Vacanza

962 Kata
"Kau menang satu langkah dariku. s****n! Tau gini aku tidak ikut saja tadi berjalan-jalan. Bagaimana dia? Apakah ramah?" Avram menghela napasnya lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Aku pikir dia wanita yang susah didekati." Athan melirik kakak keduanya sekilas yang tidak berhentinya menggerutu sejak kepulangannya, lalu kembali menatap ponselnya sambil bergumam. "Dia cerewet, ketus, dan jelek." Sahutnya datar tanpa minat. "Haha.. Jangan mengibuliku, brother. Aku tau kau menyukainya.." Avram menepuk pundak Athan beberapa kali dengan pelan. "Tapi, sepertinya kau tidak bisa bersamanya. Bukankah kau sudah dijodohkan dengan Alisha? Jadi, biarkan aku mendapatkan adiknya." Ucapan yang Avram lontarkan membuat rahangnya mengeras. Tidak! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi karena bagaimanapun, Acatia hanya miliknya dan akan menjadi miliknya. "Lagipula..." Avram berdehem sebelum melanjutkan. "Alisha sejak tadi membicarakanmu. Ayolah, tidak bisakah kau membuka hati untuknya? Dia menyimpan perasaannya sudah bertahun-tahun." Athan menghela napasnya kasar. "Keluarlah. Aku ingin tidur." "Baiklah." Avram memilih untuk mengalah karena melihat adiknya yang memang sedang tidak bersemangat untuk diajak bersenda gurau. *** "Apa saja yang kau lakukan dengannya sejak tadi? Bagaimana menurutmu? Apakah dia baik? Tentu saja. Dia sangat sempurna, bukan?" Menggelengkan kepalanya malas melihat kakaknya tidak berhenti bertanya sejak tadi. Dan yang anehnya, pertanyaan itu dijawab lagi oleh dirinya sendiri. Sepertinya Alisha mulai memiliki penyakit kelainan jiwa. Apakah Acatia harus membawa Alisha menemui bagian psikologis? "Acatia!!" Sentak Alisha membuat Acatia menghela napasnya pelan. "Hmm?" "Iiishh.. Katakan apa-apa saja yang kau lakukan dengannya?!!" Acatia mengangkat bahunya. "Hanya mengobrol." Sahutnya singkat. Acatia tidak ingin Alisha mengetahui bahwa mereka juga makan malam karena pasti pertanyaan yang dilontarkan Alisha akan lebih banyak dan membuat dirinya susah. "Sudahlah. Aku ingin tidur!" Dia memilih berbaring. Menarik selimut dan memunggungi kakaknya. Lalu, mematikan saklar lampu. Secara tidak langsung Acatia mengusir Alisha. "Sudahlah. Percuma bicara denganmu!" Sungutnya lalu segera beranjak keluar dari kamar Acatia. Sepeninggal Alisha, Acatia memilih tidur terlentang. Tangan kanan ia letakkan di dahi. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Jujur saja, perkataan yang Athan ucapkan tentang perjodohan sebelumnya sedikit mengganggu benaknya. Apa benar mereka sudah dijodohkan sejak dulu? Tapi, kenapa dirinya tidak tau sama sekali? Atau Ayah dan Ibunya sengaja menyembunyikan rahasia ini darinya? Tapi, kenapa? Ia menghela napasnya pelan. Kenapa dia harus berpikir keras jika nyatanya itu bukanlah urusannya. Ah, sudahlah. Sebaiknya dia tidur karena besok harus menemani keluarga Uistean itu berjalan-jalan. *** Cuaca hari ini sangat cerah. Acatia memilih memakai gaun floral menjuntai hingga ke mata kaki dengan tali sejari dibahunya. Kacamata hitam yang bertengger dihidung mancung nan mungil menutupi kedua matanya yang indah. Serta tak lupa topi fedora yang terbuat dari rajut semakin menyempurnakan penampilannya. Tidak hanya Acatia, bahkan seluruh keluarganya disana. Alisha sendiri memilih memakai hot pants dengan baju blouse warna putih tanpa lengan, kaca mata hitam dan juga topi boater. Sejak tadi dirinya tidak berhenti-hentinya untuk mengekori Athan kemanapun Pria itu pergi. Mereka tidak memesan tiket vaporetto yang merupakan bus air distasiun S. Lucia. Harga tiketnya bermacam-macam. Ada yang 14 euro bahkan 31 euro dan itu semua tergantung dari jam pemakaian. Bentuk tiketnya kecil dan hanya berupa kertas, harus dimasukkan atau divalidasi ke dalam mesin berwarna kuning yang ada disetiap pier/dermaga. Dua keluarga itu memilih untuk menyewa kapal karena tidak ingin berdesak-desakan dengan penumpang lainnya. Acatia memilih untuk berdiri dipagar pembatas kapal tersebut. Menatap pemandangan didepannya yang dipenuhi bangunan-bangunan yang berada di dalam air. "Kau sangat menikmatinya." Acatia menoleh kesamping. Athan berdiri tepat disampingnya. Memakai kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya yang terbentuk sempurna. Mengenakan kaos v-neck berwarna abu-abu gelap dan celana bahan selutut berwarna hitam. Tak lupa, kedua tangan yang tenggelam di saku celana pendeknya. Tidak ingin terpukau terlalu lama, Acatia kembali menatap hamparan gedung sederhana dan mengangguk. "Lumayan. Aku suka melihat kota gondola. Kadang saat aku libur, aku lebih memilih kemari dari pada keluar negeri. Artistik bangunannya mengagumkan membuat siapapun akan terpukau." "Aku juga." Sahut Athan dengan mata menatap Acatia intens. Dia benar-benar terpukau melihat kecantikan Acatia. Sayangnya, Acatia tidak mengerti maksud dibalik ucapan Athan hanya mengendikkan bahunya tak acuh. "Dimana Alisha?" Acatia memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Menoleh kiri dan kanan untuk melihat keberadaan kakaknya. "Bukankah dia bersamamu?" "Didalam." Sahut Athan singkat. "Oh." Acatia kembali memilih diam. Jujur saja, dia belum terbiasa berdekatan dengan Athan. Pria ini terlalu mengintimidasinya melalui tatapannya yang tajam dan itu membuat Acatia merasa tidak nyaman. "Apa yang kalian lakukan disini?" Alisha berujar membuat Acatia dan Athan menoleh bersamaan. Disamping Alisha ada Avram yang tengah menatap keduanya menyelidik. Avram tahu bahwa ada yang Athan sembunyikan karena tidak biasanya Athan menegur wanita duluan. Mengajaknya berbicara dan mendekatinya terang-terangan. Keduanya melangkah mendekat. Alisha memilih untuk berdiri di tengah-tengah Athan dan Acatia membuat jarak kedua orang itu merenggang. Sedangkan Avram memilih berdiri disamping Acatia. "Hay.." Avram menyapa Acatia. Acatia hanya mengangguk dan tersenyum karena ini pertama kalinya Avram mengajaknya bicara. "Aku Avram. Putra kedua dari keluarga Uistean." Avram mengulurkan tangannya. Acatia membalas uluran tangan Avram. "Acatia." "Avram, berhati-hatilah pada Acatia." Kali ini Alisha menyela perkenalan keduanya. "Dia bisa saja memakan hatimu dengan kata-katanya." "Tidak apa-apa. Aku bahkan rela jika Acatia memakan jantungku sekalipun." Acatia menatap Avram tidak percaya. Pria ini terang-terangan menunjukkan rasa sukanya. Tapi sayang, Acatia tidak tertarik. "Wow.. Ada apa ini? Apa kau mulai menaruh hati, Avram?" Alisha bertanya dengan menggoda. Avram terkekeh pelan. "Mencoba tidak ada salahnya, bukan?" "Ehm!" Deheman itu berasal dari Pria yang disamping Alisha. Athan sejak tadi menjadi penyimak yang budiman. Dia benci melihat Avram yang terang-terangan menyukai wanitanya. Wanitanya? Benar. Tidak lama lagi Athan akan menjadikan Acatia sebagai wanitanya. Ya, hanya wanitanya. "Aku pergi." Lanjutnya kemudian. "Aku ikut denganmu!" Pekik Alisha dan langsung mengikuti langkah lebar Athan meninggalkan Acatia dan Avram berdua. Kali ini, Acatia memilih diam. Tidak ada kata-kata yang dikeluarkannya. Avram sendiri lebih memilih menikmati pemandangan sekitarnya. "Aku masuk dulu." Acatia meminta izin agar terlihat sopan untuk masuk ke dalam. Kakinya juga mulai pegal seolah memprotes dirinya untuk duduk.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN