Adio

1022 Kata
Hari ini keluarga Uistean akan kembali ke London. Jatah liburan mereka tiga hari sudah habis. Membuat mereka mau tak mau harus balik ke London untuk kembali pada kegiatan sehari-hari yakni, bekerja. Alisha bahkan tidak bersedia mengantarkan keluarganya itu karena hatinya masih terlalu sakit melihat Athan yang sudah menolaknya dan juga masih belum berani bertemu dengan Avram yang mengakui perasaannya. Andrew dan Denis maklum jika Putri sulungnya akan sangat sulit untuk diajak berbicara kepala dingin saat ini. Membiarkan Putrinya sampai baikan dan saat itu mereka akan membicarakannya dengan Alisha. "Maafkan aku, Andrew. Aku tidak menyangka liburan ini akan menjadi seperti ini. Aku bersalah pada Putrimu.." Andrew memilih berbesar hati dan tersenyum. "Tidak apa, saudaraku. Semua sudah diatur, lagipula jangan membebani hatimu dengan keadaan ini. Aku harap kau maklum jika aku, Denise, dan Alisha tidak mengantar kalian." Atreo mengangguk dan menghela napasnya pelan. Sarapan telah usai, saat ini mereka hendak bersiap-siap menuju bandara dengan diantar oleh Acatia karena Andrew harus bekerja dan Denise harus menemani Alisha yang masih berkutat di kamarnya. "Tidak apa-apa. Terimakasih atas keramah-tamahanmu, Andrew." Atreo memeluk Andrew ala Pria pun Andrew yang membalas pelukan Pria 3 orang anak tersebut. "Berhati-hatilah dijalan." Setelah, kedua keluarga itu saling pamit. Acatia memilih diam selama perjalanan ke bandara. Dirinya kini duduk bersama Uistean senior dan Athila. "Kapan kau akan pindah, nak?" Acatia mendongak dari ponsel pintarnya. Sejenak, ia tersenyum tipis. "Mungkin akhir pekan ini, uncle." Atreo mengangguk, sedangkan Athila tersenyum hangat. "Kau yakin tidak ingin tinggal dengan kami, sayang?" Pertanyaan itu membuat Acatia melirik Athan yang kini memejamkan matanya erat diseberang kursi. Menyandarkan kepalanya pada kursi kereta api. Jika Acatia memilih tinggal bersama dengan aunty dan unclenya, dipastikan ia akan bertemu setiap hari dengan Athan, dan jika itu terjadi, maka Acatia harus siap jika dirinya divonis memiliki penyakit jantung. Mengingat tatapan tajam Athan selalu membuat jantungnya berdetak keras. Oh, dia juga harus mencabut lisensinya sebagai seorang dokter bedah jantung. Terkutuklah jika itu terjadi! "Tidak, aunty. Aku ingin mandiri, agar tidak merepotkan siapapun." Jawabnya halus. Athila menghela napasnya pelan. "Sayang sekali, padahal aunty dan uncle hanya berdua dirumah. Aunty merasa kesepian saat anak-anak aunty memilih untuk hidup masing-masing dan berharap salah satu dari mereka mau tinggal dirumah." Acatia membelalakkan matanya. "Jadi, mereka tidak tinggal dengan aunty?" Athila dan Atreo menggeleng. "Mereka hanya akan dirumah setiap akhir pekan, sayang. Maka itu, aunty berharap kau bisa tinggal dirumah. Menemani aunty saat uncle bekerja." Athila menarik napasnya dalam-dalam. "Sejak dulu, aunty selalu menginginkan anak perempuan yang dapat menggenggam lengan aunty saat berjalan bersama, berbelanja bersama. Tolong sayang, tinggalah bersama aunty.." Pinta Athila membuat Acatia merasakan kesedihan seorang Ibu yang merasa kesepian disaat anak-anaknya sudah berani mengambil keputusan untuk memilih jalan sendiri hidupnya. Acatia gamang. Antara menerima atau tidak! Apakah jika ia pindah kerumah aunty Athila adalah keputusan yang benar? Melihat saat ini aunty Athila sedang berada dalam dekapan sang suami membuat Acatia luluh. Menarik napasnya dalam-dalam. "Baiklah, aunty. Aku akan tinggal dengan kalian." Seketika, wajah sendu cantik itu kembali berbinar. "Benarkah?" Acatia mengangguk mantap. "Aku akan tinggal dirumah kalian. Aku akan menemani aunty, menggenggam tangan aunty saat berjalan-jalan, berbelanja bersama. Aku akan melakukannya." Ia tersenyum tulus hingga Athila memeluk Acatia erat. "Oh, terimakasih, sayang. Terimakasih.." *** Suasana dibandara sangat padat mengingat orang-orang harus kembali ke tanah air masing-masing setelah berliburan selama 3 hari di Venice. Tidak sedikit yang memilih untuk berliburan ke kota tua nan romantis tersebut. Acatia menerima pelukan hangat dari Atreo. "Hati-hati dijalan, uncle." "Pasti, nak.." Atreo melepaskan pelukannya membiarkan istrinya untuk memeluk Acatia. Mendekap erat Acatia yang sudah dianggap sebagai Putrinya sendiri. "Tepati janjimu, sayang." Bisik Athila ditelinga Acatia membuat gadis tersebut mau tak mau tersenyum dan mengangguk. "Aku wanita yang menepati janjinya, aunty." Athila memberikan kecupan di dahi Acatia dengan lembut. Lalu, kini menatap Alona yang juga hendak memeluknya. "Jika kau sudah di London, jangan lupa untuk menghubungiku, okay? Aku tidak tahan jika Allastair terus menerus mengurungku dirumah." Acatia tergelak dan mengangguk. "Pasti, Alona. Aku akan memintamu untuk mengajakku berkeliling kota London." Kali ini, ia menatap ketiga Putra Uistean tersebut dengan canggung. Mereka tidak pernah bertemu dan bersapa terlalu sering. Hingga akhirnya, Allastair memilih untuk membuka suaranya. "Jika aku menganggap Alisha sebagai adikku. Maka aku akan menganggapmu sebagai adikku pula. Saat Alisha menyambutku kemari dengan sebuah pelukan, bolehkah aku memelukmu, adikku?" Acatia mengangguk dan menerima pelukan hangat seorang kakak. Allastair kembali berbisik. "Ingat yang aku katakan, Aca? Jangan menyakitinya.. Aku menyayangimu." Allastair mengecup dahi Acatia seperti halnya dengan yang ia lakukan pada Alisha. "Terimakasih sudah menyayangiku, Allastair." Pria itu mengangguk dan tersenyum kecil lalu menarik istrinya dan Putranya untuk segera check-in pun, dengan kedua orangtuanya. Menyisakan Avram dan Athan. Namun, Avram lebih dulu berkata. "Sampai jumpa lagi, Acatia. Sampaikan maafku pada kakakmu." Acatia menghela napasnya pelan dan mengangguk. "Aku akan menyampaikannya." Avram memeluk Acatia cepat dan secepat itu pula dia melepaskannya dan berbalik untuk menyusul keluarganya yang lain. Athan menghela napasnya dan kali ini gilirannya. Ia beranjak mendekati Acatia. Memeluk gadis itu erat membuat Acatia terkesiap karena tidak menyangka jika Pria itu memeluknya bahkan, saat kedatangannya saja Alisha tidak dipeluk seperti ini. Jangan tanyakan dari mana Acatia tau karena nyatanya, Alisha telah menceritakan seluruhnya. "Terimakasih untuk makanan beracunmu yang sangat lezat dilidahku. Terimakasih karena sudah membuatku betah disini.." Athan melepaskan pelukannya lalu menarik dagu Acatia dengan lembut membuat mata berwarna hijau terang itu menatapnya dengan bingung, kaget, sekaligus malu bersamaan. "Dan terimakasih untuk kota ini karena sudah mempertemukan kita, Acatia." Athan sedikit menjauhkan jaraknya dari Acatia. "Aku akan menunggumu, di London." Kali ini Pria berwajah stoic itu menatap lekat Acatia sebelum bergumam kembali. "Sampai jumpa, Iryn." Berbalik dan pergi meninggalkan Acatia yang masih termangu di tempatnya. Iryn? Tidak ada yang pernah memanggil nama depannya seperti itu dan apa itu tadi? Kenapa semua mendadak seperti ini? Menunggunya? Apa yang sebenarnya ada dipikiran Pria s****n yang sudah menyakiti kakaknya itu? Oh Acatia!!! Bersihkan otakmu. Mungkin saja Pria itu sedang mabuk. Jangan tergoda karena wajahnya jika sifat aslinya saja sudah mampu membuat seorang Alisha yang dikenal tak kenal airmata mampu menangis. Mengenyahkan segala pikirannya. Acatia berbalik hendak pulang, namun tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk dari orangtuanya yang pastinya akan menanyakan keluarga Uistean yang sudah berangkat.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN