku tidak mungkin membuat malu keluarga." Rangga merangkul Dea menguatkan. "Dek, kamu tidak hamil di luar nikah. Kenapa harus malu?" sergahnya. Naya yang masih berdiri tepat di depannya putrinya itu beranjak pergi meninggalkan kamar Dea. Tak tahan mendengarkan obrolan keduanya yang membuat air matanya semakin mengalir deras, Naya memilih menjauh. "Maaf kalau kakak lancang. Kamu belum melakukannya bersama Levin, kan?" tanya Rangga ketika sudah memastikan kepergian bundanya yang tak terlihat lagi. Dea terdiam. Bahkan rasa sakit pada miliknya masih terasa sampai saat ini. Dia menundukkan kepalanya, tak ingin semuanya semakin kacau karena dirinya pun masih terlalu lemah untuk menambah masalah. Dia yakin kakaknya tak akan tinggal diam dan semuanya akan semakin rumit. Dengan kesadaran penuh, Dea menggelengkan kepalanya. "Kakak akan menghabisi Levin kalau dia berani menyakitimu. Kamu ingat? Kakak pernah menghabisi temanmu di sekolah ketika mereka tidak memperlakukanmu dengan baik waktu itu." Mengingat itu, tentu saja membuat Dea menarik tepi bibirnya. "Terima kasih, Kak. Selalu jadi pelindungku." "Kalau begitu kamu istirahat dulu. Jangan lupa keluar untuk makan, atau setelah Levin datang nanti kamu makan bersamanya." Rangga akhirnya keluar. Memberikan waktu sendirian sejenak untuk adiknya seperti yang diminta oleh wanita itu. Tak benar-benar meninggalkannya sendirian tanpa kekuatan. Sementara Dea yang kembali menatapi bingkai fotonya bersama Kalingga hanya tersenyum miris. Bagaimana bisa kisah cintanya yang selama ini mengisi hampir seluruh kebahagiaannya hancur begitu saja? Dea turun dari tempat tidurnya, meletakkan kembali bingkai itu pada tempat semula dan beralih mengambil ponsel yang dia abaikan sejak siang tadi. Berharap Kalingga menghubunginya, nyatanya tak ada nama pria itu. Hanya ada beberapa panggilan dari teman-temannya yang sengaja Dea abaikan dan juga banyaknya panggilan dari Levin. Entah ide dari mana, Dea tiba-tiba mengetikkan sesuatu pada roomchat kontak Kalingga dan mengirimkan beberapa pesan. "Where are you, Ga?" "Janji bakal balik?" "Please, hubungi aku kalau kamu lihat ini." "Aku percaya, orang-orang bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi, apa aku bisa seperti yang mereka katakan?" "Kalingga, i Miss you." Pada pesan terakhir, Dea mengetiknya dengan rasa sakit yang luar biasa. Pesannya tak masuk sama sekali atau ponsel Kalingga hancur ketika kecelakaan itu berlangsung. Kemungkinan terburuknya Kalingga benar-benar tak akan selamat. Dea terus menatapi layar ponsel. Melihat profil Kalingga yang ada di kontak pria itu tampak bersamanya. Hingga tak terasa, sudah pukul sebelas malam dan dia belum makan. Orang rumah akan semakin mengkhawatirkannya jika dia benar-benar tak makan malam. Wanita itu meletakkan ponselnya dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah sebelum keluar untuk makan, namun ketika selesai membasuh wajah dia merasa penasaran. Apakah pesannya benar-benar tak masuk? Jarinya yang bergetar dengan bibir yang terus berdoa supaya sedikit keajaiban dapat dia lihat sekarang. Dengan napas yang dihembuskan pasrah. Dea membuka aplikasi pesan tersebut dan memperlihatkan bahwa pesannya tampak menunjukkan dua ceklist yang artinya masuk menunjukkan ponsel Kalingga sedang aktif. Mata Dea membelalak sempurna, meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu bukan halusinasi. Dia langsung menekan tombol gambar gagang telepon untuk langsung terhubung. Namun, kembali terdengar suara operator yang mengatakan nomor tengah berada di luar service area. Dea menelan salivanya kecewa. Dia kembali mengecek apakah pesannya benar-benar masuk? Nyatanya memang itu yang dia lihat dan bukan halusinasi semata. Apakah dia telat menghubungi? "Kalingga?" lirihnya. Kemudian menyimpan ponselnya di d**a dengan mata terpejam sempurna dan buliran bening yang kembali menetes membasahi pipinya. ~ Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN