Bulan berpendar indah menyambut malam, kesunyian kini melingkupi dua orang yang saling bertatap satu sama lain. Memilih untuk duduk dihalaman belakang rumah. Jalan-jalan hari ini cukup melelahkan sebenarnya, namun Alisha tidak bisa menahan diri lebih lama dan mengajak Athan untuk berbicara berdua. Sudah bertahun-tahun Alisha menyimpan perasaannya pada Pria yang kini lebih tua dua tahun darinya itu.
“Apa yang ingin kau katakan, Alisha?” Desisnya tajam. Jujur saja, Athan sudah merasa lelah. Belum lagi besok mereka berangkat ke London. Pekerjaan sudah menumpuk menunggu dirinya untuk dibelai. “Aku lelah. Tidak bisakah kau menundanya hingga esok pagi?”
“Besok kau akan pulang.” Alisha menyahut cepat. “Aku tidak yakin kalau besok kau mau berbicara denganku.”
Keduanya kembali hening. Tidak terlalu lama karena Alisha langsung melanjutkan ucapannya. “Kau pasti sudah tau apa yang ingin kukatakan dengan mengajakmu berbicara empat mata.” Alisha menghela napas panjang. “Mengenai perjodohan kita…”
Athan terdiam. Menenggelamkan kedua tangan kokohnya disaku celana pendeknya berwarna cream.Mengepalkan tangannya disana dengan kuat sementara rahangnya terkatup rapat. Seolah semua yang dilakukannya adalah menyembunyikan emosinya dengan tidak menjadikan Alisha pelampiasan. Athan bukan melarang Alisha menyukainya, hanya saja dia sudah meyakinkan Alisha untuk tidak berharap banyak padanya.
Tapi, gadis itu terlalu keras kepala. Membuat Athan secara naluriah langsung mencium bibir Alisha membuat gadis itu terbelalak karena kaget. Ciuman itu begitu kasar. Tidak memiliki perasaan dan hanya emosi yang terkandung disana.
Athan langsung melepaskan ciumannya hanya dalam waktu beberapa detik. Memperhatikan sejenak tingkah Alisha yang malu-malu. “Kau tahu, setelah menciummu, ku pastikan bahwa aku memang tidak merasakan apapun padamu, Alisha.”
Masih dengan matanya menatap Alisha intens. “Kuharap setelah ini kau tidak akan memaksa perjodohan s****n itu.”
Alisha menatap Athan dengan nanar. Ia berpikir bahwa Athan menciumnya karena membalas perasaannya, namun? Ciuman itu hanya ingin membuktikan kepada Alisha bahwa dia sama sekali tidak memiliki perasaan padanya.
“Kau akan menemukan lelaki baik, Alisha.” Setelahnya, Athan segera beranjak meninggalkan Alisha dengan mata berkaca-kaca mengeluarkan tangis.
“Kenapa kau tidak bisa membuka sedikit hatimu untuk melihatku, Athan?” Isaknya membuat langkah Pria itu berhenti.
Tanpa berbalik, Athan menjawab mantap. “Karena aku memang bukan diciptakan untukmu, Alisha!” Kali ini, Athan benar-benar beranjak meninggalkan Alisha yang meraung keras.
Sampai dipintu belakang, Athan menatap Acatia yang kini menatap kakaknya sedang terduduk dan menangis. Dia melihat semuanya. Sejak ciuman bahkan sampai sekarang. Dia melihatnya. Awalnya, Acatia ingin memanggil kakaknya dan Athan untuk makan malam, namun melihat mereka berciuman menunda keinginannya untuk berteriak dan mendengar semuanya. Semua tanpa sisa hingga kini dia berhadapan dengan Pria yang sudah menghancurkan hati sang kakak.
Menatap nanar pada Athan yang kini balas menatapnya dengan sorot dingin, seolah tidak memiliki hati. Acatia menghela napasnya kasar dan memilih untuk menyamping membiarkan Athan lewat. Setelah, dikiranya Athan berjalan jauh dibelakangnya, Acatia berlari dan segera memeluk Alisha erat.
“Dia menolakku..” Gumamnya sambil terisak. “Dia menolakku, Aca..”
Acatia menatap pilu wajah kakaknya yang penuh dengan airmata. Ingin dirinya memarahi sikap semena-mena Athan, tapi itu bukanlah haknya. Lagipula, bukankah Athan pernah mengatakan padanya bahwa dia memang tidak menyukai kakaknya? Athan bahkan sudah lebih dulu menghentikan harapan pada Alisha, hanya saja Alisha yang terlalu keras kepala untuk mencoba merebut hati sang pujaan.
“Ada apa ini?” Avram tiba-tiba menyela melihat keduanya sedang berpelukan dalam isak tangis yang memilukan. “Alisha, ada apa denganmu?”
Alisha tidak menjawab apapun. Dirinya hanya terisak semakin keras membuat Acatia langsung menatap Avram datar. “Bisakah kau temani kakakku? Aku ingin menemui seseorang.”
Avram mengangguk lalu menggantikan posisi Acatia yang kini memeluk Alisha dan berusaha menenangkan gadis tersebut.
Acatia menarik napas dalam-dalam dan beranjak meninggalkan Alisha bersama Avram. Ia melangkah mencari sang tersangka yang entah berada dimana saat ini. Mencoba memutar otaknya, dan pilihan Acatia adalah kamar Athan.
Tok. Tok. Tok.
Masih dengan kesopanan yang tersisa, Acatia mengetuk pintu kamar Pria yang sudah menghancurkan hati kakaknya tanpa sisa. Beberapa kali ia mengetuk namun tak ada jawaban. Dirinya mulai kesal. Jika sekali lagi dia mengetuk dan tidak ada jawaban, Acatia akan masuk menerobosnya.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk.”
Akhirnya…
Menghela napasnya lega, Acatia memasuki kamar dengan aroma maskulin tersebut. Matanya memindai seluruh kamar hingga akhirnya ia menatap Athan dengan handuk putih membungkus pinggangnya. Memperlihatkan dengan jelas otot-otot diperut datarnya. Rambut potongan pendeknya yang basah sedang dilap dengan handuk kecil membuat penampilan semakin seksi. Tanpa sadar semburat merah muncul dikedua pipi Acatia.
“Maaf.. A-aku akan kembali nanti.” Acatia hendak kembali setelah Athan selesai memakai baju. Namun, tangan besar itu lebih dulu menahan langkahnya.
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Tentang Alisha, bukan?” Athan berujar santai dan beranjak ke pintu kamarnya lalu menutupnya karena Acatia masuk tanpa menutup pintu kamarnya. Hal itu, membuat Acatia gemetar ketakutan. Berdua dikamar seorang Pria yang nyaris t*******g.
Terkutuklah dirinya!
“Nan-nanti saja.” Sahutnya gagap. Sejujurnya, Acatia tidak sanggup untuk berlama-lama dibawah tatapan Athan. Emosi yang sedari tadi berada diubun-ubunnya langsung menguar begitu saja tanpa tersisa. “Setelah kau memakai pakaianmu.”
Athan terkekeh pelan. Menyadari bahwa gadis itu gugup karena nyatanya Acatia sama sekali tidak berani menatapnya dan memilih memunggunginya. Kesempatan itu digunakan Athan untuk memakai celana kain pendeknya tanpa memakai baju. Toh, dirinya hendak tidur.
“Berbaliklah. Aku sudah mengenakan celana.”
Acatia berbalik dan menatap Athan yang sudah mengenakan celana pendeknya walaupun bagian atasnya tidak tertutupi apapun, namun tetap saja wajah Acatia memerah. Ini pertama kalinya ia melihat d**a seorang Pria. Ingin dirinya menyentuh bisep-bisep yang tercetak jelas disana.
Ya Tuhan.. Kenapa ada orang sesempurna dia? Pikir Acatia. Wajar jika kakaknya sangat mencintai Pria itu.
Menggeleng kepalanya kuat-kuat untuk melupakan pikiran-pikiran yang berkecamuk di otaknya. Menatap Athan dengan datar, berusaha untuk tenang walau tangannya kini saling memilin gugup.
“Alisha..” Acatia berdeham. Suaranya mendadak serak. Tanpa sadar, dirinya sudah b*******h. s****n!
Athan menahan senyum gelinya. Tahu bahwa Acatia masih menahan hasratnya sekaligus malu karena hanya berdua diruangan ini.
“Kenapa kau melakukan itu pada Alisha? Maksudku.. Bisakah setidaknya kau lebih baik dalam berkata-kata? Dia mencintaimu dan menyukaimu sejak lama. Itu yang ku tau. Tapi, kenapa kau.. maksudku kenapa kau semudah itu mencampakkannya?”
Athan menghela napasnya. Menatap lekat pada gadis yang kini menatapnya dengan gurat kekecewaan. Ia tau, sudah mengecewakan Acatia melalui Alisha.
“Sudah ku katakan berulang kali kalau aku tidak pernah menyukainya!” Sahutnya tegas dan berjalan menuju ranjang, lalu memilih duduk disana. Kembali menatap Acatia dengan datar. “Aku bahkan tidak pernah memberinya harapan.”
“Ya, kau memberinya, Athan! Kau menciumnya, jelas saja kau melambungkannya ke langit sebelum kau hempaskan dia ke bumi dengan kasar!” Kali ini, emosinya lebih dominan dari rasa gugupnya.
Athan menyipit tajam. “Aku menciumnya hanya untuk memberikan penjelasan nyata bahwa tidak ada perasaan antara aku dan dia. Karena aku..” Athan kehilangan kata-katanya, sebelum melanjutkan. “Tidak menyukainya.”
“Apakah kau sudah memiliki wanita lain disana?” Pertanyaan yang tak disangka muncul dari bibir mungil Acatia membuat Athan menatapnya dengan mata menyipit.
“Tidak! Tapi, aku menemukan gadis lain disini. Di Venezia.” Sahutnya lugas membuat Acatia membelalak.
Bagaimana bisa dia menemukan gadis lain disini? Kapan mereka bertemu? Apakah saat liburan tadi? Tapi, Acatia memang tidak banyak menuntut dan lebih memilih mengangguk samar.
“Maafkan aku.. Aku hanya kecewa karena kau menyakiti kakakku. Semoga beruntung dengan gadis pilihanmu.”
Acatia berbalik dan berjalan menuju pintu kamar. Saat tangannya hendak membuka knop pintu, Athan bergumam pelan. “Ya, doakan saja yang terbaik.”
***