Onestà

1156 Kata
“ATHAN!!” Suara keras itu membuat semua terperanjat. Atreo menatap Putranya murka karena sudah membuat Alisha menangis. Menolak perjodohan yang dilakukan bertahun-tahun lalu. “Daddy tidak mau tau! Kau akan tetap menikahi Alisha, apapun yang terjadi.” Athan mengepalkan tangannya erat. Disampingnya ada sang Ibu yang kini terisak karena pertengkaran suami dan anaknya. Bahkan, Andrew hanya diam, tidak mengatakan apapun pun dengan Denise yang kini memeluk Putrinya erat.Allastair dan Avram sendiri sudah berdiri disamping Ayahnya berusaha untuk menenangkan Ayahnya yang dipenuhi oleh emosi. Acatia hanya memilih bersandar dipintu utama sambil bersedekap d**a. Memperhatikan semuanya yang sedang mencoba menyelesaikan masalah. Dia sudah berbicara dengan Athan, dan Pria itu tetap pada pilihannya. Lantas, Acatia tidak bisa melakukan apapun lagi dan hanya menonton drama tersebut dalam diam. “Aku tidak apa-apa..” Sela Alisha dengan suara lemah, banyaknya airmata yang ia keluarkan membuat tenaganya berkuras. “Mungkin Athan memang tidak menyukaiku dan aku tidak akan memaksanya lagi.” “Diamlah, Alisha! Apapun yang terjadi kalian akan tetap menikah.” Pandangan Atreo menatap Athan dengan tajam. “Suka atau tidak suka!” “Jangan memaksanya, Atreo. Aku hanya ingin kebahagiaan Putriku..” Kali ini Andrew menyela dengan suara lembut. “Lagipula, jika Athan tidak menginginkan pernikahan ini, tidak apa-apa. Toh, mungkin Athan sudah menemukan penggantinya, bukan?” “Benar begitu, Athan? Apa kau sudah menemukan wanitamu sendiri? Siapa dia? Apakah lebih baik dari Alisha?” Atreo memberondong Athan dengan pertanyaan-pertanyaan. “Dad, tenanglah. Biarkan Athan memberikan penjelasannya.” Kali ini Allastair mencoba untuk bersikap bijak. Athan menghela napasnya pelan. “Kenapa tidak Avram saja yang Daddy nikahkan duluan? Lagipula, umurku masih terlalu muda untuk menikah. Kenapa tidak Daddy jodohkan Alisha dengan Avram?” “Athan!” Avram menyela dengan sorot mata tajam. Athan menaikkan sebelah alisnya, menatap Avram mengejek. “Bukankah kau menyukai Alisha?” Pertanyaan Athan membuat semua orang bungkam. Wajah Avram memerah karena malu sekaligus marah. Tidak menyangka jika adiknya membuka rahasianya. “Aku tidak!” “Kau, YA!” Balas Athan tak mau kalah. “Sejak dulu kau menahan diri karena menyukai Alisha, namun sayangnya dia dijodohkan denganku. Sampai kita liburan disini dan kau berpura-pura mengatakan bahwa kau menyukai Acatia. Bukankah begitu, Avram?” Acatia langsung berdiri tegak mendengar namanya disebut. Tidak menyangka dirinya dijadikan sebuah alat sebagai pelampiasan sakit hati kakak sepupu jauhnya. “Benar seperti itu, Avram?” Kali ini Atreo menatap Putranya yang sudah terduduk lemas sambil mengusap wajahnya kasar. Mengelakpun percuma hingga akhirnya Avram mengangguk pelan. Menatap Alisha yang kini terbelalak kaget dengan sendu. Atreo terduduk lemah disofa. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada Acatia yang berdiri dibelakang mereka dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lalu, mata Atreo beralih pada Alisha yang semakin terisak mendengar pengakuan Putra keduanya. “Bagaimana menurutmu, Alisha?” Alisha terkesiap. Tidak tau harus menjawab apa karena nyatanya dia gamang akan pilihannya. Bertahan pada Athan tidak mungkin. Namun, memilih Avram pun, menyakiti hatinya sendiri. Tapi, bukankah dia bisa mencoba menjalaninya dengan Pria yang selama ini selalu ada untuknya? “Aku.. tidak tau, uncle.” Jawabnya lemah. Alisha berdiri dan menatap satu persatu keluarganya dengan sendu hingga tatapannya mengarah pada Acatia yang masih bersedia bersandar dipintu. “Kau tahu, Acatia…” Alisha tersenyum miris. “Selama ini aku terlalu naif.” Gumamnya dan segera berbalik menuju kamarnya. Seketika, hening kembali terjadi. Tidak ada yang membuka suara. Acatia menghela napasnya panjang dan melangkah menuju ke keluarganya. “Aku akan mencoba bicara dengan Alisha.” Ia segera melangkah masuk ke kamar Alisha mencoba untuk menghibur kakaknya walau dia tahu itu tidak akan berhasil mengingat Acatia tidak pernah bergurau dengan wajah datarnya. ***   “Acatia…” Gadis itu menoleh. Menatap Pria yang beberapa hari dirumahnya dengan bingung. Dia tau bahwa Pria ini adalah Putra pertama dari keluarga Uistean. Allastair. Menikah dengan seorang model terkenal bernama Allona dan memiliki anak tampan yang mirip dengan dirinya. Namun, yang menjadi pertanyaan dibenak Acatia adalah kenapa Pria ini menemuinya? “Ya?” Pria itu tersenyum ramah. Berbeda sekali dengan adik bungsunya yang sepertinya harus diajari cara tersenyum dengan baik jika ingin memikat seorang wanita. Tapi, apa itu perlu? Bukankah jika sekali dilihat wanita akan langsung jatuh begitu saja dalam pesonanya. Ah.. Acatia terlalu banyak berpikir hingga hampir lupa jika Allastair mungkin ingin mengajaknya bicara. “Bagaimana keadaan Alisha?” Acatia menghela napasnya dan kembali menatap halaman belakang rumahnya. Ia baru saja dari kamar Alisha, namun gadis itu bahkan tidak ingin membuka suaranya dan hanya memilih untuk menangis terus-menerus. Jujur saja, Acatia tidak pernah merasakan sakit hati karena biasanya dia yang mematahkan hati Pria. Kejam memang. Tapi, begitulah Acatia. Tidak ingin dibodohi oleh Pria apalagi Pria yang isi otaknya hanya s**********n wanita saja. “Aku tidak berhasil membujuknya.” Acatia mengangkat bahunya. “Sepertinya dia benar-benar sakit hati karena penolakan dari Athan dan juga pengakuan Avram.” Acatia menghela napasnya panjang. Allastair mengangguk. Kedua tangannya sudah tenggelam disaku celana pendeknya. “Maafkan sikap adik-adikku sudah membuat saudaramu terluka.” “Tidak perlu.” Sahutnya cepat. “Mereka harus meminta maaf sendiri pada yang bersangkutan. Lagipula, aku juga sudah mengingatkan Alisha sejak awal, namun dia terlalu keras kepala untuk tetap pada pilihannya, mencintai Athan.” “Aku tau.” Allastair menghela napasnya. “Aku mengenal Alisha sejak kecil dan saat itu pula dia mulai menempel pada Athan. Dulu, Athan tidak bersikap sedingin ini. Dia hangat, terlalu hangat untuk seorang Alisha. Apapun yang Alisha inginkan terpenuhi. Dia juga maju yang paling depan saat Alisha tersakiti. Mungkin karena hal itu juga, Alisha mulai menumbuhkan rasa yang tidak seharusnya ada. Hingga…” Pria berambut coklat gelap itu menerawang ke langit tanpa bintang. “Hingga?” Acatia penasaran. Apa yang sudah membuat Athan berubah jika dulu dia sebaik itu pada kakaknya. Allastair menoleh menatap Acatia sejenak sebelum melanjutkan. “Hingga keluarga memutuskan mereka untuk dijodohkan. Sikapnya menjadi berubah 180 derajat. Dingin dan tak tersentuh. Alisha bahkan kecewa melihat sikap Athan yang tidak lagi memperdulikannya hingga dia memilih untuk berbesar hati menerima sikap Athan dan seluruh kekurangannya.” Acatia terdiam. Apa yang salah dari perjodohan itu? “Athan ternyata menganggap Alisha sebagai adiknya.” Senyuman ironi muncul dibibir sang Pria. “Dan saat merencanakan perjodohan itu, Athan sudah memiliki gadis kecilnya di London. Gadis yang membuatnya tahu arti rasa sakit dari akibat mencinta. Gadis yang sudah mengambil seluruh hatinya dan gadis yang sudah membuatnya terpuruk.” Allastair mengepalkan tangannya erat. Emosinya mulai naik mengingat bagaimana dulu Athan menderita karena ditinggal oleh Zee. Bahkan, Allastair nyaris membunuh wanita itu kalau saja dia tidak ingat pada Athan yang menahan keinginan untuk membunuhnya. “Jangan katakan apapun padanya tentang ini.” Kali ini suara Allastair lebih ke memohon sambil menatap Acatia dalam-dalam. “Dia akan marah besar dan…” Napasnya sedikit gusar sebelum melanjutkan. “Jangan pernah menyakitinya.” Karena aku tau, Athan memiliki rasa padamu, Acatia.. Rasa yang selama ini mati tertelan kegelapan dirinya. Aku serahkan dia padamu… Allastair beranjak pergi meninggalkan Acatia yang masih sibuk mencerna kalimat-kalimat yang Allastair katakan.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN