Beca berjalan ke pantry untuk membuat secangkir kopi yang menjadi kesukaannya. Beberapa orang menyapanya dengan ramah dibalas dengan anggukkan dan senyum tipisnya. Sudah tiga hari bos besar mereka mengadakan liburan ke Venice dan selama tiga hari itu pula Beca merindukannnya. Merindukan tatapan tajam milik sang bos, merindukan perintah tegas dari bibir seksi milik bosnya, dan merindukan segalanya yang ada pada Athan.
Saat sedang membuat kopi, terdengar sayup-sayup suara beberapa orang wanita yang dikenalnya sekretaris dari direksi baru, Deana. Sebenarnya, itu tidak mengganggu Beca, hanya saja… Beca mendengar namanya disebut, tak luput dari pendengarannya. Dia memilih untuk bersembunyi dan terus mendengar percakapan tentang dirinya.
“…saja padanya. Mungkin dia benar-benar berniat menggoda sang bos.” Sahut wanita yang tidak Beca kenali suaranya.
Deana menyahut. “Kau lihat saja penampilannya. Untuk seorang sekretaris, Beca tidak pantas mendapatkan jabatan tinggi seperti itu. Seharusnya, bos memilihku daripada wanita rendahan sepertinya.”
Jantung Beca mencelos mendengar hinaan yang terang-terangan tertuju padanya. Tiba-tiba, Beca tidak mendengar suara apapun dari keduanya. Ia mengernyit dan mencoba untuk melihat keluar apa yang terjadi. Sesaat tubuhnya membeku ditempat. Bosnya telah kembali. Berdiri pongah, sambil menatap tajam kepada dua wanita yang sedari tadi menggosipinya.
“Minta maaf pada Beca sekarang atau aku akan memecat kalian!” Suara datar dan tenang itu tidak bisa dikatakan santai karena terselip emosi di dalamnya. Athan menunjuk dua wanita itu pada Beca yang berdiri dibelakang mereka.
Deana dan teman gosipnya langsung menoleh ke belakang dan membelalak menatap Beca yang ternyata mendengar apa yang mereka katakan.
“Beca.. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menghakimimu.. Tolong maafkan aku, Beca.” Deana memelas menatap Beca penuh permohonan agar dimaafkan. Deana belum siap jika harus di depak dari kantor. Posisinya sudah sangat tinggi dengan gaji yang besar. Jika ia di depak, bagaimana ia menghidupi keluarganya?
Beca terdiam. Apakah dia harus memaafkan orang yang sudah menyakitinya? Ah~ bukankah Ibunya mengajarkan untuk memaafkan?
Beca tersenyum dan mengangguk. “Ku maafkan. Karena, apapun yang kalian katakan sebelumnya adalah kenyataan.”
Hati Deana semakin sakit mendengar nada lirih dari mulut Beca. Dia menyesal telah memfitnah wanita sebaik Beca. “Maafkan aku..” Deana menutup wajahnya dengan kedua tangannya. “Maafkan aku.”
Athan menarik napasnya dalam-dalam. Baru beberapa hari dia meninggalkan kantor, tapi para pekerjanya sudah berani menggosip, tentang sekretarisnya pula. “Aku tunggu surat pengunduran diri kalian diruanganku!” Setelahnya, Athan berbalik hendak pergi. Namun, lirihan Deana membuat langkahnya terhenti.
“Bu-bukankah anda berjanji tidak memecat saya? Saya mohon jangan pecat saya..”
Tanpa berbalik, Athan bergumam jelas. “Aku memang berjanji untuk tidak memecatmu karena kau yang akan memberikan surat pengunduran diri. Dan Beca, segera ke ruanganmu karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.” Kali ini, Athan benar-benar melangkah pergi diikuti oleh Beca dibelakangnya tanpa peduli nasib dua perempuan yang sudah menghinanya.
Beca merasakan jantungnya bertalu kencang karena Athan menolongnya langsung. Perasaannya kian membuncah memikirkan bahwa Athan mungkin memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi apakah mungkin? Dirinya hanyalah berasal dari kasta rendahan yang beruntung karena dapat bekerja sebagai sekretaris perusahaan Uistean.
Tidak!
Beca tidak bisa seperti ini. Dia tidak boleh menyimpan rasa apapun walau nyatanya rasa itu telah lebih dulu merasuk ke hatinya yang paling dalam. Ia akan berusaha untuk melenyapkan rasa yang sudah tumbuh dihatinya. Mungkin akan sulit, tapi Beca harus mencoba. Dia tidak ingin kehilangan kepercayaan yang Athan berikan padanya.
Ya, semua hanyalah demi kepercayaan…
***
Acatia sampai di London dengan tentengan koper dan beberapa tas kecil sebagai keperluannya selama di London. Dia tidak tau sampai kapan harus tinggal disini. Menghela napasnya pelan, hendak kembali beranjak namun, tiba-tiba saja badannya oleng karena seorang Pria menabraknya membuat Acatia berdecak pelan mengingat barangnya yang di dalam troli nyaris jatuh.
Berkacak pinggang dan menatap Pria tinggi di depannya yang berulang kali mengucapkan kata maaf seolah ia sedang terburu-buru. Menatapnya jengkel dan bergumam. “Dasar tidak tahu diri! Apa dia tidak memakai matanya untuk berjalan? Hah!!” Dengusnya kasar.
“Aku mendengarnya, Nona.” Tegur Pria yang memakai baju kemeja biru pucat yang melapisi badannya yang sempurna. “Lagipula, aku sudah meminta maaf.” Sekali lagi, Pria itu melirik ke kiri dan kanan seolah mencari seseorang yang menjemputnya. Sama seperti Acatia.
“Ya,ya.. Pergilah.” Acatia mengibaskan tangannya tak peduli pada Pria itu. Jika mungkin wanita lain akan terpana dan merasa beruntung ditabrak oleh Pria itu, maka Acatia hanya akan terus memaki dan menggerutu sepanjang langkahnya.
Kembali, Acatia melirik ke kiri dan kanan untuk melihat Allastair yang berjanji akan menjemputnya dan mengantarnya ke rumah Athila, hingga wajahnya yang paling rupawan terlalu mencolok diantara Pria lainnya membuat Acatia lebih mudah mengenalinya.
“Hai, sister..Welcome to London..” Allastair memeluk Acatia sejenak. “Ah.. Alona dan Mommy sudah menunggumu sejak tadi. Mereka selalu mendesakku untuk segera menjemput dan membawamu pulang.” Sungutnya namun diselipi tawa.
Acatia terkekeh. “Kalau begitu, sebaiknya kita pulang sekarang, Al.”
Allastair mengangguk dan segera merangkul bahu Acatia lalu membawa adik sepupu jauhnya itu ke mobil. Barang Acatia dibawa oleh supir keluarganya dan dimasukkan ke dalam bagasi.
“Bagaimana kabar Alisha?”
Acatia menoleh, menatap Allastai sambil menyunggingkan senyum tipisnya. “Tiga hari dia mengurung diri dikamar. Tidak ingin makan dan minum. Semua yang ia telan berakhir di closet. Penolakan Athan benar-benar membuatnya sakit.” Acatia menghela napasnya pelan. “Tapi, tiga hari setelahnya dia mencoba bangkit. Melawan rasa sakit hatinya. Walaupun susah, dia akan mencoba walaupun butuh waktu bertahun-tahu sama seperti dia yang menyukai Athan bertahun-tahun pula.”
Allastair mengacak rambut pendeknya kasar. Merasa menyesal akan apa yang terjadi pada Alisha. Namun, dia juga tidak bisa memaksa Athan untuk menikahi Alisha karena dengan begitu, keduanya akan tersakiti. Alisha yang tidak mendapatkan cinta Athan pun dengan Athan yang mencintai wanita lain. Jadi, percuma saja mereka menikah.
“Bagaimana dengan orangtua kalian?”
“Orangtua kami selalu memberikan Alisha motivasi.” Acatia kembali menatap jalanan kota London dari dalam mobil yang berlaju dengan kecepatan rata-rata. “Berharap bahwa Alisha akan kembali ceria seperti dulu.” Menahan napas sebelum melanjutkan. “Dia juga sempat mengantarku tadi pagi dan menyuruhku mengatakan pesan terakhirnya untuk Athan.”
“Kalau boleh tahu, apa itu?”
Acatia tersenyum sendu. “Alisha memintaku mengatakan pada Athan bahwa apapun yang terjadi, dia akan selalu mencintai Pria itu dan mencoba untuk melupakannya agar Athan tidak membencinya lebih jauh.”
“Ya Tuhan.. Aku tidak bisa membayangkan betapa terpuruknya dia.” Allastair bergumam pelan.
Acatia mengangguk membenarkan. “Dia juga mengatakan bahwa dirinya akan menyusulku jika kondisi mentalnya sudah siap. Lagipula, sebelum aku berangkat, Alisha mendapat penawaran sebagai model dimajalah ternama di London."
Alisha memang bekerja sebagai model di negaranya. Badannya yang ramping terkesan langsing dan juga wajahnya yang sangat cantik membuat dia mudah untuk memasuki dunia entertain. Sudah 3 tahun dia menggeluti dunia modelnya.
"Oh ya? Semoga dia bisa move on dari adikku yang sialannya tampan itu."
Acatia terkekeh sebelum mengangguk dan memilih untuk menyandarkan kepalanya dikursi belakang mobil.
***